Mengemis Jangan Dipandang Enteng

Fenomena pengemis semakin tak bisa terpisahkan dengan kota Makassar.

Mengemis Jangan Dipandang Enteng
Pengemis jalanan itu akan beraksi saat lampu merah menyala, berarti dalam 2 menit satu kali beraksi. Paling sedikit satu kali lampu merah mereka mendapat Rp 2.000, sedangkan dalam satu hari (asumsi 10 jam=600 menit) akan terjadi 300 kali lampu merah. Jadi pendapatan mereka sekitar Rp 600.000 (Rp 2.000 x 300) per hari. Bila mereka mengemis selama 20 hari per bulan, maka pendapatan mereka sebesar Rp 12.000.000 (Rp 600.000 x 20 hari).

Fenomena pengemis semakin tak bisa terpisahkan dengan kota Makassar. Hampir setiap lampu lalu lintas (traffic light) pasti ditemukan pengemis di situ. Apalagi kalau ada perayaan hari-hari besar keagamaan merupakan panen raya bagi pengemis atau tiba-tiba jadi pengemis. Pertanyaan besarnya adalah “mengapa hal ini tidak bisa diatasi?
Padahal pemerintah sudah mengerahkan segala daya dan upaya, termasuk mengeluarkan Perwali tentang larangan memberi kepada pengemis dan anjal. Namun lagi-lagi tidak ampuh dan sampai hari ini belumlah berhasil dan bahkan banyak kalangan mengatakan bahwa semakin menjadi-jadi kerena sudah berkembang ke arah pemaksaan.
Menurut Wikipedia, mengemis adalah hal yang dilakukan oleh seseorang yang membutuhkan uang, makanan, tempat tinggal atau hal lainnya dari orang yang mereka temui dengan meminta. Umumnya meminta uang, makanan atau benda lainnya. Pengemis sering meminta dengan menggunakan gelas, kotak kecil, topi atau benda lainnya yang dapat dimasukan uang dan kadang-kadang menggunakan pesan seperti, "Tolong, aku tidak punya rumah" atau "Tolonglah korban bencana alam ini" dan berbagai trik yang digunakan untuk membuat iba orang yang ditemuinya sehingga memberi recehan atau barang yang bisa dijadikan uang kepada mereka.
Sekedar diketahui bahwa pendapatan pengemis bisa lebih besar dari gaji PNS per bulan dan bahkan lebih besar dari gaji seorang direktur. Tidak percaya? Mari kita hitung. Lampu lalu lintas akan menyala satu kali hijau selama 30-60 detik kemudian satu kali merah juga sekitar 30-60 detik. Maka jika diakumulasi sekali hijau dan sekali merah itu sekitar 2 menit lamanya.
                   
Rp 600 Ribu Per Hari

Pengemis jalanan itu akan beraksi saat lampu merah menyala, berarti dalam 2 menit satu kali beraksi. Paling sedikit satu kali lampu merah mereka mendapat Rp 2.000, sedangkan dalam satu hari (asumsi 10 jam=600 menit) akan terjadi 300 kali lampu merah. Jadi pendapatan mereka sekitar Rp 600.000 (Rp 2.000 x 300) per hari. Bila mereka mengemis selama 20 hari per bulan, maka pendapatan mereka sebesar Rp 12.000.000 (Rp 600.000 x 20 hari).
Jumlah ini mungkin sama dengan gaji seorang direktur perusahaan atau sama dengan tunjangan seorang guru besar (maaf tidak bermaksud membandingkan antara pekerjaan pengemis dengan pekerjaan seorang direktur atau guru besar yang tentunya tidak bisa diperbandingkan).
Modal pengemis hanyalah sehelai baju yang lusuh atau dilusuh-lusuhkan yang ditambahkan sebuah kantong yang besar di depan, sebuah gelas atau kotak kecil atau topi. Modal terbesarnya adalah “memutus urat malunya” yang kemungkinan besar tidak semua orang bisa melakukannya. Bagaimana dengan seorang direktur atau seorang guru besar? Dia harus berdarah-darah bekerja keras mulai dari sekolah sampai tingkat doktoral yang tentunya membutuhkan upaya dan dana yang tidak sedikit. Setelah itu tidak bisa langsung jadi professor tetapi harus menunggu sampai memenuhi beberapa persyaratan yang tentunya lagi-lagi membutuhkan upaya dan kerja keras.
Ada dua hal yang kita harus pikirkan dari permasalahan ini. Pertama, mengapa pengemis itu ada dan berkembang sedemikian pesatnya? Selain dengan alasan yang telah dikemukakan di atas (pendapatan yang besar) adalah tidak berfungsinya pemerintah daerah sesuai dengan tujuan adanya pemerintahan daerah sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang Otonomi Daerah tahun 1999 di antaranya adalah mencegah terjadinya kepincangan di dalam menguasai sumber daya yang dimiliki dalam sebuah negara.
                 
Masalah Mindset
Ini sejalan dengan kekhawatiran dari Adam Smith tentang masalah pokok perekonomian yaitu distribusi. Kedua, bagaimana mengatasinya? Bila dibahas secara mendetail tentunya tidak akan bisa dimuat dalam tulisan ini, tetapi intinya adalah hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah ini adalah masalah mindset mereka. Mindset ini terbentuk dari apa yang telah dilakukan, dialami, dirasakan pada masa lalu (sebelumnya) yang terpatri dalam pikiran mereka yang akan mempengaruhi segala tindak tanduk dalam hidupnya.
Jadi kalau kita runut ke belakang tentunya akan mengarah ke kebiasaan-kebiasaan mereka sebelumnya termasuk bagaimana nenek dan atau kakeknya, bagaimana orang tuanya, dan bagaimana mereka waktu kecil termasuk lingkungannya, termasuk kebijakan pemerintah yang tentunya akan berpengaruh besar  terhadap masa depannya.
Untuk mengatasi persoalan mindset ini, saya teringat dengan pendapat dari Kurt Lewin yang  mengatakan bahwa bila suatu obyek akan diubah sesungguhnya terdapat dua faktor yang perlu diperhatikan, yaitu faktor penghambat perubahan dan faktor pendorong perubahan. Jika kita ingin mengubah dengan cepat maka terlebih dahulu kita harus mengatasi faktor penghambatnya baru kemudian menambah dengan faktor pendorong perubahan, dengan demikian perubahan yang kita inginkan akan lebih cepat.
Apa yang dilakukan selama ini, baik oleh pemerintah atau para pemerhati masalah sosial nampaknya hanya berfokus pada faktor pendorong belaka tanpa berusaha mengurangi faktor penghambatnya yang dalam hal ini adalah mindset dari para pengemis itu sendiri. Jadi yang pertama harus diatasi adalah menghilangkan mindset mereka mengganti dengan mindset yang baru yang lebih produktif, bermartabat, dan tentunya lebih kreatif dan ini hanya bisa dalakukan oleh orang-orang kreatif.***

Oleh;
Dr Hasmin Tamsah
Dosen STIE Nobel Indonesia dan STIE AMKOP Makassar

Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved