Patriotisme atau Matriotisme?

sebenarnya lebih tepat dan penuh hormat bila kita menggunakan istilah ‘matriotisme’, cinta dan kesetiaan serta pembelaan Ibu Pertiwi.

Patriotisme atau Matriotisme?

Para pembaca kiranya sepakat bahwa topik ini paling aktual-relevan untuk menyambut peringatan kemerdekaan kita kali ini. Perjalanan melelahkan dari pesta demokrasi selama pileg maupun Pilpres 2014 yang masih berproses di MK, ancaman gerakan ISIS, krisis pangan dan energi karena ulah segelintir pejabat, mau tak mau akan membawa kita pada pertanyaan: tidakkah sedang terjadi krisis patriotisme bangsa kita? Namun lebih dulu kita perlu menggugat istilah ‘patriotisme’ yang sebenarnya kurang pas dengan konsep kita.
Patriotisme atau Matriotisme?
Secara etimologis-historis, ‘patriotisme’ berasal dari kata Latin abad ke-6 ‘patriota’ (Yun: ‘patriotes’), yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggeris ‘fatherland’ karena memang akar katanya adalah ‘pater’ (=bapak). Dalam konsep barat, tampaknya tanah-air itu berkasta maskulin, mungkin karena dikaitkan dengan perang untuk membela Tanah Air yang menjadi tugas khas para lelaki. Lalu dengan latah kita mengambil-alih istilah itu, meski konsep kita tentang tanah-air bukan maskulin melainkan justru feminin. Bagi kita tanah-air adalah Ibu (Latin: ‘mater’), yang kita sapa dengan hormat sebagai ‘Ibu Pertiwi’ karena kasih-sayang dan kesetiaanya yang tanpa batas. Kasih sayang Ibu Pertiwi sepanjang jalan tak berujung, seluas tanah dan wilayah udara Indonesia dan sedalam samudera serta laut-laut lepas dengan seluruh kekayaan alam yang dikandungnya untuk menghidupi seluruh rakyat, putera-puterinya. Kesetiaannya selalu terbukti, tidak pernah sekalipun berkhianat. Ketika kita menanaminya dengan padi, yang ditumbuhkan selalu padi, bukan yang lain. Kasih sayang dan kesetiaan seperti itu belum tentu ditunjukkan seorang bapak. Maka, kalau ‘patriotisme’ diterjemahkan sebagai cinta, kesetiaan dan kesiap-sediaan membela Tanah Air,  sebenarnya lebih tepat dan penuh hormat bila kita menggunakan istilah ‘matriotisme’, cinta dan kesetiaan serta pembelaan Ibu Pertiwi.
Patriotisme Palsu?
Istilah ‘patriotisme’ sendiri muncul di awal abad-18 dan menjadi makin populer sejak Samuel Johnson mempublikasikan bukunya The Patriot (1774), yang merupakan kritik terbuka terhadap apa yang dianggapnya patriotisme palsu. Samuel Johnson adalah seorang cendekiawan terkemuka Inggeris yang pengaruhnya jauh melampaui  jamannya. Ia menghasilkan 4 edisi Dictionary, dan dalam edisi kedua dia mendefinisikan “patriot” sebagai "one whose ruling passion is the love of his country" (secara bebas: orang yang hasratnya dikuasai oleh cinta pada Tanah-air).  Namun dalam edisi keempat kamusnya, ia menambahkan “it is sometimes used for factious disturber of the government” – sering digunakan untuk pengganggu pemerintahan demi kepentingan partai.
 Tambahan ini tampaknya dikaitkan dengan pernyataannya yang terkenal pada 7 April 1775: "Patriotism is the last refuge of a scoundrel" (Patriotisme adalah tempat perlindungan terakhir seorang bajingan). Sindiran itu ditujukan pada politikus terkemuka Inggeris Edmund Burke dan partainya, yang dalam pandangan Johnson adalah kumpulan politisi manipulatif. Dengan menggunakan argumen patriotisme teoritis dalam debat-debat di parlemen, Burke dkk selalu meminjam nama rakyat kecil dan ‘kepentingan Negara’ untuk memerjuangkan kepentingan partai sendiri. Burke bahkan tercatat sebagai politikus yang bekerja dengan teori konspirasi penuh intrik dengan pihak pengadilan. Karena itu Johnson tak segan-segan mencap Burke sebagai manipulative scoundrel, yang berlindung dibawah argumen patriotisme, mengaku-ngaku sebagai patriot, tetapi sebenarnya memerjuangkan kepentingan diri/partainya. Perilaku politik mereka penuh dengan kemunafikan, kebusukan dan agenda-agenda tersembunyi yang mengkhinati rakyat. Johnson sampai bertekad menghabisi ‘patriotisme palsu’ Burke dkk ketika dalam suatu diskusi publik menegaskan: “…But we, who are suffering by their pernicious conduct, are to destroy them”.
Di usianya yang ke-69 ini, Ibu Pertiwi pastilah sedang susah karena banyak putera-puterinya yang mengaku-ngaku sebagai patriot (mestinya matriot!) tetapi sebenarnya berperilaku sama dengan Edmund ‘manipulative scoundrel’ Burke. Mereka ada dimana-mana: di legislatif antara lain sebagai mafia anggaran, di yudikatif sebagai mafia pengadilan, di jajaran birokrasi sebagai mafia minyak, mafia pupuk, mafia jabatan, dan seterusnya. Mungkin di parlemen periode berikut, akan terbentuk pula factious disturber for the government. Singkat kaji, mereka adalah pemburu kekuasaan koruptif yang dengan fasih mengatasnamakan rakyat (kecil), ‘kesejahteraan umum’ dan ‘kepentingan negara’ untuk mengegolkan agenda-agenda kelompok mereka sendiri.
Matriotisme Sejati!
Karena itu hadiah terindah bagi Ibu Pertiwi di ultah ke-69 ini mestinya tekad bersama kita “membangun (kembali) jiwa bangsa” untuk membalas cinta dan kesetiaannya dengan cinta-penuh-pengabdian (devoted love), kesetiaan dan kesiap-sediaan membela Ibu Pertiwi. Kita sepakat dengan semboyan William Shakespeare “Right or wrong, my Country” – benar atau salah (engkau tetaplah) Ibu Pertiwi-ku, dan menambahkan “íf it’s right, keep it right; if it’s wrong, make it right”.
Konkretnya? Di bidang politik, menerima keputusan MK menyangkut sengketa pilpres dengan lapang-dada, dan siap-sedia mendukung pemerintahan baru yang akan segera terbentuk. Dukungan itu bermacam cara, termasuk kritik-kritik konstruktif-korektif. Di bidang ekonomi, mengakhiri ketergantungan pada barang-barang impor (=penjajahan ekonomi) dengan memprioritaskan produk-produk anak-negeri. Di bidang sosial-budaya, menerima perbedaan dan keanekaragaman (akseptansi, bukan sekadar toleransi) sebagai anugerah yang mesti  dirawat. Juga merevitalisasi nilai-nilai luhur budaya dan kearifan-lokal etnik. Di bidang hankamnas, menggalang kebersamaan dan solidaritas-tanpa-sekat untuk menangkal berbagai ideologi asing yang ultra-liberal maupun radikal termasuk ISIS. Di bidang pendidikan, mewujudkan pendidikan-nilai (values education) tidak hanya dalam pelajaran Budi Pekerti dan Pancasila/Kewarganegaraan melainkan juga melalui semua mata pelajaran dan ‘upacara bendera’. Semua itu akan membangkitkan ‘matriotisme’ sejati: kebanggaan, cinta-penuh-pengabdian, kesetiaan dan kesiap-sediaan membela Ibu-Pertiwi. Dirgahayu NKRI ke-69!(*)

Oleh;
Philips Tangdilintin
Sekretaris Dewan Pakar ISKA SulSel

Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved