Anaknya Aniaya Polisi, Nasran Mone Minta Maaf
Permohonan maaf kepada korban Bripka Mulyadi yang juga merupakan Polisi Lalulintas Polda Sulselbar.
Penulis: Alfian | Editor: Suryana Anas
Laporan Wartawan Tribun Timur, Alfian
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR- Terkait kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan anaknya, Nasran Mone yang juga merupakan politis Partai Golkar Makassar menyampaikan permohonan maaf kepada korban Bripka Mulyadi yang juga merupakan Polisi Lalulintas Polda Sulselbar.
Selain kepada korban, Nasran Mone juga meminta maaf kepada institusi kepolisian. Hal itu disampaikan saat ditemui di Warkop Phoenam Jl Jampea Makassar, Senin siang (4/1/2016).
"Kasus ini bisa kita selesaikan secara kekeluargaan, saya minta kebijaksanaan dari kepolisian ini cuma kesalapahaman saya pribadi telah temui Mulyadi saat di Polsek Mariso kemarin dan saya minta maaf," ujar Mantan Anggota legislatif kota Makassar itu.
Sebelumnya, karena tersinggung saat mobilnya terhalang melintas di Jl Mappanyukki, Irfan yang merupakan anak kandung Politisi Golkar Makassar, Nasran Mone, memukul anggota satuan lalu lintas Polda Sulselbar, Bripka Mulyadi, Minggu (3/1/15) sekitar pukul 14.00 wita.
Kejadiannya berawal saat Bripka Mulyadi yang melintas di Lorong samping Kantor Samsat Makassar Jl Mappanyukki. Ia melihat terjadi kemacetan di lorong tersebut sehingga berinisiatif turun dari mobilnya dan mengatur lalu lintas.
Ia yang saat itu memarkir mobilnya di badan jalan menghalangi mobil Irfan yang juga ingin melintas. Bripka Mulyadi menghampiri Irfan dan mengatakan agar Irfan sedikit bersabar.
"Saya lewat ada itu lorong yang satu arah dari Ratulangi ke Mappanyukki, terjadi kemacetan jadi saya inisiatif turun mengatur meskipun saya waktu itu tidak pakai seragamku cuma pakaian preman, terus itu bapak saya belum tahu namanya menegur dan megklakson terus makanya saya hampiri bilang sabar pak saya ini anggota lantas," jelas Mulyadi.
Mulyadi mengaku dipukul pada bagian kepala, punggung dan perut oleh kedua orang tersebut. Kejadian itu berlangsung depan Warkop Dottoro yang merupakan milik Irfan. Namun ia tetap tidak melawan. Beberapa warga sekitar yang melihat kejadian melerai. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/nasran-nelpon_20160104_165431.jpg)