Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kisah Inspiratif

Kisah Singkong dan Kapal Layar Pemuat Bawang

drg Eka Erwansyah MKes SpOrt

Penulis: Suryana Anas | Editor: Jumadi Mappanganro
drg Eka Erwansyah MKes SpOrt

Hidup itu penuh warna, ada hitam, putih, dan warna lainnya. Ada kalanya kita susah dan juga gemira. Begitu juga saat kita menjani status mahasiswa yang jauh dari daerah asal kita. Begitu juga yang dialami oleh drg Eka Erwansyah MKes SpOrt, yang juga merupakan salah seorang dokter pengasuh halaman Tribun Health.

Eka sapaan akrap dosen Fakultas Kedokteran Gigi Unhas ini menceritakan ada 2 hal yang paling berkesan yang ia rasakan selama menjadi mahasiswa yang jauh dari kampung halamannya di Sumbawa Besar.

Yang pertama, yakni jika Bulan Ramadan, saur dan buka puasan dengan singkong rebus. "Saat kuliah, suatu ketika saya sama sekali tidak punya uang cukup untuk beli nasi/ikan. Hanya ada sedikit uang cukup buat beli singkong mentah. Jadi saya makan sahur dan buka puasa dengan singkong rebus," ujar Eka di di Klinik Eka Erwansyah Orthodontics Center, Jl Sungai Saddang, Makassar, beberapa waktu lalu.

Sahur dan buka puasa dengan singkong rebus tersebut dijalani selama 2 hari berturut-turut. "Untung saja hari ketiga ada teman ngasi duit. Dia baru terima beasiswanya. Teman itu Laode Ramadan, sekarang jadi Doktor Bidang Kimia, dosen Unhalu Kendari," kenangnya.

Kesan kedua adalah kapal layar. Ini mungkin memberikan gambaran tentang sikapnya yang siap dengan segala tantangan. Kalau pulang kampung ke Pulau Sumbawa biasanya selalu naik kapal Pelni. Tapi suatu ketika kapalnya tidak ada (Jadwal Perbaikan). "Saya tidak mau menyerah. Saya pergi ke Pelabuhan Rakyat, Paottere. Saya cari kapal menuju kampung Saya. Alhamdulillah ada perahu layar yg muat terigu. Jadilah sy menumpang perahu tersebut. Disitulah sy melihat semangat Bahari. Tak gentar hadapi maut. Tetap tenang dan yakin karena sudah bersahabat denga alam," kenangnya.  

Perahu menerjang ombak, kadang tenggelam tapi muncul lagi. Melihat awak perahu yang tenang-tenang saja, saya pun jadi ikut tenang.

"Tidak hanya itu, kalau kita pulang ke Sumbawa masih bagus karena kapalnya memuat terigu. Tapi kalau kembali lagi ke Makassar kapalnya memuat bawang, kita jadi bau bawang semua. Hehhehhehehhe," ujarnya berkelakar.

Kini Eka sudah menjadi seorang yang sukses, dosen di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin dan juga owner owner Eka Erwansyah Orthodontics Center (E2OC), dan kini menjabat sebagai Ketua Ikatan Ahli Ortodonti (IKORTI) Sulsel  sejak tahun 2011-sekarang. (*)
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved