Menziarahi La Galigo di Belanda

La Galigo adalah sebuah tradisi sastra lisan yang didendangkan di setiap kegiatan adat Bugis sejak abad ke-14 M.

Menziarahi La Galigo di Belanda

Sekelompok anak muda Indonesia menamakan dirinya Lontara Project melakukan serangkaian kegiatan promosi budaya Bugis Makassar dengan tema Lontara Project Goes to Netherland. Kata Lontara yang menjadi nama organisasi kreatif ini merupakan sebuah singkatan dari La Galigo untuk Nusantara.  Sebuah inisiatif cerdas dan kreatif dari sekelompok anak muda Bugis Makassar yang sedang studi beberapa perguruan tinggi di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta untuk melestarikan dan mempromosikan La Galigo dan budaya lokal Indonesia lainnya dengan gaya khas anak muda. Kedatangan mereka selama seminggu di Belanda dikordinir oleh dua anak muda Sulawesi Selatan yaitu Muhammad Ahlul Amri Buana dan Maharani Budi. Keduanya lahir dan besar di Makassar namun kemudian melanjutkan studi di perguruan ternama di Jawa. Ahlul baru saja menyelesaikan sarjana hukum di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan Rani saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa desain grafis di Institut Teknologi Bandung.
Lontara Project dibangun dari sebuah keinginan untuk membuat anak muda Indonesia bangga sebagai anak yang lahir dan dibesarkan oleh budaya Indonesia yang kaya dan beragam. Salah satu kekayaan dan kebanggaan tersebut adalah La Galigo. La Galigo adalah sebuah tradisi sastra lisan yang didendangkan di setiap kegiatan adat Bugis sejak abad ke-14 M. Pada akhirnya di pertengahan Abad ke 19, La Galigo kemudian ditulis oleh Arung Pancana We Tenri Olle atau juga dikenal dengan Colliq Pujie atas saran B.F.Matthes, seorang pendeta dengan latar pendidikan linguistik yang berkebangsaan Belanda. Manuskrip La Galigo saat ini disimpan di perpustakaan Universitas Leiden dengan teknologi konservasi khusus naskah kuno. La Galigo adalah epik tulis yang terpanjang di dunia dengan 300.000 baris teks dan mengalahkan Mahabrata dari India. Untuk itulah pada tahun 2011 UNESCO mengakui La Galigo sebagai Memory of the World atas negara Indonesia dan Belanda.    
Agenda utama Lontara Project adalah mempelajari dan menyebarkan spirit budaya lokal Indonesia, khususnya La Galigo yang mereka sebut sebagai konservasi kreatif. Kreatifitas anak-anak muda yang tergabung dalam Lontara Project mempromosikan La Galigo dengan metode youth-friendly atau cara yang efektif diterima kalangan remaja. Mereka menciptakan lagu-lagu yang bergenre pop dan blues dengan menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris yang dipadukan dengan narasi klasik Bugis, seperti Meong Palo. Selain itu mereka juga membuat komik La Galigo untuk memperkenalkan tokoh-tokoh La Galigo atau cerita-cerita rakyat Bugis Makassar. Semua hasil karya mereka tersebut disebarkan di media sosial seperti Facebook, Twitter dan You Tube serta website (www.lontaraproject.com) yang berbahasa Indonesia dan Inggris.
Kedatangan tim Lontara Project dengan beranggotakan 15 orang ke Belanda merupakan kerjasama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda. Kedatangan mereka ke benua Eropa disponsori oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dikti), Kementrian Pendidikan Nasional, Pemerintah Kab.Wajo, Universitas Gadjah Mada, Dinas Pendidikan D.I.Yogyakarta dan maskapai penerbangan Garuda. Tim Lontara Project Goes to Nederland terdiri dari mahasiswa yang belajar di beberapa kampus di Yogyakarta dan Bandung. Selian berasal dari berbagai kampus dan jurusan, mereka  memiliki latar etnik yang beragam, seperti Bugis, Mandar, Jawa, Minang, Batak, Sunda dan Betawi. Semuanya bangga menjadi bagian dari Lontara Project dan mempromosikan La Galigo di berbagai kegiatan kesenian dan kepemudaan tingkat nasional dan internasional di Jawa sejak dua tahun lalu.
Program Goes to Nederland ini terdiri atas beberapa kegiatan. Pada tanggal 18 Desember 2014 mereka bertemu dengan para pakar sejarah dan budaya Indonesia di The Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) yang merupakan lembaga riset sejarah, budaya dan bahasa yang fokus di daerah bekas jajahan Belanda yang didanai oleh Kerajaan Belanda. Lembaga ini berdiri sejak 1851 dan berpusat di Leiden. Banyak mahasiswa program master dan doktoral maupun post-doctoral dari Indonesia melakukan penelitian di perpustakaan KITLV yang memiliki koleksi kajian budaya dan sejarah Indonesia yang sangat lengkap. Menariknya lagi, di salah satu bagian dinding gedung KITLV terdapat sebuah grafitti dengan ukuran besar yang menggunakan aksara lontara.
Dari KITLV, rombongan Lontara Project kemudian mengunjungi perpustakaan Universitas Leiden yang lokasi berdekatan dengan gedung KITLV. Di perpustakaan Universitas Leiden, rombongan diterima oleh Sirtjo Koolhof dan Marie Odette. Sirtjo adalah seorang peneliti Bugis dengan spesifikasi naskah La Galigo. Marie adalah pustakawan Universitas Leiden yang khusus menangani naskah-naskah kuno dari Indonesia. Dalam pertemuan tersebut 12 jilid manuskrip La Galigo diperlihatkan ke kami serta sebuah gulungan daun lontar yang bertuliskan huruf lontara’ Bugis Makassar. Menurut Sirtjo, meski La Galigo ditulis dalam 12 jilid buku, namun sebenarnya La Galigo bukanlah naskah cerita yang bersambung layaknya sebuah novel yang berjilid-jilid. Namun La Galigo dibuat dalam 12 jilid semata-mata untuk dapat menyusunnya lebih rapi dan supaya tidak terlalu tebal dan berat untuk dibawa dan lebih mudah pada saat dibaca. Namun demikian, di setiap halaman pertama pada setiap jilid terdapat deskripsi isi buku yang fungsinya seperti daftar isi. Sirtjo kemudian menambahkan, kadangkala apa yang tertulis di deskripsi halaman pertama tidak tertulis di dalam kitab yang dimaksud. Sirtjo juga menerangkan bahwa kemungkinan La Galigo ditulis lebih dari satu orang. Menurutnya, Colliq Pujie bisa jadi meminta bantuan orang lain untuk menulis naskah La Galigo yang sangat panjang tersebut. Pendapat Sirtjo ini didasari atas temuan 4 jenis tulisan tangan yang berbeda dalam 12 jilid La Galigo. Hal lain, Sirtjo juga menunjukkan beberapa hasil koreksi Colliq Pujie atas tulisan-tulisan yang ada. Menurut Sirtjo, meskipun Colliq Pujie menyuruh orang lain menulis cerita La Galigo namun semua hasil tulisan tetap diperiksa ulang oleh beliau untuk menjamin kebenaran penulisan cerita La Galigo.
Sayangnya dari keseluruhan 12 jilid La Galigo, baru 2 jilid pertama yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan dicetak ulang dengan didanai oleh Pemerintah Belanda. Mudah-mudahan 10 jilid sisanya bisa diterjemahkan dan dicetak ulang dengan dana dari Pemerintah Indonesia. Marie juga menambahkan manuskrip La Galigo ini belum didigitalisasi sebagaimana naskah-naskah kuno lainnya. Salah satu alasannya karena terbatasnya dana perpustakaan yang kemungkinan antara lain disebabkan oleh krisis Eropa yang membuat semua lembaga yang didanai negara Belanda harus memotong hampir sebagian alokasi anggarannya. Menurut Marie, dibutuhkan sekitar 3000 euro perhalaman untuk proses digitalisasinya sebuah naskah kuno. Marie juga memperlihatkan sebuah naskah kuno lain yang menurutnya juga ditulis oleh Colliq Pujie namun selama ini dianggap hilang karena bentuknya yang kecil dan tipis. Naskah kuno ini berisi silsilah keturunan keluarga kerajaan Tanete.
Agenda kedua Lontara Project Goes to Netherland adalah menampilkan pagelaran musik dan sendra tari dengan judul Batara Guru yang diinspirasi dari La Galigo. Kegiatan ini terselenggara pada tanggal 20 Desember 2013 di aula Kedutaan Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag. Pagelaran sendra tari Batara Guru dihadiri oleh Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda, Retno Marsudi dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Bambang Hari Wibisono. Acara ini juga dihadiri oleh warga dan mahasiswa Indonesia dari berbagai kota di Belanda. Lebih khusus, mahasiswa dan warga dari Sulawesi Selatan yang tinggal di Belanda juga datang menyaksikan pagelaran sendra tari Batara Guru dan memberi apresiasi tinggi ke Lontara Project. Selain kedua kegiatan tersebut, Lontara Project juga membuat film dokumentasi mengenai La Galigo selama mereka di Belanda. Kedatangan Lontara Project di Belanda membuat mahasiswa dan warga Indonesia di Belanda semakin bangga dengan kebudayaan Indonesia. Selain itu, mereka juga salut dan sangat mengapresiasi kerja-kerja kreatif anak muda Lontara Project atas usaha konservasi kreatif budaya bangsa., Kemungkinan pada tahun mendatang Lontara Project akan kembali menampilkan sendra tari dan karya musik mereka yang lain di Perancis atau Amerika Serikat. Semoga semangat anak muda Lontara Project juga menginspirasi generasi muda di Sulawesi Selatan untuk berkarya dan mencintai budayanya sendiri dengan lebih giat mempelajarinya dan semakin bangga sebagai anak Bugis Makassar.

Oleh;
Andi Ahmad Yani
Pelajar Utrecht University, Belanda

Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved