Cerita Tantangan Duel Aktivis Unhas di Black September 1998
Aktivis kawakan mahasiswa Unhas, Ostaf Al Mustafa, menyebar pamplet ajakan duel kepada Caco, mahasiswa Fisip Unhas yang juga disegani di masanya
Penulis: AS Kambie | Editor: Thamzil Thahir
UNHAS pernah mengenal istilah Black September. Ini mengemuka 16 September 1992, atau 21 tahun silam.
Ketika itu, terjadi tawuran mahasiswa. Fakultas Teknik dikepung oleh beberapa fakultas dari segala arah. Laboratorium Perkapalan Fakultas Teknik terbakar.
Peristiwa pembakaran itu selanjutnya dikenal dengan nama Black September.
Setelah itu, hampir tiap September terjadi tawuran di Unhas. Beberapa tawuran berikutnya yang terbilang besar, antara lain terjadi pada September 1995, 1997, 1999, 2002, dan 2005.
Tawuran memang masih terjadi setelah 2005, tapi terbilang "insiden lokal" fakultas semata. Tidak sedahsyat Black September 1992.
Hampir tiap tahun pula, mahasiswa Unhas, khususnya fakultas teknik, mengenang peristiwa itu di bulan September. Laiknya, mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang memeringati kematian tiga mahasiswa pada 24 April 1996.
Setiap tahun mahasiswa UMI memeringati kejadian itu yang mereka sebut April Makassar Berdarah (Amarah).
Aneka peristiwa monumental itu menjadi topik bincang ringan sejumlah aktivis di pelataran Tribun Timur, Jl Cenderawasih, Makassar, Senin (16/9).
Diskusi berlangsung santai. Hadir, antara lain,mantan aktivis mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin M Tonang Cawidu dan Abd Karim, serta Basri Kajang.
Saat diskusi merambah ke mana-mana, seorang aktivis tersentak, "Astaga ini bulan September. Bulan keramat di Unhas," katanya.
"Iyya, hari ini 16 September, Black September-nya Unhas. Mahasiswa Unhas mungkin sudah melupakannya. Tapi kami, generasi 1998 masih selalu mengenangnya," ujar Zakir.
Pembahasan mengarah ke Black September Unhas. Tonang dan Karim pun masih ingat bagaimana kejadian itu menjadi perbincangan hangat di UIN.
Rangkaian Black September yang paling berkesan bagi Zakir adalah peristiwa 15 tahun lalu. Menurutnya, peristiwa itu masih lekang dalam ingatan sebagian aktivis hingga hari ini. Ketika itu, kampus Unhas dihebohkan pengumuman duel . Aktivis kawakan mahasiswa Unhas, Ostaf Al Mustafa menyebar pamplet dan selebaran ajakan duel.
Selebaran itu tiba-tiba memenuhi areal kampus Unhas, Oktober 2008. Ostaf yang dikenal pentolan demonstran, aktivis Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM), dan Korps Pencinta Alam (Korpala) menantang Caco untuk duel.
"Tantangan Duel. Saya Ostaf Al Mustafa menantang duel Saudara Caco. Silakan Saudara tentukan tempat dan waktunya. Saya tantang duel sampai mati dan disaksikan umum. Duel satu lawan satu."
Demikian, antara lain, kalimat pengumuman yang ditulis tangan itu.
Peristiwanya sudah 15 tahun berlalu. Sejak itu pulah ia menjadi misteri. Apa sebenarnya yang melatarbelakangi Ostaf yang dikenal penulis cerdas dan orator ulung tiba-tiba bertindak "anarkhis" seperti itu?
Begitu melihat Ostaf, mantan aktivis mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI), Zakir Sabara HW MT, langsung meminta Ostaf menjelaskan perihal tantangan tak lazim itu.
Caco, ketika itu, adalah seorang mahasiswa yang amat "ditakuti" senatero kampus. Hampir semua kekerasan fisik yang terjadi dalam kampus dikaitkan dengan mahasiswa Fisip itu. Caco, bukanlah nama lengkap mahasiswa yang dikenal "kebal" itu. Dia bernama asli Fiastaruddin Agam. Kini Caco menjadi aktivis Dai dan staf pegawai di Rektorat Unhas.
"Kajian teman-teman di UMI setelah kejadian itu bahwa Bang Ostaf melawan kekerasan dengan kekerasan tapi di balik itu penuh muatan kedamaian," ujar Zakir.
Terbukti, kata Zakir, setelah tantangan duel maut itu, premanisme di Unhas memang berkurang. (as kambie)