Copa America
Ulasan Bola: Don’t Cry For Me Argentina
Berbeda dengan tim sepakbola Argentina. Usai Piala Dunia 1990, Tim Argentina pulang kembali ke Argentina;
oleh: Willy Kumurur
TRIBUN-TIMUR.COMN - Isteri Presiden Argentina tahun 1940-an, Juan Peron, yang bernama Maria Eva Duarte de Peron atau yang lebih terkenal dengan nama Evita Peron, dari balkon kepresidenan, menyampaikan “mutiara perpisahan” kepada rakyatnya: Don’t Cry For Me Argentina (jangan menangis untukku Argentina). It won’t be easy, you’ll think it strange; when I try to explain how I feel; that I still need your love after all that I’ve done (Tak akan mudah, Anda akan rasakan betapa asing; tatkala kucoba ‘tuk menjelaskan betapa perasaanku; bahwa aku masih membutuhkan cintamu setelah apa yang telah kulakukan). Andew Llloyd Webber yang menggubah lagu ini menggambarkan bahwa Evita tak ingin rakyat Argentina menangis untuknya.
Berbeda dengan tim sepakbola Argentina. Usai Piala Dunia 1990, Tim Argentina pulang kembali ke Argentina; mereka dikalahkan Jerman di final. Begitu mendarat di bandar udara Bueonos Aires, terdengar lagu Don’t Cry For Me Argentina. Namun bukan rakyat Argentina, justru Diego Armando Maradona-lah yang menangis.
Don’t cry for me Argentina; the truth is I never left you; I kept my promise, don’t keep your distance (jangan menangis untukku Argentina; faktanya adalah aku tak pernah meninggalkanmu; kupenuhi janjiku, jangan menjaga jarak), lanjut Evita Peron. Tapi justru air mata Lionel Messi berlinang-linang di Stadion Metlife, New Jersey, Amerika Serikat. Ia bahkan menyatakan pensiun dari Tim Nasional Argentina setelah ia merasa gagal menghentarkan La Albiceleste menjadi juara selama 3 tahun berturut-turut (di final Piala Dunia 2014, final Copa America 2015 dan final Copa America Centenario 2016). Cile untuk kedua kalinya merengkuh Copa America, tropi yang tak pernah kembali lagi ke bumi Argentina sejak 1993. Messi bahkan telah dicengkeram kekecewaan yang dalam usai gagal mengeksekusi penalti.
Messi masih sanggup menahan air matanya usai final Piala Dunia 2014 dan final Copa America 2015. Ia berusaha tetap tegar di antara rekan-rekannya yang tak kuasa menahan air mata, di hadapan para pemain Jerman dan Cile yang merayakan kemenangan. Namun berbeda dengan final 2016. Messi mencengkeram rambutnya, berjalan gontai menghampiri staf pelatih. Staf pelatih menghiburnya, namun tak cukup untuk meredakan kekecewaan dan kepedihannya. Ia akhirnya berjalan balik ke lapangan dan di saat itulah air matanya tak terbendung lagi.
Ahli psikologi, Mary C. Lamia, menulis dalam lamannya tentang Expectation, Disappointment, and Sadness, kekecewaan adalah cara yang mendalam dalam mana kesedihanlah yang akan dialami. Dalam kasus apapun, kekecewaan adalah pengalaman kesedihan yang melibatkan harapan atau harapan tak terpenuhi.
Gol “tangan Tuhan” Maradona ke gawang Inggeris, walau dipersoalkan, tetap disahkan oleh wasit. Itu karena Maradona disayang Dewi Fortuna. Namun berbeda dengan Maradona, Messi bukanlah pemain kesayangan Dewi Fortuna. Tiga final beruntun yang berujung pada kekalahan dalam tiga tahun terakhir memberikan pukulan yang menyakitkan. Runtuhlah air matanya.
Linangan air mata Messi menjadi bukti bahwa Messi bukanlah alien; ia bukanlah Dewa Bola. Itu bukti bahwa ia adalah manusia biasa. Kemanusiaannya nampak tatkala ia tak bisa menghadirkan mujizat yang ditunggu-tunggu oleh rakyatnya dan penggemarnya.
Evita Peron, yang meninggal dunia tahun 1952 akibat kanker mulut rahim, seolah mengingatkan Messi: and as for fortune, and as for fame; I never invited them in, though it seemed to the world they were all I desired; they are illusions; they are not the solutions they promised to be. The answer was here all the time; (dan untuk keberuntungan, untuk ketenaran, aku tak pernah mengundangnya, meski nampak di mata dunia bahwa semuanya diinginkan. keberuntungan dan ketenaran adalah ilusi; mereka bukan solusi sebagaimana dijanjikan. Jawabannya ada di sini sepanjang masa). I love you and hope you love me; don't cry for me Argentina.
Air mata Messi adalah air mata kepedihan akibat kekecewaan. Filsuf Eric Hoffer menyatakan bahwa kekecewaan adalah semacam kebangkrutan - kebangkrutan jiwa yang mengeluarkan terlalu banyak dalam harapan