Jembatan Ambruk Laniti Cenrana Belum Diperbaiki, Warga Harus Melintasi Air Sungai
Jembatan biru tersebut menghubungkan dusun Laniti dengan jalan poros di Dusun Pattiro Desa Rompegading, Kecamatan Cenrana.
Penulis: Ansar | Editor: Ina Maharani
Laporan Wartawan Tribun Timur, Ansar Lempe
TRIBUN TIMUR.COM, MAROS - Warga Dusun Laniti Cenrana Desa Baji Pa'mai, Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros, masih terisolasi pasca ambruknya jembatan biru atau jembatan penyeberangan, Jumat (12/2/2016) lalu.
Jembatan biru tersebut menghubungkan dusun Laniti dengan jalan poros di Dusun Pattiro Desa Rompegading, Kecamatan Cenrana.
Kepala Desa (Kades) Baji Pamai Kecamatan Cenrana Ali Akbar mengatakan, Kamis (18/2/2016) mengatakan, pihaknya masih menunggu proses pembangunan jembatan tersebut dari pemerintah Maros.
"Kami dan Dandim 1422 Maros sudah berkoordinasi dengan Pak Bupati (Hatta Rahman) dan Ketua DPRD (Chaidir Syam) untuk pembangunan jembatan baru. Pak Bupati juga sudah setuju," ujarnya.
Ali Akbar mengaku, usulannya untuk pembangunan jembatan gantung juga telah disetujui. Jembatan dengan panjang sekitar 60 meter dan lebar 1,8 meter tersebut diperkirakan akan menghabiskan anggaran sekitar Rp300 juta.
Pemerintah Desa telah menyiapkan anggaran Rp 50 juta dan lebihnya akan dianggarkan oleh pemerintah kabupaten Maros.
"Kami tinggal tunggu Pak Bupati untuk meninjau jembatan. Insya Allah secepatnya akan dibangun jembatan gantung itu," ujarnya.
Saat ini, volume air sungai sudah turun dan setinggi paha orang dewasa. Warga Laniti sudah bisa menyeberangi sungai dan beberapa warga lainnya masih memilih memutar ke jembatan Dusun Madello.
Jembatan ini terputus akibat diterjang derasnya air sungai yang meluap saat hujan mengguyur Camba dan Cenrana Kamis malam kemarin pekan lalu.
Ambruknya jembatan tersebut sudah yang ketiga kalinya terjadi.
Sebelumnya, jembatan tersebut dibangun oleh masyarakat, kemudian jembatan itu dikerjakan oleh PNPM dan terakhir BPBD Maros. Jembatan yang dibangun tersebut semuanya ambruk.
"Ini sudah tiga kali rubuh, pertama jembatan ini dibangun masyarakat, kedua PNPM dan ketiga BPBD. Saya tidak pernah menyangka jembatan ini ambruk secara tiba- tiba. Biasaya berminggu- minggu diguyur hujan baru rubuh," katanya.
Jembatan tersebut rubuh setelah diterjang tumpukan bambu yang jatuh ke sungai.