Kisah Inspiratif
Kisah Bahri Mappiasse dan Buku Warisan
Harta itu semangat untuk terus belajar melalui buku-buku pemberian ayahnya.
Penulis: Ilham Arsyam | Editor: Thamzil Thahir
BAGI Bahri Mappiasse, mantan Kakanwil Kemenag Sulsel periode 2006-2011, warisan dari orang tuanya bukan tanah berhektar atau badik pusaka pamungkas.
Harta itu semangat untuk terus belajar melalui buku-buku pemberian ayahnya. Yah, di rumah Bahri di kompleks Asal Mula Jl Perintis Kemerdekaan VII, ada 1.000 lebih judul buku dipajang di perpustakaan pribadinya.
"Sebenarnya ini bisa lebih banyak seandainya tidak hanyut dibawa banjir," ujarnya mulai bercerita.
Bahri mengaku tak sedikit buku-bukunya yang hanyut terkena banjir Bandang ketika masih bertugas sebagai Kakan Depag Enrekang, di awal tahun 2000-an.
Diantara ribuan buku itu Bahri mengaku masih menyimpan satu dua buku peninggalan ayahnya. Ayah Bahri, Mappiasse, memang seorang guru agama di kampung halaman Bahri di Bone. Bahkan disebut mendirikan beberapa madrasah di daerah itu. "Ia hobi membaca buku. Bahkan beberapa jam sebelum meninggal ia masih sempat membaca kitab gundul," kenang Bahri.
Maka tidak heran jika sejak kecil Bahri doyan baca buku terutama tentang buku agama. Seperti pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Bahri mengaku kerap duduk berjam-jam untuk menyelesaikan bacaannya, baik di rumah maupun di kantor.
"Membaca buku bagi saya seperti bertamasya, makanya saya lebih senang baca buku daripada keluyuran," ujar Bahri yang sejak kecil bercita-cita jadi ilmuwan ini.
Bahri juga mengaku banyak belajar dengan sejumlah ulama di kampung halamannya ketika usianya menginjak remaja.
Beberapa guru Bahri yang masih diingatnya itu antara lain KH Junaid Sulaiman, KH Rafie Sulaiman, Kh Azis palaguna, KH Abdul Rahman Pammana, KH Husaefa, KH Abdul Kadir, hingga KH Muhammad Nur. Bahri mengaku belajar agama dengan ulama ini dengan face to face.
Salah satu hal yang patut dicontoh dari pria 62 tahun ini bahwa meskipun telah menempati jabatan struktural di Kementerian Agama Sulsel semangat menuntut ilmunya tak pernah berhenti. Buktinya, baru-baru ini Bahri telah berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan S3 di Universitas Tun Abdul Razak Malaysia dan berhak menyandang gelar Phylosofi Doktoral (PhD).
Istimewanya pada wisuda S3 itu, Bahri tak saja didampingi istri dan anak-anaknya melainkan mantan rektor Unhas dan mantan Menkokesra, Prof Basri Hasanuddin serta mantan rektor UMI Prof Nasir Hamsah.
Lalu bagaimana Bahri mendidik anak-anaknya? Bahri mengaku bersyukur tidak pernah disusahkan oleh enam buah hatinya.
Muhammad Ashdaq misalnya, putra sulung Bahri ini kini juga tengah menempuh pendidikan S3 di Unhas. "Ayah saya banyak memberikan kami contoh tentang semangat belajar. Dari beliau saya mengerti belajar itu tak mengenal kata berhenti," ungkap Ashdaq.(Ilham arsyam)
Harta itu semangat untuk terus belajar melalui buku-buku pemberian ayahnya. Yah, di rumah Bahri di kompleks Asal Mula Jl Perintis Kemerdekaan VII, ada 1.000 lebih judul buku dipajang di perpustakaan pribadinya.
"Sebenarnya ini bisa lebih banyak seandainya tidak hanyut dibawa banjir," ujarnya mulai bercerita.
Bahri mengaku tak sedikit buku-bukunya yang hanyut terkena banjir Bandang ketika masih bertugas sebagai Kakan Depag Enrekang, di awal tahun 2000-an.
Diantara ribuan buku itu Bahri mengaku masih menyimpan satu dua buku peninggalan ayahnya. Ayah Bahri, Mappiasse, memang seorang guru agama di kampung halaman Bahri di Bone. Bahkan disebut mendirikan beberapa madrasah di daerah itu. "Ia hobi membaca buku. Bahkan beberapa jam sebelum meninggal ia masih sempat membaca kitab gundul," kenang Bahri.
Maka tidak heran jika sejak kecil Bahri doyan baca buku terutama tentang buku agama. Seperti pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Bahri mengaku kerap duduk berjam-jam untuk menyelesaikan bacaannya, baik di rumah maupun di kantor.
"Membaca buku bagi saya seperti bertamasya, makanya saya lebih senang baca buku daripada keluyuran," ujar Bahri yang sejak kecil bercita-cita jadi ilmuwan ini.
Bahri juga mengaku banyak belajar dengan sejumlah ulama di kampung halamannya ketika usianya menginjak remaja.
Beberapa guru Bahri yang masih diingatnya itu antara lain KH Junaid Sulaiman, KH Rafie Sulaiman, Kh Azis palaguna, KH Abdul Rahman Pammana, KH Husaefa, KH Abdul Kadir, hingga KH Muhammad Nur. Bahri mengaku belajar agama dengan ulama ini dengan face to face.
Salah satu hal yang patut dicontoh dari pria 62 tahun ini bahwa meskipun telah menempati jabatan struktural di Kementerian Agama Sulsel semangat menuntut ilmunya tak pernah berhenti. Buktinya, baru-baru ini Bahri telah berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan S3 di Universitas Tun Abdul Razak Malaysia dan berhak menyandang gelar Phylosofi Doktoral (PhD).
Istimewanya pada wisuda S3 itu, Bahri tak saja didampingi istri dan anak-anaknya melainkan mantan rektor Unhas dan mantan Menkokesra, Prof Basri Hasanuddin serta mantan rektor UMI Prof Nasir Hamsah.
Lalu bagaimana Bahri mendidik anak-anaknya? Bahri mengaku bersyukur tidak pernah disusahkan oleh enam buah hatinya.
Muhammad Ashdaq misalnya, putra sulung Bahri ini kini juga tengah menempuh pendidikan S3 di Unhas. "Ayah saya banyak memberikan kami contoh tentang semangat belajar. Dari beliau saya mengerti belajar itu tak mengenal kata berhenti," ungkap Ashdaq.(Ilham arsyam)