Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Ulasan Bola Willy Kumurur

Barcelona vs PSG, Menanti Mukjizat dalam Kebebasan

oleh Willy Kumurur, penikmat bola

Editor: Ina Maharani

oleh Willy Kumurur, penikmat bola

 
 

ANDAI FILSUF MASYHUR PERANCIS, Jean Paul Sartre, masih hidup, ia mungkin akan membenamkan pahamnya kepada Paris Saint-Germain (PSG), yang kalah 1-3 dari Barcelona di kandang PSG, Parc Des Princes, Paris, bahwa hakekat manusia adalah kebebasan dan kebebasan itu bersifat mutlak. Di antara semua makhluk, hanya manusia yang memiliki kebebasan itu. Disebut mutlak karena inilah yang menjadi syarat bagi pengembangan dan pembangunan diri manusia. Manusia dituntut untuk tidak berhenti pada dirinya sendiri melainkan berusaha untuk mengubah dirinya. Usaha ini disertai dengan pelbagai keputusan atas pilihan-pilihan yang dapat dipilih manusia itu sendiri. Ia mesti menentukan untuk dirinya sendiri dan untuk seluruh umat manusia. Filsafat Sartre ini pantas dikedepankan karena pelatih PSG, Laurent Blanc, pernah berujar, "Gaya Barca bermain, mentalitas, filsafat, benar-benar sebuah contoh bagi kita. Mereka selalu ingin menguasai bola." Blanc melanjutkan, “Orang-orang mengatakan bahwa adalah membosankan melawan Barca, namun hanya orang-orang yang tidak bermain sepak bola yang dapat mengatakannya."

Di tengah perasaan kemustahilan untuk mengejar defisit dua gol dari Los Blaugrana, pemain bertahan PSG, Marquinhos, tampil membebaskan diri dari perasaan ketidak-mungkinan dengan meminta rekan-rekannya untuk tidak kehilangan harapan, menjelang duel leg kedua perempat final Liga Champions di kandang The Catalan, Camp Nou dinihari nanti. Namun di tengah “kebebasan”nya itu, Marquinhos, “terpengaruh” oleh suporter setia PSG yaitu filsuf Perancis lainnya, Jacques Derrida, yang dalam kumpulan esainya Psyche menulis bahwa sikap yang tepat adalah menunggu, menginginkan, dan bersiap bagi masa depan. Marquinhos pun berada dalam penantian: menunggu keajaiban terjadi di Camp Nou dini hari nanti, yang diraih melalui kerja keras.

Kembali bermainnya predator PSG, Zlatan Ibrahimovic, dari akumulasi kartu merah, membangkitkan asa PSG untuk mempermalukan Barca di depan pendukungnya di Camp Nou.

Namun benarkah mukjizat dapat dengan mudah “jatuh dari langit” buat PSG? El Blaugrana punya La Purga (Si Kutu) Lionel Messi, El Pistolero (The Gunman), Luis Suarez yang kian tajam menyayat gawang lawan serta Neymar. Trisula maut berjuluk MSN (Messi-Suarez-Neymar). Pasukan Luiz Enrique ini adalah mesin-mesin perang yang bekerja dalam semangat tim, bernafasan kebebasan dalam kreativitas tinggi. Legenda Prancis, Jean-Pierre Papin, mengutarakan penilaiannya terhadap pasukan Catalan ini, “Barca punya trio emas. Messi bermain di level yang berbeda. Tatkala motivasinya sedang rendah, ia memang nampak seperti berjalan saja. Tetapi, jika yang terjadi sebaliknya, ia bagaikan terbang. Sedangkan Neymar amat ganas jika Anda memberinya ruang terbuka.”

Satre dan Derrida telah lama pergi. Mereka tak akan dapat menyaksikan PSG bertempur di gelanggang, dan tak akan bisa membuktikan apakah filsafat kebebasan dan destruksi diterjemahkan ke panggung oleh pasukan Blanc. Kitalah yang kelak menjadi saksi betapa sengitnya pertempuran di medan perang bernama Camp Nou.***

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved