Catatan Bola Andi Suruji
PSM dan Garring Coto
JK tidak asal omong. Ia sahih bertitah seperti itu. JK pernah dan lama mengurus PSM. Juga pernah mengurus Makassar Utama,
MENANG, apalagi juara itu indah, kalah adalah sakit dan pesakitan.
"Kalau tim menang, kita bisa berdiskusi sampai pagi dan pasti kita dipuji-puji di koran. Tetapi kalau kita kalah, semua terunduk lesu dan sedih, esoknya kita dicaci dan disalah-salahkan di koran," demikian HM Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI, pernah berkata tentang suka duka mengurus tim sepak bola.
JK tidak asal omong. Ia sahih bertitah seperti itu. JK pernah dan lama mengurus PSM. Juga pernah mengurus Makassar Utama, walaupun ia juga membubarkan klub Galatama tersebut.
Kalah memang menyakitkan. Lebih pedih dan perih lagi kalau klub kesayangan dan kebanggaan kita bertanding dan "berkandang" di luar jangkauan pandangan kita untuk menonton dan memberinya semangat. Itulah yang dirasakan para pencinta PSM dalam musim kompetisi lalu.
Anak-anak PSM yang dijuluki tim Juku Eja seolah bertarung dalam senyap. Tidak ada lagi gemuruh suara penonton yang seolah hendak meruntuhkan stadion manakala PSM berlaga di Mattoangin. Tak terdengar lagi teriakan tepoki (patahkan) dari tribun penonton manakala pertahanan PSM diserang lawan.
Para penggemarnya hanya menunggu laporan media, karena tidak dapat hadir di stadion. Pasal semua itu adalah tidak lolosnya Stadion Mattoangin sebagai tempat bertanding, di mana PSM harusnya menjamu semua tim lawan. PSM terpaksa bermarkas di Surabaya.
Sedih memang, karena PSM harus merantau untuk sekadar mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu kelab elite negeri ini. PSM harus angkat kaki dari rumahnya dan jauh dari keluarga sendiri. Penggemar PSM adalah keluarga para pemain.
Kerinduan para penggemar PSM tentulah bisa terobati dengan kembalinya "Anak-anak Ramang" bermarkas di Makassar dalam laga Liga Super mendatang. Keputusan penting Bosowa sebagai pemilik kelab, yang dipimpin Erwin Aksa selaku Chief Executive Officer, untuk mengembalikan PSM bermarkas di Makassar tentu saja patut diapresiasi.
Hiruk-pikuk media memberitakan soal kontroversi markas PSM. Di Makassar atau daerah lain, seperti Surabaya atau Banyuwangi. "Apa kata dunia" jika Persatuan Sepakbola Makassar justru bermarkas di Surabaya atau Banyuwangi... Mungkin lebih baik diganti nama PSM menjadi PSS atau PSB.
Kembalinya PSM ke Makassar ibarat oase di tengah padang pasir. Airnya bakal membasahi tenggorokan yang haus menelan makanan dan minuman enak. Bagaimana dan seperti apa pun permainan anak-anak "ayam jantan dari timur" itu kelak di lapangan pertandingan, boleh jadi akan tetap terasa lezat seperti masakan coto bagi orang-orang Bugis-Makassar yang telah setahun tidak menyantap coto. Garring coto.
Setuju..?
Apakah pelatih asing, duet Alfred Riedl dan Hans Schaller mampu menghidangkan "Coto Makassar" nikmat bagi mereka yang garring coto di Stadion Mattoanging? Kita berharap mereka mampu menunjukkan kelasnya dalam menggodok bahan yang ada dan menyajikannya lebih nikmat.
Ya sebuah tontonan yang menghibur, mengobati luka hati para "PSM Lovers".
Selain Bosowa, pengurus, pelatih dan pemain, semua stakeholder terutama tokoh olahraga dan khususnya sepakbola, mantan pelatih, mantan pemain, pemerintah setempat, serta para pecandu PSM yang mungkin sudah turun temurun dalam hitungan sampai tiga generasi, kini waktunya bersatu padu menjalin kekompakan mendukung PSM, tanpa harus diminta.
Tabe Karaeng, ikatte ngaseng mi antu, paetengngi siri'na "pe-es-em"....!
Andi Suruji, wartawan (*