Seleksi Komisioner KPU di Sulsel
Inilah Curhat Dua Perempuan di KPU Sulsel
Keduanya lalu menceritakan bagaimana ribet mengurus seleksi ulang komisioner Jeneponto pasca diambilalih dari timsel.
Penulis: Ilham Arsyam | Editor: Suryana Anas
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM -Mardiyana Rusli menenteng setumpuk berkas hasil skoring tes 10 calon komisioner Jeneponto ke ruangan Misna M Attas, Selasa siang (11/2/2014).
Berkas itu dihempaskannya ke lantai. Dia tak bisa tenang. Ana, sapaan Mardiyana, tak duduk dikursi melainkan memilih melantai, Misna pun demikian.
"Silahkan jika mereka mau melanjutkan perpecahan," ujar Mantan ketua AJI Makassar ini dengan raut muka lesu.
"Saya ini berlatar belakang jurnalis, saya masuk di sini untuk memperjuangkan nilai-nilai kejujuran. Jika hal begini saja sudah tidak beres bagaimana dengan hasil pemilu nanti," sambungnya.
Keduanya lalu menceritakan bagaimana ribet mengurus seleksi ulang komisioner Jeneponto pasca diambilalih dari timsel. "Kami bekerja pulang balik Makassar Jeneponto tanpa biaya pejalanan dinas (SPPD). Perjuangan kami seakan tidak dihargai," cerita Misna.
Kedua komisioner KPU ini tak bisa menyembunyikan kekecewaan. "Kalau sakit hati, terus terang kami sakit hati sekali," ujar Misna dengan nada rendah.
Sakit hati itu diperparah lantaran keduanya belum bisa meminta konfirmasi apa alasan keluarnya keputusan lima besar KPU Jeneponto. Tiga komisioner lainnya, masing Iqbal Latief (Ketua) Faisal Amir dan Khaerul Mannan tak bisa mereka hubungi.
Perpecahan dua kubu ini sebenarnya sudah menjadi rahasia umum dan sudah berlangsung beberapa kali lama.
Diantanya adanya perbedaan persepsi soal seleksi ulang dan pengambilalihan tahapan seleksi dari komisioner KPU Jeneponto dari Timsel ke KPU dan penentuan keterwakilan perempuan di KPU Makassar.
Keduanya juga menegaskan ogah hadir jika lima komisioner Jeneponto itu dilantik. (*)