Penguatan Pendidikan Karakter Butuh Peran Kepala Sekolah
Kepala sekolah juga diharapkan dapat membangun jejaring pihak-pihak secara holistik dan terintegrasi.
Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Anita Kusuma Wardana
Laporan Wartawan Tribun Timur, Fahrizal Syam
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kepala sekolah harus memiliki kemampuan mumpuni untuk menjaring dan mengelola partisipasi guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat, layaknya seorang manajer. Sehingga, kolaborasi partisipasi tersebut dapat memperkuat pendidikan karakter bagi peserta didik.
Hal itu diungkapkan dalam Sosialisasi Penguatan Pendidikan Karakter oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (9/11/2016).
“Sumber belajar bagi siswa itu beragam melalui dukungan masyarakat, seperti orangtua, pegiat seni, komite sekolah, lembaga pemerintah. Untuk itu, kepala sekolah harus mampu memanfaatkan sebaik-baiknya semua sumber belajar tersebut,” ujar Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pembangunan Karakter, Arie Budhiman.
Kepala sekolah juga diharapkan dapat membangun jejaring pihak-pihak secara holistik dan terintegrasi.
"Harapannya, peserta didik bukan hanya belajar pendidikan karakter di dalam kelas, tapi juga di luar kelas," kata Arie.
Lanjut Arie, terdapat lima nilai yang menjadi referensi utama dari Sosialisasi Penguatan Pendidikan Karakter yang diangkat, yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Lima nilai utama tersebyt akan diturunkan ke dalam nilai-nilai pendidikan karakter yang diperlukan siswa di tiap-tiap sekolah.
Arie Budhiman menjelaskan, kelima nilai itu merupakan kristalisasi dari karakter-karakter yang mengakar bagi bangsa Indonesia.
"Pada nilai religius, kita melihat pada aspek Negara Indonesia sebagai negara berkeTuhan-an Yang Maha Esa, tentu karakter religius harus ada. Kemudian, nilai itu akan diturunkan menjadi saling menghargai, toleransi antar umat beragama, berakhlak dan moral yang tinggi," imbuhnya.
"Lalu, nilai nasionalisme mengacu pada corak keberagaman yang dimiliki, sehingga nasionalisme sangat penting. Nanti, turunannya itu adalah bangga dan cinta dengan bangsanya, giat membela negara, mencintai dan memahami keberagaman itu di dalam bingkai kesatuan,” jelasnya.
Ketiga, yaitu nilai kemandirian yang mengacu kepada kesadaran pentingnya menjadi mandiri untuk generasi penerus bangsa, yaitu bagaimana menjadi tangguh, dan memiliki daya juang tinggi.
"Keempat, nilai gotong royong yang mengaju kepada saling tolong menolong sebagai bangsa Indonesia, dan terakhir, nilai integritas yang menitikberatkan kepada kejujuran," ujar dia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/arie-budhiman_20161109_173541.jpg)