Penuh Misteri, Inilah Pesan Terakhir Sutan Bhatoegana
Max menuturkan, dia sempat berkomunikasi dengan Sutan sebelum almarhum meninggal dunia.
TRIBUN-TIMUR.COM - Politisi Demokrat Sutan Bhatoegana meninggal dunia Sabtu, 19 November pukul 08.00 WIB di RS Bogor Medical Center (BMC).
Sebelumnya sutan diberitakan tengah menjalani pengobatan kanker hati.
Foto-foto Sutan yang tampak sangat kurus dan terbaring dirumah sakit sempat jadi perbincangan di media sosial.
Dalam salah satu fotonya dengan Max Sopacua kondisi Sutan tampak sangat berbeda dibanding saat dia masih aktif berpolitik.
Max menuturkan, dia sempat berkomunikasi dengan Sutan sebelum almarhum meninggal dunia.
Mereka bahkan sempat saling bercanda dan tertawa bersama.
"Memang, kondisi terakhir almarhum menurun, sehingga dipindahkan ke ruangan ICU (Intensive Care Unit)," kata Max saat mendatangi rumah duka di Bogor (19/11).
"Waktu menjenguk, kami tidak berbicara apa pun, melainkan bercanda untuk memberi semangat."
Namun tiga hari sebelum meninggal kepada Feldy Taha, salah satu pengacaranya Sutan menyampaikan sebuah pesan tentang kasusnya.
Pesan tersebut terkait dengan laporan Sutan ke Bareskrim Polri mengenai kesaksian palsu dua orang saksi di persidangan suap untuk anggota Komisi VII DPR.
Kasus tersebut menjerat Sutan dan membuatnya dikenai hukuman 12 tahun penjara.
“Ada dua orang yang dilaporkan. Karena kesaksian palsu,” kata Feldy.
Kesaksian dua orang yang disebut palsu tersebut, kata Feldy, memberatkan Sutan di persidangan.
Sutan meminta laporan itu di-follow up tim pengacara.
“Kami diminta untuk follow up. Itu pesan yang beliau sampaikan,” tutur Feldy.
Penyakit Kronis
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Politikus Partai Demokrat sekaligus mantan anggota DPR RI, Sutan Bhatoegana Siregar meninggal dunia.
Dia menghembuskan nafas terakhir pada Sabtu (19/11/2016), pukul 08:00 WIB, di Rumah Sakit BMC Bogor, Jawa Barat, pada usia 59 tahun.
Rencananya akan dimakamkan di pemakaman Giri Tama, Tonjong, Parung, Bogor, setelah disemayamkan di rumah duka, Villa Duta, Jalan Sipatahunan nomor 26, Bogor.
Mantan Ketua Komisi VII DPR RI periode 2009-2014 tersebut meninggal dunia karena kanker hati dideritanya sejak diterungku.
Dalam beberapa bulan terakhir sebelum meninggal dunia, kondisi kesehatan Sutan terus menurun lantaran depresi akibat mendekam di balik jeruji besi.
Pihak Lapas Sukamiskin Bandung pun melarikannya ke rumah sakit.
Dia telah tiga kali pindah rumah sakit.
Awalnya dirawat di RS Hermina Bandung, kemudian dipindahkan ke RS Medistra, Jakarta Selatan, sekitar dua hingga tiga pekan.
Kendati tiga kali pindah rumah sakit, kesehatan Sutan terus memburuk hingga kritis jelang menghembuskan nafas terakhir.
Sejumlah sahabat pun telah membesuk, antara lain Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon dan anggota Majelis Pertimbangan DPP Partai Demokrat Max Sopacua.
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono sempat berencana membesuk, namun tak terwujud hingga Sutan menghembuskan nafas terakhir karena kanker hati.
Kenapa Bisa Terjadi Kanker Hati?
Disadur dari Alodokter.com, kanker hati adalah kanker yang bermula dari organ hati atau liver.
Ada dua klasifikasi kanker hati berdasarkan lokasi pertumbuhan atau penyebarannya (metastasis), yaitu kanker hati primer dan sekunder.
Kanker hati primer adalah kanker yang berawal di organ hati dan termasuk jenis kanker yang berpotensi fatal.
Kanker hati sekunder bermula dari bagian tubuh lain kemudian menyebar dan tumbuh di organ hati.
Salah satu jenis kanker hati yang paling umum adalah hepatocellular carcinoma (HCC)/hepatoma yang merupakan kanker hati primer yang berkembang dari sel hati utama yang bernama hepatosit.
HCC terjadi sekitar 75 persen dari keseluruhan kanker hati primer.
Kanker ini dapat merupakan komplikasi dari penyakit hepatitis (peradangan pada organ hati) dan kondisi sirosis (jaringan hati normal digantikan oleh jaringan parut).
Kanker hati sekunder umumnya dinamakan menurut organ asal lokasi sel kanker awal berkembang, seperti kanker kolon metastasis, yang bermula di usus besar kemudian menyebar ke hati.
Kanker hati sekunder lebih sering terjadi dibandingkan kanker hati primer. Selain penyebaran dari kanker di usus besar, kanker hati sekunder juga banyak berasal dari penyebaran kanker payudara, paru, pankreas, lambung, ovarium, dan kulit (melanoma).
Banyak Terjadi di Negara-negara Berkembang
Di dunia, kanker hati adalah kanker paling umum kelima di antara laki-laki dan kesembilan di antara wanita.
Kanker ini adalah penyebab paling umum kedua atas kematian akibat kanker di seluruh dunia, setelah kanker paru.
Sekitar 83 persen kasus kanker hati di dunia terjadi di negara-negara yang masih berkembang.
Penyebab tingginya kasus kanker hati di negara-negara yang masih berkembang adalah tingginya kasus hepatitis B dan C di negara-negara tersebut, termasuk di Indonesia.
Sedangkan di negara-negara yang sudah maju seperti negara-negara di Eropa, penyebab utama kanker hati adalah konsumsi alkohol yang tinggi dan obesitas yang meningkat.
Di Indonesia, diperkirakan terdapat sekitar 18.000 kasus baru kanker hati setiap tahunnya, berdasarkan data pada tahun 2012.
Angka ini diperkirakan akan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penderita hepatitis B dan C yang saat ini mencapai 30 juta jiwa.
Penyebab Kanker Hati
Penyebab pasti kanker hati masih belum diketahui, tetapi penyakit ini diperkirakan berkaitan dengan kerusakan jaringan sel-sel hati, seperti penyakit hati sirosis.
Penyakit sirosis dapat disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B atau hepatitis C.
Penderita hepatitis B atau C mengalami peradangan hati yang berisiko memicu kerusakan serta timbulnya jaringan parut di organ hati.
Kondisi ini kemudian dapat berkembang menjadi kanker hati.
Beberapa kebiasaan atau gaya hidup yang tidak sehat dapat menjadi faktor risiko kanker hati. Salah satunya adalah penyalahgunaan alkohol.
Mengonsumsi minuman keras lebih dari jumlah yang direkomendasikan dapat menyebabkan kerusakan hati permanen dan meningkatkan risiko kanker hati.
Selain itu, obesitas dipercaya juga dapat meningkatkan risiko kanker hati karena berkaitan erat dengan penyakit perlemakan hati non alkoholik (Non Alcoholic Fatty Liver Disease = NAFLD).(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/sutan-bhatoegana-sakit_20161113_222440.jpg)