Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Dusun Holiang Maros Memprihatinkan, Begini Kondisinya

Hal tersebut disebabkan, akses ke dusun tersebut masih menggunakan jalan setapak. Warga setempat hanya mengendarai motor untuk menuju ke rumahnya.

Penulis: Ansar | Editor: Anita Kusuma Wardana
TRIBUN TIMUR/ANSAR
kondisi SD 144 Holiang Holiang juga memprihatinkan. SD yang memiliki 35 murid ini terbuat dari kayu dan memiliki dua ruangan utama. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Ansar Lempe

TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Tim Observasi Bina Desa yang dibentuk Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Indonesia (HPPMI) Maros Komisariat UIN Alauddin mengunjungi salah satu Dusun di pedalaman Kabupaten Maros, Kamis (24/11/2016).

Dusun sejuk dan berada di pegungungan tersebut yakni Holiang, Desa Cenrana Kecamatan Camba Kabupaten Maros. Meski menyimpan keindahan alam, namun lokasi tersebut susah diakses.

Hal tersebut disebabkan, akses ke dusun tersebut masih menggunakan jalan setapak. Warga setempat hanya mengendarai motor untuk menuju ke rumahnya.

Ketua HPPMI Maros Komisariat UIN Makassar, Muhammad Asyraf mengatakan, kondisi Dusun tersebut sangat memprihatikan. Sarana seperti masjid, sekolah dan akses jalan belum tersentuh oleh pembangunan.

"Jalan setapak yang ada hanya bisa dilalui motor. Masjid yang terbuat dari batu dan kayu sudah rapuh dan membahayakan jamaah. Hanya ada sebuah sajadah kusut dan beberapa lembar karpet," katanya.

Sementara Alquran yang ada hanya tiga buah dan itupun sudah lapuk dan hampir tidak bisa terbaca dengan jelas.

Selain itu, kondisi SD 144 Holiang Holiang juga memprihatinkan. SD yang memiliki 35 murid ini terbuat dari kayu dan memiliki dua ruangan utama.

"Kedua ruangan ini hanya dibatasi dengan dinding tripleks. Satu ruangan untuk guru dan satu lagi untuk ruang belajar. Ruangan tersebut digunakan menjadi enam kelas," katanya.

Minimnya stok buku membuat murid ketinggalan pelajaran. Buku yang disiapkan terbitan awal 2000-an yang sudah dimakan rayap. Hanya ada beberapa buku terbaru. SD ini masih menggunakan papan tulis dan kapur.

"Warga disana juga masih mengunakan kayu bakar untuk memasak. Sebagian besar warga  belum mengetahui bahasa Indonesia dan hanya paham dengan bahasa Bugis," ujarnya

Sebagian besar, bocah terpaksa putus sekolah karena orangtuanya lebih memilih anaknya menjadi petani dan beternak dibanding bersekolah.

Mahasiswa tersebut akan kembali ke dusun tersebut untuk melakukan bakti sosial dan mengajak dermawan yang ingin ikut berpartisipasi menyumbangkan buku-buku anak, Alquran, Sajadah dan lain-lain dengan menghubungi  082349110225.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved