Andi Oddang Meninggal
Andi Oddang Menolak Disebut Raja
Oddang butuh waktu mengambil keputusan.
TRIBUN-TIMUR.COM - Andi Oddang keturunan langsung raja Tallo ke-17, Makkarumpa Daeng Parani. Tak heran, jika banyak pemimpin tradisional di Tallo menginginkan Oddang mempertahankan gelar Gallarang. Tujuannya untuk mejaga tradisi dan budaya Tallo tetap terpelihara.
Oddang butuh waktu mengambil keputusan. Pasalnya, karirnya di militer tentu kontras dengan nilai-nilai feodalisme yang seolah ingin dibangkitkan kembali. Idealisme Oddang dibentur ketakutannya akan stigma mencari kekuasaan dan gelar kebangsawanan.
"Lama saya mempertimbangkan usulan masyarakat ini, apa mudharatnya dan kebaikkannya sebelum saya menyetujuinya," katanya pada buku Memoar Brigjen Purnawirawan Andi Oddang Untuk Merah Putih.
Buku yang kali pertamanya terbit 2012 ini mengulas masa hidup Oddang. Mulai masa kecilnya, karir kemiliteran, hingga pelantikannya sebagai "Raja" Tallo.
Oddang menerima usulan para tetuah adat Tallo waktu itu. Akhirnya, ia dilantik 16 Oktober 2008 di Timungan Karama ri Tallo sebagai Raja Tallo ke-19 secara sederhana.
Apakah Oddang masih Raja Tallo? Kerabatnya, Prof Dr Andi Ima Kesuma mengatakan, Oddang menolak disebut sebagai raja. "Lebih pantasnya disebut sebagai pemangku adat. Tahun 1952, struktur pemerintahan kerajaan sudah tidak ada. yang ada tinggal pemangku adat," katanya.
Ima menjelaskan, hal tersebut menggambarkan sososk sederhana dan rendah hati dari Oddang. sifat dan sikap tersebut patut dicontoh pemuda saat ini. "Kita sangat kehilangan sosok sederhana di Sulsel. Selain itu, beliau juga termasuk orang yang tegas karena karir militernya dan sifatnya yang ke-bapak-an," katanya.
Kesederhanaan itu tergambar dari cerita pelantikannya yang tidak terkesan glamour dengan tetamu pejabat. Alasannya, upacara tersebut merupakan upacara adat.