Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Irjen Arman Depari Datangi Rumah Sonya

Sebelum masuk ke rumah Sonya untuk mengucapkan

Tayang:
Editor: Ilham Arsyam
TRIBUNNEWS.COM
Irjen Pol Arman Depari dan Sonya Depari 

TRIBUN-TIMUR.COM -  Humas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Utara, Ajun Komisaris Besar S Sinuhaji mendatangi rumah Sonya

Ekarina Depari yang berada di Perumahan Johor Katelia Indah, Jalan Karya Wisata, Medan Johor.

Sinuhaji datang dengan menumpangi mobil Xenia BK 1748 QK bersama staffnya.

Sebelum masuk ke rumah Sonya untuk mengucapkan rasa belasungkawa atas kepergian ayah Sonya, M Depari, Sinuhaji sempat berbincang dengan beberapa awak media.

Kata Sinuhaji, ia datang setelah mendapat kabar Kapolda Riau sekaligus mantan Deputi Pemberantasan Narkoba Badan Narkotika Nasional (BNN), Inspektur Jendral Arman Depari telah tiba di rumah duka.

"Yang saya dengar, Pak Arman sudah datang. Itu yang saya dengar ya," kata Sinuhaji, Jumat (8/4/2016) sore.

Ia menjelaskan, dirinya dengan orangtua perempuan Sonya masih ada hubungan kekerabatan. Kata Sinuhaji, ibu Sonya merupakan temannya semasa sekolah.

"Istrinya yang meninggal ini (ayah Sonya/M Depari) teman saya sewaktu SMP," katanya.

Tak lama berbincang, Sinuhaji yang mengenakan kemeja batik langsung pamit untuk masuk ke rumah duka.

Sementara itu, sejumlah rekan Sonya tampak berkumpul di halaman depan rumah duka.

Beberapa di antaranya tampak enggan memberikan komentar.

Setop Bully

Menurut psikolog Irna Minauli, bullying terhadap Sonya harus dihentikan.

Alasannya, kondisi psikis Sonya akan semakin drop, kalau terus-terusan di-bully.

"Ya, tentu saja setiap bentuk bully harus dihentikan, termasuk cyber bullying juga harus dihentikan. Karena banyak kasus yang terjadi di Amerika, remaja yang menjadi korban cyber bullying banyak yang melakukan bunuh diri. Mereka tidak tahan dengan informasi yang begitu cepat menyebar di internet," katanya saat diwawancarai Tribun melalui via Whats Apps, Kamis malam.

Psikolog dari Minauli Consulting ini menjelaskan, korban bullying biasanya adalah seseorang yang memiliki karakter "ter", terbodoh atau terpintar, terjelek atau tercantik, termiskin atau terkaya.

Dan, melihat penampilan awal korban, nampak bahwa ia memiliki potensi untuk dijadikan korban bullying.
Sebab, tidak semua orang memiliki kecantikan dan kemewahan seperti yang dimilikinya.

Jadi, kata Irna, ketika ditemukan perilaku yang tidak baik pada seseorang, maka hal itu menjadi jalan pembenaran untuk dilakukan bullying. Itu sebabnya orangtua harus mengajarkan kepada para remaja untuk lebih berhati-hati menyatakan pendapatnya di depan publik.

"Mereka tetap harus diajarkan sopan santun dan etika dalam bersikap, khususnya dalam media sosial. Dalam era keterbukaan seperti saat ini sepertinya setiap orang menjadi merasa memiliki kebebasan untuk menyatakan pendapat tanpa mempertimbangkan berbagai aspek yang menyangkut kesejahteraan psikologis korban," ujarnya.

Menurut psikolog senior ini, perilaku yang termasuk kategori cyber bullying sudah mulai memakan banyak korban.

Berbeda dengan model bullying konvensional yang hanya menyangkut aspek fisik (seperti dipukuli, ditampar), verbal (dihina, diejek, difitnah) serta bullying yang sifatnya relasional (mengisolasi dan mengajak orang lain untuk memusuhi korban).

"Bentuk cyber bullying bisa mencakup kesemuanya dan menjadi lebih berbahaya, karena pelaku tidak tampak dan seringkali tidak dikenal. Berbeda dengan bentuk bullying lainnya," katanya.

Selanjutnya, kata Irna, cyber bullying seringkali terjadi ketika ada seseorang yang memperlihatkan perilaku tertentu yang kemudian memancing reaksi orang banyak. Perilaku tersebut mungkin dianggap tidak pantas dilakukan.

Tetapi, katanya, seringkali dalam cyber bullying para haters atau likers pun kemudian menjadi sasaran bullying berikutnya.

Ia menjelaskan, hal ini terjadi, karena dalam setiap peristiwa senantiasa terdapat persepsi yang berbeda.

Dengan demikian ada sekelompok orang yang setuju dan ada sekelompok lain yang membenci.

"Ketika peristiwa tersebut bergulir dan kemudian memakan korban, seperti meninggalnya orangtua maka para netizen pun mulai mencari lagi kambing hitamnya, sehingga penyebar berita dianggap sebagai orang yang bersalah. Dalam masyarakat yang frustrasi seperti saat ini setiap orang cenderung menjadi mudah marah dan menganggap hal itu sebagai bentuk katarsis atau pelampiasan dari emosi-emosi negatif yang ada pada dirinya," katanya.

Siapa Arman Depari Sebenarnya?

Nama Arman Depari kini menjadi perbicangan.

Ia adalah paman Sonya Depari.

Arman Depari dengan pangkat inspektur jenderal, sekarang menjabat Kepala Kepolisian Daerah Kepulauan Riau pengganti Brigjen Endang Sudrajat .

Arman, lulusan Akpol 1985 ini berpengalaman dalam bidang reserse.

Jabatan sebelumnya jenderal bintang satu ini adalah Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri.

Arman diekenal ikut membantu dan memberikan informasi hasil penyelidikan kepada tim Ditserse Polda Metro Jaya, untuk mengungkap pelaku bom bali 1 yang menangkap teroris Imam Samudra di Pelabuhan Merak, Banten, 21 November 2002.

Riwayat Pendidikan

SD, SMP, SMA di Berastagi

Akademi Kepolisian (Akpol) (1985)

PTIK, Sespim Polri, Sepati Polri

Kursus

Drugs Commander Team

International narcotics enforcement course"

Counterterrorism

"management krisis"

Riwayat Jabatan

Kasubnit Pembunuhan dan Penculikan Polda Metro Jaya

Kasubnit Kejahatan Kekerasan Polda Metro Jaya

Wakapolres Biak Numfor

Wakapolres Jayapura

Kasat Serse Polda Riau

Kasat Serse Polda Sumut

Kapolres Langkat

Wadir Reskrim Polda Sumatera Utara

Kadensus 88 Polda Sumatera Utara

Kanit Asset dan Kejahatan Terorganisir Dit IV/Narkoba Bareskrim Polri

Dir Narkoba Polda Metro Jaya (2006)

Dirtipid Narkoba Bareskrim Polri (2009)

Dir IV/ Narkoba Mabes Polri

Kapolda Kepulauan Riau (2014)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved