Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Misteri Pembunuhan Wayan Mirna Salihin

Mengapa Pembunuhan Mirna Begitu Heboh? Lihat Hebatnya Keluarganya, Bukan Warga Biasa

Bandingkan sejumlah pemberitaan kasus pembunuhan melibatkan masyarakat kelas bawah.

Tayang:
Editor: Edi Sumardi
FACEBOOK.COM/MIRNA SALIHIN
Arief Soemarko dan Wayan Mirna Salihin 

TRIBUN-TIMUR.COM - Pembunuhan Wayan Mirna Salihin (27) menggunakan es kopi vietnam bersianida boleh jadi bakal menjadi kasus pembunuhan terheboh dan paling menyita perhatian publik pada tahun ini.

Pada tahun 2015 lalu, ada kasus pembunuhan bocah Angeline di Bali.

Sebulan terakhir, berita pembunuhan Mirna selalu menjadi headline pemberitaan.

Bandingkan sejumlah pemberitaan kasus pembunuhan melibatkan masyarakat kelas bawah.

Besarnya porsi pemberitaan kasus pembunuhan Mirna kemungkinan dipicu kasus ini melibatkan kalangan masyarakat kelas elite negeri ini.

Keluarga Mirna dan tersangka kasus pembunuhan, Jessica Kumala Wongso merupakan keluarga yang kondisi ekonominya mapan.

Ayah Jessica, Winardi Wongso merupakan pengusaha pabrik plastik dan memiliki tempat tinggal di Australia.

Sementara, ayah Mirna, Dermawan Salihin juga merupakan pengusaha.[baca juga Lihat Mobil Dinaiki Mirna Jelang Diracun, Bukti Dia Bukan Orang Sembarangan]

Dia juga pernah tinggal di Jerman dan Singapura.

Pada saat tampil pada talkshow “Indonesia Lawyers Club”, sebagaimana ditayangkan stasiun televisi tvOne, Selasa (2/2/2016), Dermawan mengakui memiliki sekiar 6 ribu karyawan pada perusahannya.

Dermawan memilik sejumlah perusahaan, antara lain perusahaan jasa ekspedisi bernama PT Fajar Indah Cakra Cemerlang.

Perusahaan ini memiliki kantor di Petojo, Jakarta Pusat.

Selain itu, perusahaan lainnya adalah perusahaan garmen (pakaian jadi) yang berkantor di Cengkareng, Tangerang, Provinsi Banten.

Sebelum Mirna meninggal, Dermawan sempat ingin mewariskan sebuah perusahaannya kepada Mirna.

Perusahaan apa itu?

Dia belum bersedia mengungkapkannya.

Selain sebagai pengusaha, Dermawan merupakan keluarga bos bank.

Kakak kandungnya, Roosnianti Salihin merupakan Wakil Presiden Direktur Bank Panin sejak tahun Juni 1997 atau sudah 18 tahun.

Namun, ada informasi baru mengejutkan.

Pengacara Jessica, Yudi Wibowo menyebut Dermawan anggota Badan Intelijen Negara.

"Yang (anggota) BIN itu bapaknya Mirna. Tanya saja kalau nggak percaya. Dia kan ngakunya pengusaha, pengusaha kan bisa apa saja," kata Yudi di Jakarta, Rabu (3/2/2016).

Polisi Australia Ikut Lacak Hubungan Jessica-Mirna

Sejumlah keterangan dari tersangka Jessica, dianggap oleh polisi, janggal.

Suami mendiang Mirna, Arief Soemarko (27), bahkan menyebut apa yang disampaikan Jessica terkait kasus es kopi vietnam bersianida semuanya bohong.

Menghadapi itu, Polda Metro Jaya menyiapkan bukti tidak terbantahkan untuk memperkuat status tersangka Jessica.

"Dari pengalaman, kasus pembunuhan dengan racun itu rata-rata tidak ada pengakuan dari tersangka, sehingga dibutuhkan kejelian dan keahlian penyidik untuk membuktikan," ujar

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Muhammad, Selasa (2/2/2016), sebagaimana dikutip dari Kantor Berita Antara.

Guna menyiapkan bukti tak terbantahkan, polisi tak akan mengejar pengakuan Jessica.

Polda Metro Jaya telah meminta bantuan Kepolisian Federal Australia atau Australian Federal Police (AFP) guna mengusut tuntas kasus tersebut.

Direktur Reserse dan Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Krishna Murti menyampaikan hal tersebut ketika Jessica, diperiksa penyidik Direktorat Reserse dan Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Rabu (20/1/2016).

Menurut mantan Staf Perencanaan pada Perserikatan Bangsa-bangsa di New York, Amerika Serikat ini, bantuan AFP diperlukan sebab ada sejumlah keterangan akan dicek keakurasiannya di Negeri Kanguru itu.

Saat pemeriksaan saksi, penyidik menemukan sejumlah keterangan yang dianggap janggal.

Ada serangkaian peristiwa yang seharusnya terjadi di Australia tetapi tidak terjadi.

Guna mengecek keakurasian itu, AFP, kata Krishna, akan memeriksa teman-teman mendiang Mirna di Australia.

Mereka, antara lain teman semasa menjalani pendidikan di Billy Blue College of Design, Sidney, Australia.

Namun, hingga kini hasil pemeriksaan itu belum ada kabarnya padahal Krishna menyampaikannya, hampir dua pekan lalu.

Ayah Mirna, Darmawan Salihin mengharapkan hasil pemeriksaan dilakukan AFP segera membuahkan hasil.

Ini juga untuk menjawab bagaimana sebenarnya hubungan Mirna dengan Jessica selama di Australia.

Darmawan tak mengetahui kedekatan hubungan anaknya dengan Jessica.

Termasuk apakah Jessica pernah melakukan upaya percobaan pembunuhan kepada temannya itu selama di Negeri Kangguru.

“Hmm tidak tahu ya, itu tunggu saja polisi dari Australia. Nanti ada beritanya itu,” kata dia, Senin (1/2/2016), di Mapolda Metro Jaya, sebagaimana dikutip dari TRIBUNnews.com.

Mengenai adanya hubungan istimewa antara Mirna dan Jessica, tim kuasa hukum Jessica secara tegas membantah.

Yayat Supriatna, pengacara Jessica mengatakan, hubungan kedua orang itu hanya sebatas pertemanan.

“Tidak ada kisah yang istimewa seperti yang diberitakan selama ini ya, tidak ada,” ujarnya menegaskan.

Psikopat?

Di awal kasus ini mencuat, ada pihak-pihak yang secara langsung maupun tidak, menyebut Jessica psikopat.

Benarkah demikian?

Hanya penyidik dan psikolog yang memeriksanya yang tahu.

Di luar kasus kopi maut, mungkin Anda juga pernah mendengar kasus "gadis dalam kotak" di AS.

Dikutip dari Kompas.com, kasus ini terjadi pada 1977, saat Cameron Hooker menculik Colleen Stan, menyimpannya dalam kotak kecil selama tujuh tahun, 23 jam sehari.

Stan hanya boleh keluar selama satu jam sehari untuk diperkosa dan disiksa secara keji.

Pada 1984, Hooker ditangkap, 1985 dijatuhi hukuman 104 tahun penjara dan diberi julukan "Psikopat Paling Keji Abad Ini".

Seperti apa psikopat itu sebenarnya dan semudah itukah kita bisa membedakan seorang psikopat, jika dia ada di dekat kita?

Secara harafiah, psikopat berarti sakit jiwa. Psikopat berasal dari kata psyche atau jiwa dan pathos atau sakit.

Sakit jiwa tidak sama dengan gila karena kalau gila, dia tidak sadar atas apa yang dilakukannya.

Seorang psikopat sadar atas perbuatannya.

Gejala psikopat disebut psikopati.

Untuk mendiagnosa apakah seseorang benar adalah psikopat atau bukan, butuh evaluasi yang ketat dan menyeluruh.

Ada tujuh tahap pemeriksaan termasuk 20 checklist psikopati Hare yang harus dijalankan.

Hare adalah nama belakang dari Robert D. Hare, Bapak Psikopati Dunia, seorang ahli psikopati dari British Columbia University yang meneliti dunia para psikopat selama 25 tahun.

Menurut penelitian, hanya 15-20 persen psikopat yang melakukan tindak kriminal.

Memahami benak psikopat

Secara fisik, tidak ada perbedaan antara psikopat dengan nonpsikopat. Ciri paling nyata psikopat terlihat dari reaksi emosionalnya atas satu kejadian.

Seorang psikopat, kurang atau bahkan tidak memiliki reaksi emosi seperti takut, sedih atau tertekan.

Menurut Hare, selain kurang memiliki emosi, seorang psikopat juga seringkali bersifat manipulatif.

Mereka bisa berpenampilan, bersikap, dan bertuturkata sangat menyenangkan.

Selain itu, mereka juga sangat egosentris, namun punya kemampuan analisa dan kecerdasan di atas rata-rata.

Mungkin hal ini disebabkan karena mereka tidak melibatkan perasaan ketika menilai sesuatu.

Psikopat yang kriminal, hampir seluruhnya tercatat pernah berbuat keji di masa lalu.

Awalnya pada hal-hal yang dianggap remeh, misalnya binatang. Setelah itu, meningkat menjadi menyakiti manusia.

Catatan FBI mengatakan, 100 persen pembunuh serial yang mereka tangkap punya sejarah kelam sebagai penyiksa hewan di masa kecil atau remaja.

Rata-rata pembunuh serial adalah seorang psikopat, tapi tidak semua psikopat jadi pelaku kekerasan atau pembunuh baik tunggal maupun serial.

Akibat kurangnya emosi, psikopat seringkali merasa tidak bersalah jika perbuatannya merugikan orang lain.

Mereka tahu itu merugikan, tapi mereka tidak peduli karena cara pikir mereka berbeda.

Pengalaman dari James Fallon mungkin bisa jadi contoh.

Fallon adalah profesor neurosains dari University of California yang juga banyak berurusan dengan psikopat.

Satu hari, Fallon bertanya pada seorang psikopat, apakah dia menyesal telah menikam seorang perampok.

Jawaban si Psikopat, "Yang benar saja! Dia (si perampok) sengsara berbulan-bulan di rumah sakit dan aku membusuk di penjara. Aku tidak membunuhnya. Aku mencoba membebaskannya dari sengsara. Kalau aku membunuh, akan kulakukan dengan cara mengiris tenggorokannya (bukan dengan menikam). Seperti itulah aku. Aku mencoba membebaskannya."

Ketika kita menyakiti seseorang atau sesuatu, rasa sakit orang atau sesuatu itu akan membuat kita menyesal. Mengapa kita harus menyakitinya?

Sebaliknya, menjadi seorang penolong, akan membuat kita bahagia. Empati ini mungkin tidak akan Anda lihat pada seorang psikopat.

Emosi psikopat bukan emosi spontan

Christian Keysers Ph.D., kepala laboratorium Netherlands Institute for Neuroscience dan tim mengadakan penelitian selama dua dekade untuk membuktikan, apakah memang benar psikopat tidak memiliki empati.

Tim membawa 21 terpidana psikopat pelaku kekerasan untuk melakukan scan otak.

Setiap pasien ditunjukkan adegan film yang memperlihatkan orang-orang menyakiti satu sama lain sementara aktivitas otak mereka diukur dengan menggunakan fMRI.

Pertama, pasien hanya diberitahu untuk menonton film dengan hati-hati.

Kemudian, Harma Meffert, mahasiswa doktoral yang terlibat dalam penelitian pergi ke ruang scanner dan memukul tangan para psikopat untuk melokalisasi daerah otak yang mengatur reaksi atas sentuhan dan rasa sakit.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved