10 Tokoh Peraih Mattulada Award
Prof Dr Andi Mattulada (1928-2000) adalah nama tokoh budayawan Sulsel yang ikut terlibat dalam sejarah pendirian Fakultas satra Unhas.
Penulis: AS Kambie | Editor: Thamzil Thahir
MAKASSAR, TRIBUN--Dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (Hut) ke 54, Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin (Unhas) menganugrahkan penghargaan kebudayaan,"Mattulada Award" kepada 10 tokoh kebudayaan Sulsel
Prof Dr Andi Mattulada (1928-2000) adalah nama tokoh budayawan Sulsel yang ikut terlibat dalam sejarah pendirian Fakultas satra Unhas.
Mantan Rektor Universitas Tadulako (1981-1990) ini meninggal dunia di usia 72 tahun, Kamis (12/10/2000) pukul 04.00 WITA.
Namanya kemudian menjadi nama penghargaan kebudayaan Unhas.
Hadir dalam penyerahan penghargaan tersebut Rektor Unhas, Dwia Ariestina, Ketua DPD RI, Irman Gusman dan Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta dan empat senator asal Sulsel, Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, AM Iqbal Parewangi, Adjiep Padindang, dan Bahar Ngitung. Hadir juga anggota DPD-RI asal Sulbar M Asri Anas.
Berikut 10 nama Tokoh Peraih Mattulada Award;
AGH Sanusi Baco
Maros, 4 April 1937
Ketua MUI Sulsel
Tokoh Panutan Keagaman Sulsel
HM Aksa Mahmud
Barru, 16 Junli 1945
Pengembangan Budaya Sulsel
HM Alwi Hamu
Sidrap, 28 Juli 1944
Pengembangan Seni Media di Sulsel
Syahrul Yasin Limpo
Makassar, 16 Maret 1955
Pemikiran dan Kebijakan Terhadap Seni Budaya
Mohammad Ramdhan Pomanto
Makassar, 30 Januari 1964
Kebijakan yang Berpihak Pada Seni dan Budaya
Zohra Andi Baso
Pangkep, 17 April 1952
Pejuang hak konsumen, Perempuan dan anak di Sulsel
Hamzah Daeng Mangemba
Polmas, 1931
Budayawan dan Perintis Fakultas Sastra Unhas
Anwar Ibrahim (alm)
Dosesn Fakultas Sastra Unhas
Aktifis kritis terhadap penguasa
Ida Joesoef Madjid (alm)
Bantaeng, 27 Mei 1945
Perintis tari empat etnis
Udhin Palisuri (alm)
Penyair dan Panglima Puisi
Dedikasi dan Prestasi
Ketua Ikatan Alumni Fakultas Sastra Unhas, Rahman Syah menjelaskan, pemberian anugrah tersebut berdasarkan berbagai kategori penilian, salah satunya adalah prestasi dan dedikasi dalam pengembangan kebudayaan di Sulsel.
"Mereka terbukti membangun peradaban dan mempertahankan kekayaan budaya Sulsel," kata Rahmansyah kepada Tribun.
Rahman Syah menilai Aksa Mahmud layak menerima penghargaan Mattulada Award karena mampu memberi ruang budaya dan mengembangkan peradaban.
"Beliau menerima penghargaan itu bukan sebagai pengusaha, tapi karena memiliki nasionalisme tinggi yang dengan posisinya memberi ruang budaya dan pengembangan peradaban," kata Rahman.
Sama halnya dengan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo telah membuktikan prestasi dan dedikasinya dalam pembangunan budaya.
"Pak gubernur tengah berusaha mendirikan institut seni budaya indonesia dan mencetak buku budaya melalui tulisannya," kata Rahman.
Dekan Fakultas Sastra Unhas, Burhanuddin Arafah menjelaskan, di usian Fakultas Sastra Unhas yang ke 54, Fakultas Sastra telah mencetak pejuang kebudayaan dan seni. Menurutnya, peran kepala daerah sangat dibutuhkan agar budaya Sulsel dapat terjaga.
"Syahrul banyak membantu inovasi pengembangan budaya dan bahasa daerah. Semoga ini bisa dilanjutkan," kata Burhanuddin. (yud)