Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Ada Pecahan Rp 10 di Museum Fitzwilliam Cambridge

Di kaca pamer di Ground Flour, ada uang kertas pecahan Rp 10.

Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Anita Kusuma Wardana
TRIBUN TIMUR/THAMZIL THAHIR
Uang pecahan Rp 10 dipamerkan di Museum Fitzwilliam, Cambridge, United Kingdom 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Thamzil Thahir

TRIBUN-TIMUR.COM,CAMBRIDGE-Seperti kota-kota lain di Eropa, Cambridge, United Kingdom (UK) juga menjadikan museum sebagai investasi kota. Museum Fitzwilliam di Trumpington Street, sekitar 1 km dari King Colleges, mengkonfirmasikan betapa pentingnya pemerintah kota ikut menata bukti-bukti authentik peradaban itu.
Di Museum ini benda yang dipamerkan adalah artefak, karya seni abad pertengahan hingga karya kontemporer abad mutakhir.

"Terlalu banyak yang bisa dilihat disini, satu jam tidaklah cukup, butuh 2 hari untuk mengerti dan tahu detail karya seni dunia di sini," kata Rachel (39), staf pengajar di Language Studie International (LSI) Cambridge, yang mendampingi program social culture 62 siswa Bosowa School International di Cambridge, sejak akhir pekan lalu.

Museum berlantai 3 ini adalah obyek keempat yang dikunjungi para siswa dari Bina Insani Bogor dan Bosowa International School Makassar, setelah King Collegge, Cambridge University, dan King Chapel College.

Memang tak cukup sehari untuk menjelajahi Museum yang dibangun 7th Viscount Fitzwilliam of Merrion, tahun 1816 ini. Ada lebih 500 ribu koleksi karya seni, di gedung berarsitektur Roma ini. Di lantai utama, koleksi asal Roma, Italia, memang mendominasi. Termasuk museum yang dinamis, artefak dan karya seni dari tahun 2500 sebelum masehi, hingga karya seni kontemporer berupa kartun di koran-koran Eropa, dipamerkan.

Karena dianggap bernilai seni tinggi oleh Marlay Curator, semua benda sini "Fully Don't Touch it" tak bisa disentuh. Hanya boleh dilihat atau dipelototi. Karya seni dominan adalah lukisan, patung, poselin, dan benda-bemda simbol perang, dan pemerintahan masa lalu. Mumi dan peti mayat Firaun juga dapat ruangan khusus. Menonjol dan menarik perhatian. Sayangnya, Megan Rondl, tour guide yang Mendampingi grup B, satu dari 5 group tur, lebih banyak menjelaskan tentang lukisan.

"Saya memang pengagum Monet," kata pria yang sudah bercucu 10 ini.

Kamera ponsel dan digital para siswa sentak berbunyi, saat sampai di ruang Asia Pasific dan Asia Timur. Ada apa?. Di kaca pamer di Ground Flour, ada uang kertas pecahan Rp 10.

"It's our money," kata Irfan, siswa kelas XII SMA Bosowa School Makassar.

Temannya yang lain pun menimpali dengan tawa yang tertahan.

"Hi, mamamu saja belum lahir saat uang itu dipakai belanja di Indonesia," kata temanya yang lain.

Uang kartal itu bergambar Gatot Kaca. Pecahan "Seopoleh Ruppiah" itu dicetak tahun 1944. Itu era penjajahan Jepang. Memang ada tulisan Dai Nippon Teikoko Seihu di sisi atas uang berwarna merah muda itu. Tulisan lainnya, Nedelands East Indie Japanese.

Dari atribut keterangan di sisi koleksi itu, tertulis baru jadi koleksi baru museum tahun 2015. Disampingnya ada uang Philipina, Malaysia, Birma, dan Thailand.

"Itu koleksi terbaru kami," kata Tim Knox, Director and Marlay Curator, pengelola museum yang saban 3 bulan ditinjau ulang oleh fakultas sejarah dan seni Cambridge University.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved