Maulid Nabi
Telur Merah dan Tradisi Tionghoa
Para perantau asal Tiongkok yang telah ribuan tahun merantau dan ada yang menikah dengan para keluarga ketiga kerajaan besar di Sulsel.
Penulis: Muh. David Aritanto | Editor: Suryana Anas
Laporan Wartawan Tribun Timur, Moeh David Aritanto
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -Dari berbagai daerah di Indonesia. Cuma di Sulawesi Selatan yang identik dengan telur merah saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Tahukah Anda dari mana asal telur merah? Telur merah adalah tradisi dari suku Tionghoa. Saat mereka kelahiran anak bayi, saat cukur pertama bayi dan berulang tahun.
Para perantau asal Tiongkok yang telah ribuan tahun merantau dan ada yang menikah dengan para keluarga ketiga kerajaan besar di Sulsel.
Seperti Payung nga ri Luwu, Mangkao ri Bone dan Sombaya ri Gowa. Inilah yang tersebut Tionghoa peranakan atau Chau Sen.
Mereka kerap disapa Baba' bagi kaum lelakinya. Dan Nona bagi kaum wanitanya.
Keluarga para Baba' dan Nona ini, tidak semuanya Muslim. Tetapi berdasar dari agama apa yang dianut kedua orangtuanya. Bisa saja, Ayahnya Khong Hu Cu, Ibunya Buddha. Bahkan ada yang anaknya atau familinya yang Muslim.
Di Makassar, diera tahun 1970 an kebawa Tionghoa pernakan kerap ikut merayakan perayaan maulid Nabi Muhammad SWA.
Peryaan digelar dengan cara memesan Kaddo Minyak dilengkapi ayam kampung goreng dan telur merah yang tertusuk bambu dan dihiasi kertas minyak. Mereka yang non Muslim pantang membuatnya sendiri. Meski mereka tahu buat sendiri.
Mereka selalu berprinsip. Sesuatu yang diperuntukan mengenang Nabi Muhammad SAW. Pantang dibuatnya kalau belum sunat atau bukan Muslim.
Setelah pesanan Koddo Minyak yang lengkap lauk pauk dan telur merah tertancap di atasnya. Mereka bawa ke masjid-masjid yang terdekat. Untuk ikut didoakan keluarganya oleh Imam masjid. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/maulid-sma1_20160116_095702.jpg)