Rumah Sultan Jadi Pusat Kebudayaan Wolio Sulawesi Tenggara
Pusat Kebudayaan Wolio menyimpan sejumlah benda-benda kesultanan Buton
Penulis: Andi Chaerul Fadli | Editor: Suryana Anas
Laporan: Wartawan Tribun Timur Andi Chaerul Fadli
TRIBUN-TIMUR.COM, BAU-BAU - Pusat Kebudayaan Wolio menyimpan sejumlah benda-benda Kesultanan Buton.
Benda berupa alat perang, keramik, alat rumah tangga, dokumentasi foto, dan lainnya dirapikan di Rumah Adat Kesultanan Buton, Rumah Kamali.
"Kamali artinya Istana. Yang disini disebut Kamali Badia karena letaknya di kawasan Badia," ujar pengurus rumah, Mujazi saat ditemui, Selasa (27/5/2014).
Perawatan benda pusaka dan pengelolaan rumah adat itu masih bersifat pribadi. "Biasanya dibantu juga sama keluarga keturunan raja," kata Mujazi.
Pengurusan peninggalan kesultanan tersebut terbilang sederhana. Pasalnya, pendataan inventaris kerajaan tersebut masih belum dilakukan pengelola.
Raja ke-38 Kesultanan Buton, Sultan Muhammad Falih Kaimuddin merupakan garis keturunan raja yang terakhir menempati rumah adat yang terletak sekitar 3 kilometer dari Benteng Keraton Wolio itu.
Di Kesultanan Buton mengenal dua jenis rumah adat, Kamali dan Malige.
"Kamali merupakan istana untuk sultan dan permaisuinya. Kalau Malige untuk selir-selirnya," kata Majuzi.