Pencatutan Nama Jokowi
Demonstran: Siapa yang Harus Turun? Novanto!
Tri bersama perempuan lainnya ikut bersuara terkait kasus Novanto.
JAKARTA, TRIBUN-TIMUR.COM - Suara lantang keluar dari dalam mulut Tri Mumpuni, perempuan yang tergabung dalam Kelompok Perempuan Antikorupsi.
Tri dengan tegas meminta Ketua DPR RI Setya Novanto untuk turun dari jabatannya karena dianggap telah mencederai masyarakat.
Setya memang menjadi sorotan setelah rekaman pembicaraannya terungkap, yang diduga mencatut nama Presiden dan Wapres demi mendapatkan saham PT Freeport Indonesia.
"Siapa yang harus turun? Novanto!" kata Tri, yang diikuti oleh ratusan orang saat aksi Hari Antikorupsi di depan Gedung DPR, Jakarta, Selasa (8/12/2015).
Tri bersama perempuan lainnya ikut bersuara terkait kasus Novanto.
Lewat suara terbuka yang dibacakan, Tri, mewakili perempuan di Indonesia, meminta Novanto untuk meminta maaf dan turun dari jabatannya.
"Saudara (Novanto) telah mewariskan warisan moral terburuk seorang pemimpin anak bangsa," ucap Tri.
"Bangsa ini akan selamanya diingatkan tentang betapa tidak pentingnya seorang pemimpin memiliki karakter, etika, dan moral," ucapnya terkait cerminan Novanto dalam warisan buruk anak bangsa.
Delapan keprihatinan lainnya terkait kasus Novanto ialah teladan buruk, miskin integritas, miskin etika moral dan kepemimpinan, tidak mampu menjunjung tinggi kebenaran, tidak amanah, keuntungan di atas tertindas, tidak menyesali, dan mengingkari sumpah.
Tri melanjutkan, koalisi tersebut juga menyuarakan suara dari daerah pemilihan Setya Novanto di Kupang, Nusa Tenggara Timur, yakni Sarah Lety Mboeik dan Conny Tiluwata.(kahfi dirga cahya)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/setya-novvv_20151207_085641.jpg)