Politisi dan Korupsi
Mengapa politisi cenderung korup?
Budaya malu dan berbudi inilah yang mestinya di lembagakan dalam dunia politik negeri ini. Agar politik tidak sekedar sebagai ajang mencari keuntungan dan kekayaan. Tanpa penguatan aspek budaya dalam dinamika politik liberal seperti saat ini, maka prilaku korupsi semakin hari pasti akan terus bertambah.
Perubahan Prespektif dari penindakan menuju pencegahan, seharusnya diisi dari penggalian nilai kultural kebangsaaan diatas. Nilai-nilai sebenarnya ada dan hidup ditengah masyarakat yang semakin hari tergerus oleh sistim demokrasi liberal yang cenderung populistik dan mendewakaan kehidupan materialistik.
Mungkin untuk memulai membangun budaya politik yang antisipatif terhadap korupsi mesti dimulai dari membaca sajak taufik Ismail. Di Republik Rakyat Tiongkok koruptor di potong kepala, di Arab Saudi koruptor di potong tangan. Di Indonesia koruptor di potong masa tahanan. (*)
Oleh;
Rahmad M Arsyad
Direktur Riset IDEC