Diskusi PKI
Aswar Hasan Minta Mahasiswa Pelajari Komunisme
“Waspada itu penting, mengingat komunis tidak mengenal kalah ataupun menang, melainkan pasang dan surut,” tegas Aswar.
Penulis: Munawwarah Ahmad | Editor: AS Kambie
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - SEKOLAH Kebangsaan bekerjasama dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO Cabang Makassar, dan Perhimpunan Mahasiswa dan Masyarakat Anti Korupsi (Permak) Sulsel menggelar diskusi di Tribun Timur, Jl Cendrawasi 430, Makassar, Senin (5/10/2015) sore.
Diskusi membahas tema Bahaya Laten Komunisme Jangan Dianggap Remeh. Kegiatan ini dihadiri 40an mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Hadir sebagai pembicara, pengamat politik kebangsaan Arqam Azikin, pengamat komunikasi politik Unhas Dr Aswar Hasan, dan Sekretaris PAN Sulsel Buhari Kahar Mudzakkar.
“Diskusi ini juga merefleksi peristiwa Madiun 1948, 30 September 1965, 1 Oktober 1965, dan 5 Oktober 1945,” kata Sekretaris Sekolah Kebangsaan sekaligus penanggung jawab diskusi, Aspar, .
Aswar meminta para mahasiswa sebagai unjung tombak negeri ini untuk mempelajari kembali tentang komunisme.
“Bagaimana komunisme itu di Indonesia serta mempelajari tanda-tanda dan siklus kemunculannya. Karena kita tidak akan pernah tahu komunis itu di mana dan seperti apa bentuknya,” jelas Aswar.
Menurutnya, komunisme tidak pernah mati. “Waspada itu penting, mengingat komunis tidak mengenal kalah ataupun menang, melainkan pasang dan surut,” tegas Aswar.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/aswar-hasan1_20150609_185830.jpg)