Jelang Natal dan Tahun Baru 2014
Waspada Peredaran Uang Palsu Jelang Tahun Baru
Situasi seperti ini kerap dimanfaatkan pelaku untuk mengedarkan upal.
Penulis: Hasriyani Latif | Editor: Suryana Anas
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Masyarakat diminta untuk mewaspadai peredaran uang palsu (upal) jelang Natal dan Tahun Baru, serta pemilu. Hal ini mengingat momen-momen tersebut bisa dimanfaatkan oleh para pelaku untuk mengedarkan upal.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Hasanuddin, Hamid Paddu, Senin (2/12/2013) mengatakan, momen seperti hari raya dan pemilu bisa mendongkrak konsumsi. Situasi seperti ini kerap dimanfaatkan pelaku untuk mengedarkan upal.
Apalagi dengan era yang serba terbuka seperti sekarang ini memicu kemungkinan adanya kriminalitas dalam ekonomi, seperti uang palsu.
"Dengan era yang sangat terbuka, keterbukaan antar pulau/antar wilayah sangat rentan akan beredarnya uang palsu. Olehnya itu koordinasi antara otoritas moneter yakni BI dan pihak kepolisian bisa menghindari atau mengurangi peluang peredaran uang palsu," jelasnya.
Pihak Bank Indonesia (BI) juga meminta masyarakat untuk tetap mewaspadai peredaran upal. Meski menurutnya tidak ada kaitan jumlah peredaran uang palsu dengan adanya agenda politik maupun momen-momen hari kebesaran, namun masyarakat diminta untuk tetap mewaspadainya.
Kepala Perwakilan BI Wilayah I Sulampua, Suhaedi mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir, persentase peredaran uang palsu mengalami penurunan. Ini mengindikasikan bahwa masyarakat semakin bisa memahami ciri-ciri keaslian uang.
Berdasarkan data BI, di periode Januari- September 2013, peredaran upal di Sulawesi Selatan (Sulsel) mencapai Rp 90,61 juta.
Meski temuan upal mengalami penurunan, pihaknya mengharapkan masyarakat untuk senantiasa waspada dan mengenali ciri-ciri keaslian uang dengan langkah 3D (dilihat, diraba, diterawang). (*)