Breaking News:

Mulai 2016 Lulusan Teknik Tak Langsung Jadi Insinyur, Pendidikan Profesi Dulu

Calon insinyur akan wajib menempuh pendidikan selama 5 tahun lamanya pada tahun 2016.

TRIBUN TIMUR/MUNAWWARAH AHMAD
Acara a half day seminar pada hari Sabtu (5/12/15) di kampus Teknik Unhas Gowa, yang dilaksanakan oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Makassar, bekerjasama dengan Ikatan Alumni (IKA) Fakultas Teknik Unhas. 

Laporan Wartawan Tribun Timur Munawwarah Ahmad

GOWA, TRIBUN-TIMUR.COM - Calon insinyur akan wajib menempuh pendidikan selama 5 tahun lamanya pada tahun 2016. Hal ini tentu berbeda dengan insinyur-insinyur yang telah berbagai Universitas di Makassar lahirkan, setelah sebelumnya hanya mengenyam pendidikan di bangku kuliah selama 4 tahun saja.

Hal tersebut disebabkan lahirnya undang-undang No.11/2014 yang diundangkan pada 22 Maret 2014. Undang-undang ini disusun guna untuk meningkatkan kompetensi sarjana teknik yang dalam ini berkiprah didunia keinsinyuran. Peran insinyur ke depannya akan ditingkatkan di berbagai sektor pembangunan agar Indonesia mampu bersaing secara global. Apalagi pertanggal 1 Januari 2016, Indonesia akan menghadapi ASEAN Economic Community yang mana membuka peluang insinyur-insinyur asing untuk berkarir di tanah air.

Hal tersebut diungkapkan oleh Mantan Direktur Jenderal Perguruan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi, Prof Djoko Santoso, MSc IPU, yang kini menjadi ketua tim implementasi UU keinsinyuran, pada acara a half day seminar pada hari Sabtu (5/12/15) di kampus Teknik Unhas Gowa, yang dilaksanakan oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Makassar, bekerjasama dengan Ikatan Alumni (IKA) Fakultas Teknik Unhas.

Djoko mengungkapkan mulai 2016, seluruh sarjana teknik diwajibkan untuk mengikuti sekolah kompetensi profesi untuk mendapatkan gelar Insinyur selama enam bulan, setelah menjadi Sarjana Teknik. Dengan adanya pendidikan profesi ini diharapkan lulusan-lulusan program studi teknik memiliki daya saing yang tinggi, terutama dengan para lulusan luar negeri. Diharapkan, dengan adanya peningkatan kompetensi, peran insinyur pun dapat lebih ditingkatkan di industri nasional.

Sementara Direktur Eksekutif Persatuan Insinyur Indonesia (PII) pusat, Ir Faizal Safa MSc PM memaparkan tentang perlindungan terhadap insinyur. Dalam ulasannya didepan para alumni, dosen dan mahasiswa pasca sarjana, dijelaskan bahwa undang-undang tentang keinsinyuran terdapat bahasan advokasi perlindungan hukum.

Tidak hanya sampai disitu, untuk menggapai lisensi insinyur profesional, para Ir harus bekerja dulu beberapa tahun di beberapa perusahaan untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI) yang hanya akan dikeluarkan oleh Dewan Insinyur Indonesia. Setelah itu didapatkan, maka para Ir ber STRI ini akan lebih mudah bekerja dimana saja dan tentunya siap menyongsong MEA yang nampaknya bersaing sengit dipasaran nanti.

"Kalau para mahasiswa sudah berhasil mendapatkan STRI, maka dengan mudahnya akan mendapatkan pekerjaan diluar sana. Dan tentunya kualitas yang mendapatkan dan tidak, hampir tidak akan pernah sama dan tentu pemilik STRI lebih mumpuni keahliannya dalam keinsinyuran. Barulah setelah itu bisa dikatakan siap bekerja. Selama ini kan, yang kuliah 4 tahun tidak siap untuk bekerja. Makanya sejak 2005, teman-teman sudah mengusulkan program Pendidikan Profesi Insinyur ini untuk meningkatkan mutu," ujar wakil ketua Ikatan arsitektur indonesia (IAI) pusat Muaz Yahya usai seminar.(*)

Penulis: Munawwarah Ahmad
Editor: Ina Maharani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved