ASSIKALAIBINENG Kamasutra Versi Bugis
Mau Anak Putih, Bersetubuh Usai Jam 5 Subuh
Sebab ternyata, persoalan waktu amat berdampak psikologis maupun biologis, terutama pihak istri.
Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Edi Sumardi
TRIBUN-TIMUR.COM - Teknik bertahan dalam persetubuhan menjadi hal yang sangat penting dan dapat tempat khusus dalam Assikalaibineng. Dan sekali lagi, pihak suami menjadi faktor kunci.
Kitab peretubuhan Bugis ini tahu betul bahwa pihak suami senantiasa lebih cepat menyelesaikan hubungan ketimbang perempuan.
Menenangkan diri, sabar, konsentrasi, dan memulai dengan kalimat taksim amat disarankan sebelum foreplay.
Manuskrip Assikalaibineng amat mementingkan kualitas hubungan badan ketimbang frekuensi atau multiorgasme.
Assikalaibineng adalah ilmu menahan nafsu, melatih jiwa untuk tetap konsentrasi dan tak dikalahkan oleh hawa nafsu.
Namun pada intinya, Assikalaibineng bukanlah lelaku atau tasawwuf untuk berhubungan badan. Lebih dari itu assikalaibnineng adalah tahapan awal untuk membuat anak yang cerdas, beriman, memiliki fisik yang sehat.
Inti dari ajaran ini adalah bagaimana mencetak generasi pelanjut sesuai tuntutan agama.
(h151).
Banyak teori seksualitas menyebut bahwa potensi enjakulasi sebagai puncak kenikmatan seksual bagi laki-laki lebih tinggi atau lebih cepat diperoleh tinimbang perempuan.
Perbandingannya jauh. Delapan kali untuk suami, dan 1 kali bagi istri.
Bahkan, dapat saja seorang istri tidak pernah sekalipun merasakan orgasme setelah sekian kali berhubungan badan, bahkan sekian lama hidup berumah tangga.
“Assikalaibaineng, mengkalim bahwa ini terjadi karena pihak suami kerap sama sekali tak tahu atau bahkan tak mau tahu dengan lelaku seks yang mengedepankan kualitas.”
Mengutip sebuah buku lelaku seks sesuai ajaran Islam, yang diterbitkan di Kuala Lumpur, dalam catatan kaki di halaman 164, penulisnya, Muhlis Hadrawi, memberi komentar; “Hampir 99 persen lemah syahwat (kelemahan nafsu jantan) adalah timbul dari sebab-sebab kerohanian. Emonde Boas, seorang dokter asal Amerika bahkan pernah melakukan penelitian, dari 1400 lelaki yang didata mengidap penyakit lemah syahwat, hanya tujuh yang lemah karena sebab-sebab jasmani, yang lainya karena sebab rohani atau psikologis.”
Dia melanjutkan, “unsur kejiwaanlah yang menyumbang faktor terbesar sekaligus penggerak seseorang berhubungan seks. Sedangkan tubuh dan alat reproduksi hanya merupakan alat pemuas kejiwaan seseorang.”
Sedangkan teknik mengelola nafas dengan zikir, cara penetrasi, dan menutup hubungan dengan pijitan ke sejumlah titik rangsangan perempuan, dan menemani istri tertidur dalam satu selimut atau sarung merupakan bentuk akhir menjaga kualitas hubungan.
Pengetahuan praktis seperti waktu yang baik dan kurang baik untuk berhubungan badan juga secara rinci diatur dalam kitab ini. “Tidak sepanjang satu malam menjadi masa yang tepat untuk bersetubuh.” (hal 166)
Terdapat keterkaitan waktu bersetubuh dengan kualitas anak yang terbuahi, warna kulit anak misalnya.
Untuk memperoleh anak berkulit putih, peretubuhan dilakukan setelah isya. Untuk anak yang berkulit hitam, persetubuhan dilakukan tengah malam (sebelum shalat tahajjud), anak yang warna kulitnya kemerah-memerahan dilakukan antara Isya dan tengah malam.
Sedangkan untuk anak berkulit putih bercahaya, persetubuhan dilakukan dengan memperkirakan berakhirnya masa terbit fajar di pagi hari.
Atau lebih tepatnya dilakukan usai salat subuh, antara pukul 05.15 hingga pukul 06.00 pagi jika itu waktu di Indonesia.
Rekomendasi “jadwal” bersetubuh Ini sekaligus upaya mempermudah mandi junub (bersih-bersih usai bersetubuh), dalam fikih Islam.
Secara khusus kitab ini menuntut pihak suami sebagai inisiator dan mengingatkan kepada istri, agar menyesuaikan waktu tidur dengan keinginan melakukan persetubuhan.
Sebab ternyata, persoalan waktu amat berdampak psikologis maupun biologis, terutama pihak istri.
Teks assikalaibineng secara spesifik menyebutkan adanya kaitan waktu tidur istri dengan ajakan suami bersetubuh.
Assikalaibineng A hal 72-73 menyebutkan, “bila suami mengajak istri berhubungan saat menjelang tidur, maka ia merasakan dirinya diperlakukan [penuh kasih sayang (ricirinnai) dan dihargai (ripakalebbiri).
Tetapi jika istri tengah pulas, lantas suami membangunkan untuk bersetubuh, maka istri akan merasa diperlakukan laiknya budak seks, yang diistilahkan dengan ripatinro jemma’.
Soal bangun membangunkan istri yang tidur pulas, Assikalaibineng juga memberikan cara efektif. Kitab ini sepertinya tahu betul, bahwa jika usai orgasme sang istri biasanya langsung tertidur.
Untuk menunnjukkan kasih sayang, maka usai berhubungan lelaki bisa mengambil air, lalu mercikkan satu dua tetas ke muka istri.
Setelah istri terbangun, lelaki memberikan pijitan awal di antara kening, mata, menciumi ubun-ubun, memijit bagian panggul lalu bercakap-cakap sejenak.
Yakinlah, percakapan ini bagi istri akan selalu diingat dan membuat kalian bangga saling “memiliki”. (thamzil thahir)
SELANJUTNYA >> 12 Titik Erotis Wanita Bugis