Tetangga Datangi Warung Bu Eni Usai Razia, Aaa? Dia Mengaku Temukan Hal Mengejutkan ini
Malam ini saya bersama tokoh masyarakat mengunjungi salah satu warung makan ibu saeni, yg sedang menjadi berita nasional dan berimbas kepada
TRIBUN-TIMUR.COM - Sudah sepekan lebih, Saeni (53), pemilik warung tegal yang jualannya disita petugas Satuan Pamong Praja Kota Serang, Provinsi Banten, Rabu (8/6/2016), menjadi topik pemberitaan.
Polemik mengiringi pascarazia terkait dengan larangan membuka warung makan pada siang hari saat Ramadan.
Ada pihak yang pro atas razia sesuai dengan peraturan daerah tersebut sebab dianggap sebagai bentuk pengharaan kepada menjalankan ibadah puasa pada Bulan Suci penuh berkah.
Sedangkan pihak yang kontra menilai, razia tak pantas dilakukan sebab melanggar hak-hak warga miskin, termasuk Saeni, apalagi hingga merampas makanan jualannya.
Selain itu, menurut mereka yang kontra, warung makan seharusnya tetap boleh dibuka sebagai manifestasi penghargaan kepada mereka yang tak menjalankan ibadah puasa.
Pihak konta juga menggalang dana untuk membantu mengembangkan dagangan Suaeni.
Menurut pihak yang pro, apa yang dilakukan pihak yang kontra razia akan mencederai kesucian Bulan Suci ini.
Pro dan kontra terus menghiasi pemberitaan selama sepekan lebih.
Saeni alias Ibu Eni hampir tiap hari jadi trending topic pada media sosial.
Penasaran sosok yang diberitakan dan diperbincangkan, pemilik akun Novis Sugiawan pada Facebook kemudian mengaku mendatangi warung yang dirazia.
Diakuinya, jarak rumahnya dengan warung tersebut hanya 50 meter.
Di warung, dia lalu menemui Alex, suami Bu Eni untuk mengonfirmasi sejumlah informasi.
Tulis Novis pada akunnya, Bu Eni ternyata memiliki tiga warung.
Berikut ini tulisan Novis, penggiat sebuah LSM, selengkapnya yang menjadi statusnya pada Facebook sejak, Sabtu (18/6/2016) dinihari.
“Malam ini saya bersama tokoh masyarakat mengunjungi salah satu warung makan ibu saeni, yg sedang menjadi berita nasional dan berimbas kepada isu pencabutan perda syariah. Kebetulan saya tinggal di lingkungan cikepuh kota serang banten, dan jarak antara rumah saya dengan warteg yg di razia satpol pp hanya berjarak 50M. Malam ini kami bertemu pak alex suami dr bu saeni, saya meminta klarifikasi beliau antara fakta yg terjadi dengan isu yg beredar di masyarakat. Bu saeni memiliki 3 warteg di kota serang : cikepuh, tanggul, kaliwadas. 1 tempat warteg ibu saeni ada yg sewa 7.5jt per tahun, ada juga yg kurang lebih sampai 10-15jt pertahun. Untuk ukuran usaha seperti ini tergolong usaha menengah karena beliau mampu mengelola dengan baik, dan tidak bisa juga dikatakan usaha kecil seperti yg diberitakan. Saya mencoba investigasi kebenaran berita yg beredar, saya menemukan fakta dan saksi bahwa pada saat razia berlangsung ibu saeni diminta salah satu oknum media untuk menangis histeris seolah-olah terdzolimi dan terkesan satpol pp mengacak2 dagangannya. Padahal faktanya satpol pp menyita semua makanan dan berharap ibu saeni datang ke kantor satpol pp untuk pembinaan dan pengarahan, untuk tidak membuka warung sesuai waktu yg ditetapkan pemkot serang yaitu sekitar pukul 16.00 wib dan seluruh makanannya di kembalikan. Namun ibu saeni tidak datang ke kantor satpol pp, selang beberapa hari kemudian ibu saeni di setting oleh oknum awak media beliau sakit dan terbaring di kasur yg tergeletak dilantai dan kumuh, seolah2 jatuh miskin dan tak punya apa2, padahal 2 warteg nya masih aktif berjualan, dan media memblow up seolah2 ibu saeni terdzolimi oleh razia satpol pp karena penegakan perda syariah, sehingga ada juga settingan provokasi awal untuk penggalangan dana sehingga masyarakat luas mengikuti penggalangan dana atas dasar kemanusiaan karena tindakan kejam pemkot atas penegakan syariat islam di bulan ramadhan. Dari sini saya mengambil kesimpulan bahwa ini adalah settingan oknum yg ingin perda syariah di cabut. Menurut pengakuan pak alex dana yg terkumpul kata seseorang koordinator penggalangan dana sebesar 200jt an lebih, namun yg diterima hanya 172 juta rupiah, lalu kemana sisa nya? Pak alex menuturkan sisanya kata pengkoordinirnya untuk membantu warung-warung yg kena razia juga. Saya agak mikir disini benarkah uangnya untuk membantu yg lain? Atau di nikmati oleh segelintir orang? Yg penting Harus ada kejelasan laporannya. Dan isu yg terakhir berkembang adalah isu pengusiran ibu saeni dr kampung cikepuh, isu ini juga tidak dapat di benarkan, karena sampai saat ini ibu saeni masih tinggal di warteg nya, hanya di beri peringatkan oleh warga agar jangan membuka warung di siang hari, apabila masih buka maka warga tidak mengizinkan tinggal di wilayah cikepuh.
Jadi saya ingin meluruskan:
1.bahwa ibu saeni bukan orang susah seperti yg di beritakan
2. Tidak ada pengusiran oleh warga cikepuh thd ibu saeni
3. Ibu saeni di setting oleh oknum media untuk menjadi batu loncatan agenda terselubung.
3. Adanya kesengajaan isu nasional untuk mencabut perda-perda syariah di seluruh wilayah indonesia.
4. Ini adalah proxy war yg dibuat oleh kelompok2 tidak bertanggung jawab sehingga memecah belah NKRI dan khususnya umat islam.
Salam saya
Ketua umum pemuda Lira DPW Banten
Novis sugiawan S.Sos.i.”
Sekitar 15 jam setelah tulisan itu di-posting, pengacara Saeni, Evi Shofawi Hayz melalui akunnya pada Facebook menuding Novis telah memeras Alex.
Tudingan pemerasan dalam bentuk permintaan uang senilai Rp 500 ribu beserta traktiran makan dengan minum.
“Jusuf Rizal Lira pak presiden ini orang semalem minta duit Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) kepada Alex, dan minta diteraktir makan minum, dengan dalih mau mengajak bu SAENI ketemu bapak Walikota Jaman untuk minta maaf.
Tolong di respon pak, malu masa minta minta duit.
Semula keluarga bu SAENI gak mau di ajak ketemu td malam, tp mereka maksa ngajak ketemu Pak Alex suami bu SAENI, begitu ketemu orang orang itu Minta "JAPUK" lima ratus ribu rupiah dan minta di traktir makan minum, karna dianggap bu SAENI telah menerima banyakn UANG, saat itu ALEX mengatakan "boro boro lima ratus ribu, seribu perak aja gk nerima, karna semua duit telah di poskan kepada kebutuhan kebutuhan bu Saeni berupa biaya biaya dan deposito" karna mereka tidak dapat duit makanya muncullah berita berita seperti ini, termasuk tadi mereka memfoto tanpa izin dan memaksa kegiatan syuting transtv
Jadi jgn terprofokasi dgn mereka orang orang bermental pengemis dan menebar kebencian hingga mengadu domba sesama umat muslim,
Bu saeni polos dan gak mungkin berani berbuat seperti itu.
Semua itu fitnah dan pihak pihak yg cari keuntungan dan mendonpleng tranding topik ibu saeni
Harap waspada.,” tulisnya me-tag akun pemimpin sebuah LSM sekaligus atasan Novis.
Pada hari yang sama, Novis juga menyampaikan protesnya kepada sebuah stasiun televisi karena melakukan syuting reality show tentang Saeni.
Saat syuting pada siang hari saat warga Muslim sekitar sedang puasa, host dan kru menyantap makan siang di warung tegal Bu Eni.
Reality show ini dianggap tak menghargai Muslim yang sedang puasa.
“Mari kita lihat bukti dan fakta yg saya dapatkan pagi ini. Apakah ini real atau di atur sesuai settingan? Camera rolls, Action!
Pagi ini tanggal 18 juni 2016 sekitar pukul 07.00, ramadhan penduduk kota serang, khusus nya warga cikepuh di kejutkan oleh salah satu media nasional TRANS TV melakukan syuting di warung bu saeni, dengan tanpa rasa bersalah dan tanpa menghormati kaum muslimin yg sedang berpuasa di bulan ramadhan, dengan santai dan nikmatnya para host (Ruben Onsu dan kawannya) menyantap makanan warteg bu saeni yg sedang dalam kontroversi, baru saja semalam saya menginvestigasi, pagi nya bu saeni sudah berani berbuat culas. Kami warga serang banten menuntut pihak TRANSCORP untuk meminta maaf atas kejadian ini dan kami meminta untuk tidak ditayangkan acara yg memuat RUBEN ONSU dengan Ibu saeni yg berakting di warteg milik ibu saeni. Kami warga cikepuh khusus nya kecewa dengan tindakan TRANSTV dan menuntut agar pihak TRANSTV dan Ibu saeni meminta maaf di hadapan publik khususnya kaum muslimin di indonesia, jika tidak di indahkan Kami akan melaporkan ke Polda Banten atas dasar pelanggaran perda dan Pelecehan dan penistaan agama, serta kami akan melaporkan hal ini ke KPI. Dan Ibu saeni kami akan menuntut atas dasar penistaan agama dan pembohongan publik. Ada apa dengan kalian semua tentang Perda syariah? Apakah ini agenda susulan settingan untuk melemahkan Perda syariah di Indonesia?
Salam perjuangan
Ketua Umum PEMUDA LIRA DPW Banten
Novis Sugiawan, S.Sos.i,” tulis Novis melalui akunnya.
Pihak stasiun televisi kemudian menyampaikan klarifikasi dan permohonan kepada pihak yang merasa terganggu.
“Hari ini kita syuting di serang, dengan tujuan untuk mengangkat profil ibu saeni sebagai tokoh survivor kita, dimana usaha seorang ibu berjuang mengangkat derajat keluarganya, motivasi beliau bekerja dengan membuka warung makan demi anak2nya agar bisa mendapat pendidikan yang lebih baik.
Kami sangat beruntung bisa bertemu dengan ibu saeni. Adapun pemberitaan yang berkembang di media sosial dengan beberapa capture foto dan pemberitaan yang sudah bersifat provokasi dan menyudutkan host kami, mohon di cerna dengan pandangan yang positif. Tidak ada niatan untuk kami melecehkan pihak manapun. Untuk itu kami meminta maaf ke berbagai pihak yang mungkin terganggu dengan aktivitas kami tadi.
Semoga di bulan yang pernuh berkah ini kita bisa saling berhusnudzon. Dan juga saling mendoakan antar sesama. Aamiiin.”
Begitulah isi klarifikasi melalui akun @survivor_transtv pada Instagram.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/saeni_20160613_143934.jpg)