Film Uang Panai

Catatan Perantau Bugis Tentang Film Uang Panai', Melawan Sekaligus Meluruskan Adat

Uang Panaik, sebuah film yang mengaduk-aduk rasa penasaran publik Bugis Makassar

Catatan Perantau Bugis Tentang Film Uang Panai', Melawan Sekaligus Meluruskan Adat
HANDOVER
Salah seorang perantau Bugis, Syahrir yang berada di Kendari. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -Film Uang Panai telah memasuki hari ke-9 pemutarannya. Film ini dinantikan oleh para perantau-perantau Bugis-Makassar yang ada di luar Makassar.

Berikut tuliasan dari salah seorang perantau Bugis, Syahrir yang berada di Kendari.

LUAR BIASA. Benar-benar keren. Gumamku seusai menonton film ini. Butuh sepekan lebih menunggu hingga berhasil menontonnya.

Uang Panaik. Sebuah film yang mengaduk-aduk rasa penasaran publik Bugis Makassar. Sebuah film yang berkisah tentang salah satu adat mereka. Menikahkan sepasang anak manusia.

Lebih sepekan, animo penonton tidak juga susut. Antrean tetaplah mengular. Setidaknya, di Kota Makassar dan Kendari.

Bisa dipahami karena kisah di film ini adalah kisah yang begitu dekat dengan kesehariannya. Kisah pahit manisnya ketika hendak menikah.

Film dibuka dengan latar pelabuhan. Pulangnya seorang pemuda bernama Irwansyah (Ikram Noer) yang akrab disapa Ancha.

Tidak jelas dia pergi kemana. Yang jelas, kepulangannya begitu membahagiakan kedua orangtuanya, sahabat-sahabatnya, dan para gadis tetangganya yang centil-centil.

Kepulangan Ancha juga kembali memekarkan hati seorang gadis manis bernama Risna (Nur Fadillah). Putri sulung keluarga kaya yang sempat patah hati karena ditinggal pergi begitu saja.

Cinta mereka mulai diuji ketika Risna meminta dilamar. Ancha menyanggupinya namun "galau" setelah tahu permintaan uang panaik-nya begitu fantastis. Seratus dua puluh juta rupiah.

Halaman
1234
Penulis: Thamzil Thahir
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved