Rupiah Melemah, Pengembang Dilema Hadapi Pasar
Membuat pengembang hunian kelas menengah atas dilema menghadapi pasar properti
Penulis: Andi Chaerul Fadli | Editor: Suryana Anas
Laporan Wartawan Tribun Timur, Chaerul Fadli
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Melemahnya rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) bisa membuat pengembang hunian kelas menengah atas dilema menghadapi pasar properti. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, nilai tukar rupiah terjerembab di posisi Rp 13.047 per dollar AS.
Jika dibiarkan berlarut-larut, hal ini bisa mendongkrak harga komponen impor pada hunian kelas menengah atas. Pengaruhnya berimbas pada harga hunian yang cenderung meningkat.
Berdasarkan catatan Asosiasi Pengusaha Nasional Indonesia (Apindo) Sulsel Bidang Properti, Pembangunan, dan Pengembangan Kawasan, komponen impor pada hunian middle-up sekitar 30 persen dari keseluruhan komponen bangunan.
"Beda dengan hunian menengah bawah yang pengaruhnya tidak begitu besar karena komponen impornya rerata tidak begitu besar," ujar Kordinator Properti, Pembangunan, dan Pengembangan Kawasan DPD Apindo Sulsel, Ambo Ala, Selasa (10/3/2015).
Di satu sisi, pengembang cenderung meningkatkan harga agar selisih biaya pembangunan bisa tertutupi. Nah, di sisi lainnya, pemerintah berencana memberikan penambahan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) hingga 20 persen untuk hunian seharga Rp 2 miliar.
Ambo memperkirakan, jika harga material impor naik, maka kenaikan harga hunian kelas menengah sekitar 5-10 persen. Misalkan, kalau harga hunian sebelumnya hampir Rp 2 miliar, lantas kenaikan terjadi. Bisa saja mencapai Rp 2 miliar dan dikenai PPnBM, jika sudah berlaku. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ambo-ala3.jpg)