Catatan Bola Andi Suruji
PSM "Menggulung" Ombak
Mari kita tengok ke belakang. Tahun 2005, PSM hanya mampu menjadi runner-up, saat manajernya Erwin Aksa. Setelah itu, PSM terasa terpuruk
Turn around a tide, kira-kira begitu bahasa Inggris judul tulisan ini. Bukan sebaliknya, PSM tergulung gelombang dahsyat kompetisi Super Liga Indonesia.
Ada kerinduan publik sepakbola Makassar, bahkan masyarakat Sulawesi Selatan secara umum, PSM bisa juara lagi tahun ini. Apakah harapan itu berlebihan? Apakah Anak-anak Ramang akan menggulung Ombak?Jawabannya bisa ya, bisa tidak.
Melihat persiapan internal dan prestasi dalam satu dekade terakhir, rasanya memang agak berat. Bahkan tahun lalu boleh dikata PSM tidak terkelola baik. Itu kalau dilihat dari sisi pandang dan fakta bahwa PSM harus hengkang bermarkas di daerah orang lain.
Pada sisi lain, tim-tim lawan juga tentu memendam harapan yang sama, bertekad juara. Persiapan baik juga mereka lakukan. Kompetisi bisa ketat dan melelahkan.
Mari kita tengok ke belakang. Tahun 2005, PSM hanya mampu menjadi runner-up, saat manajernya Erwin Aksa. Setelah itu, PSM terasa terpuruk.
Tahun 2000 terakhir kali PSM juara kompetisi, di bawah kepemimpinan Nurdin Halid. sebelumnya, PSM juara pada tahun 1992, saat PSM dilatih Syamsuddin Umar dan Manajernya Suwahyo, Walikota Makassar.
Luar biasa sambutan masyarakat terhadap para pemain sekenbalinya dari Senayan. Mereka dijemput sejak dari Bandara. Mereka diarak keliling kota, laksana pasukan perang tang baru saja kembali sari medan perang dan memenangkan pertempuran.
Maka wajarlah jika publik sepak bola Makassar rindu PSM kembali mengukir prestasi juara. Dalam persiapan teknis yang tidak optimal, ada momentum yang bisa melesatkan PSM ke puncak kompetisi.
Pertama, PSM kembali bermarkas di Makassar. Dikenal luas publik bahwa "Anak-anak Ramang" memiliki motivasi luar biasa jika berlaga di kandang sendiri, ditonton belasan ribu publiknya. Faktor motivasi seringkali memberikan energi positif yang luar biasa besar.
Kedua, PSM kini dilatih pelatih asing. Semoga teknik bermain yang baik segera diterapkan, dan membentuk tim yang kompak, bermotivasi tinggi, serta berketerampilan bermain yang baik pula. Patut dicatat, pelatih asing hanyalah tambahan pelengkap. Yang utama adalah motivasi pemain untuk mempersembahkan yang terbaik bagi dirinya, keluarganya, dan para penggemarnya.
Ketiga, PSM tahun ini akan memeringati hari jadinya yang ke-100 pada 2 November. Usia 100 tahun bagi sebuah organisasi sepakbola bukanlah waktu yang pendek. Bahkan PSM disebut-sebut oleh media asing sebagai salah satu klub sepakbola tertua di Asia. Selama usianya itu, PSM beberapa kali menjadi juara dan mengangkat piala di puncak kompetisi. Dalam usia yang panjang itu, PSM memang mengalami pasang surutnya prestasi. Akan tetapi, PSM selalu tercatat sebagai tim papan atas sepak bola nasional. Kontribusinya dalam pembentukan tim nasional pun selalu diperhitungkan.
Apakah momentum 100 tahun usia PSM hanya akan menjadi pesta hura-hura yang sporadis di luar arena pertandingan? Jawaban dari pertanyaan itu adalah sejauh mana kita semua penggemar PSM mau bersatu padu, bergotong royong, tidak saling sikut dan menjatuhkan, namun mengambil peran dan berkontribusi maksimal dalam menyemangati Anak-anak Ramang itu meraih puncak kompetisi. Viva Makassar Voetbal Bond.(*)
Andi Suruji, wartawan