Awali Perjuangan di WRC2, Subhan Aksa Kembali ke Mobil RRC
Tingkat kesulitan dan tingkat bahaya yang terhampar di lintasan gravel Vodafone Rally de Portugal menjadi daya tarik
LISBON, TRIBUN-TIMUR.COM - Tingkat kesulitan dan tingkat bahaya yang terhampar di lintasan gravel Vodafone Rally de Portugal memang selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pereli dunia. Sejumlah kecelakaan fatal sudah tercatat dalam sejarah Rally Portugal. Termasuk yang dialami pereli Indonesia Subhan Aksa di musim kompetisi 2013.
Ubang, panggilan pereli Bosowa Rally Team (FBRT) itu, tak kapok. Seperti musim lalu, ia memutuskan memulai perjuangan di WRC2 2014 dari Portugal. Selain penasaran dengan lintasan gravelnya yang mirip di Indonesia, ia pun merasa ajang Rally Portugal sebagai arena yang sangat cocok mengasah skill di belakang kemudi.
“Lintasannya sangat teknikal. Banyak crest (tikungan buta atau ujungnya tak kelihatan) sehingga akurasi pacenote sangat vital. Saya banyak belajar pada tahun lalu dan sekarang ingin lebih banyak belajar lagi di sini, khususnya soal teknik mengemudi maupun set up mobil,” ujar Ubang yang sudah berada di Portugal sejak pekan lalu dan melakoni testing pada Senin (31/3/2014) di beberapa rute reli.
Bukan hanya Ubang, sang navigator Nicola Arena (Italia) pun terkesan penasaran dengan rute Portugal yang terbentang sepanjang 1.400 km (339,46 km di antaranya jadi Special Stages). Tahun lalu mereka alami kecelakaan berat di SS6. Mobil melintir dan masuk jurang yang untungnya tersangkut di pohon. Tak terguling-guling seperti dialami Oleg Kikireschko (Ukraina) di lokasi sama. Peristiwa lebih dramatis dialami pereli papan atas Jari-Matti Latvala (Finlandia) yang terguling 17 kali saat mobilnya melintir di perbukitan.
Meski tak cidera, Ford Fiesta RRC milik Ubang kala itu rusak parah karena membentur pohon. Bukan cuma badan mobil yang ringsek, tapi girboks pun harus diganti utuh. Padahal, saat kecelakaan terjadi, mereka berada di posisi 7 kelas WRC2 dengan potensi masuk 5 Besar karena defisit waktu yang tipis dengan dua driver di depannya.
“Kalau dibilang bikin penasaran, ya memang betul. Tapi, motivasi saya sepenuhnya untuk mematangkan skill, mengasah diri. Sangat banyak lokasi SS yang konturnya jarang ditemui di trek lain dan itu sangat menarik untuk dipelajari dan dilewati dengan kecepatan tinggi,” tambah Ubang.
Kembali ke Portugal, Ubang pun memutuskan untuk menggeber kembali Ford Fiesta RRC (Regional Rally Car) yang musim lalu hanya dua kali ia gunakan di ajang reli dunia. Ia tinggalkan spesifikasi mobil R5 yang lebih canggih karena merasa lebih nyaman dengan model RRC untuk menimba pengalaman.
Karena itu pula Ubang dan manajemen FBRT tak ingin bicara peluang di Portugal. Yang penting tampil sebaik mungkin dan menggali banyak ilmu pada event yang merupakan seri ke-4 dari FIA 2014 World Rally Championship (WRC) itu dan dihelat pada 3-6 April 2014.
Tanpa Robert Kubica (Polandia) dan Elfyn Evans (Inggris) yang musim ini naik ke kelas WRC, bakal lawan Ubang di Portugal pun bukanlah sembarangan. Sejumlah pereli berpengalaman ambil bagian di WRC2 seperti Nicolas Fuchs (Peru), Robert Barrable (Irlandia), Jari Ketomaa (Finlandia), Valeriy Gorban (Ukraina), Yuriy Protasov (Ukraina) dan sejumlah pereli Eropa lainnya. Belum lagi para pereli ‘padang pasir’ yang kenyang pengalaman, pakai mobil kelas satu serta dukungan finasial yang besar macam Nasser Al-Attityah (Qatar), Abdulaziz Al-Kuwari (Qatar, dan Rashid Al-Ketbi (Saudi Arabia).
“Nama-nama itu sebagai jaminan kalau persaingan di WRC2 akan sangat ketat dan butuh strategi matang di setiap SS,” ujar Ubang seusai melakoni testing dengan mobil RRC-nya.
Sayangnya, sesi uji coba itu tak berlangsung maksimal karena hujan deras yang menerpa arena dan ia baru dapat beberapa putaran. Ubang sendiri hanya ingin mencoba membiasakan diri di dalam kokpit mobil reli. Belum menjajal waktu tempuh karena terakhir kali mengemudikan mobil spek RRC adalah Mei tahun lalu, sementara di atas mobil reli terakhir kali pada November 2013.
“Mudah-maudahan sesi balapnya nanti berlangsung kering. Kondisi lintasan bisa berantakan kalau hujan dan tak bakal banyak yang bisa saya pelajari,” tandas pemegang tiga gelar juara Indonesia ini. (*)