Penyangga Ekosistem, Jaga Hutan sebagai Habitat Satwa

"Menghilangkan satu jenis pohon sama halnya menghilangkan berbagai macam satwa yang bergantung pada pohon tersebut,"katanya.

Penyangga Ekosistem, Jaga Hutan sebagai Habitat Satwa
TRIBUN TIMUR/ANSAR
kebakaran hutan di Maros 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Anita Wardana

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR-Hutan memiliki peran besar sebagai penyangga ekosistem. Keseluruhan komponen yang ada dalam hutan dapat dimanfaatkan untuk keperluan manusia dan juga satwa.

Hal tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Kehutanan Unhas bidang Ekologi dan Konservasi, Prof Dr Ir Amran Achmad MSc dalam Seminar Nasional yang digelar Mapala Anoa Kedokteran Hewan Unhas di Auditorium Prof Amiruddin, Sabtu (24/9/2016) lalu.

Seminar bertajuk “Meneropong Masa Depan bumi; Refleksi Peran Strategis Satwa serta Habitatnya dalam Menjaga Keseimbangan Ekosistem ini juga menghadirkan Staf Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulsel, Dedy Asriadi dan Staf Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu, drh Erni Suyanti Musabine.

"Menghilangkan satu jenis pohon sama halnya menghilangkan berbagai macam satwa yang bergantung pada pohon tersebut,"kata prof Amran seperti dikutip dalam rilis yang diterima tribun-timur, Rabu (28/9/2016).

Menurut Prof Amran, sebagai habitat satwa, hutan memiliki peran bagi kehidupan satwa liar, antara lain tempat mencari makan dan minum, tempat berkembang biak, tempat bermain, dan tempat berlindung.

Namun, adanya aktivitas yang dilakukan dapat mengancam fungsi hutan sebagai habitat para satwa, seperti penebangan liar, pembakaran hutan, pengalihfungsian lahan untuk keperluan kelapa sawit

"Aktivitas Hak Pengusahaan Hutan yang dilakukan perusahaan-perusahaan akan mengakibatkan kerusakan hutan sebesar 54 persen,"jelasnya.

Sementara itu, drh Yanti ini yang membahas mengenai peran strategis satwa terhadap keseimbangan ekosistem menekankan, selain penyakit, punahnya satwa juga dipengaruhi oleh masalah tempat tinggal.

Tak hanya masalah tempat tinggal, adanya perburuan liar juga mengancam keberlangsungan satwa. Bahkan, angka perburuan liar cukup tinggi mencapai 20 persen.

"Menyusutnya hutan sebagai habitat alami satwa akan menyebabkan konflik ruang atau lahan antara manusia dan satwa,"jelasnya.

Dedy Asriadi juga mengungkapkan, perdagangan satwa juga menjadi ancaman. Perdagangan satwa ini juga marak terjadi di Sulsel. Pasalnya, Sulsel telah menjadi jalur strategis perdagangan satwa ke berbagai negara, seperti Vietnam, Thailand dan sejumlah negara lainnya.(*)

Penulis: Anita Kusuma Wardana
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved