Kisah Inspiratif
Bos PLN Sulsel Putus Listrik Anggota GAM
ZULKIFLI Abdullah Puteh bukan orang listrik. Saat kuliah di Institut Sains Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta
Penulis: Ilham Arsyam | Editor: Edi Sumardi
Namun pilihan keilmuannya berbeda dengan target pekerjaannya. Saat menginjak tingkat 6, Zulkifli diajak rekannya mendaftar sebagai pegawai PLN. Saat itu, malah ia sedang mengikuti kuliah pratik mesin kereta api di Stasiun Manggarai, Jakarta.
Karena tak ingin mengecewakan teman, Zulkifli pun setengah hati ikut mendaftar. Namun seperti sudah menjadi garis tangannya kerja bidang elektrik, bukan mekanik.
Dari 20-an temannya yang mendaftar hanya putra kelahiran Aceh ini yang dinyatakan lolos. Karena masih tercatat sebagai mahasiswa, Zulkifli pun harus membagi waktunya, kuliah setengah hari, kerja setengah hari.
Karier Zulkifli di jawatan utilitas kelistrikan ini cukup panjang. Semua posisi di perusahaan BUMN itu pernah ditempatinya. Mulai dari SDN, pembangkitan, hingga penyaluran.
Namun dari sekian banyak pengalaman tersebut, pengalaman ketika bertugas di Aceh-lah yang diakuinya telah membuatnya menjadi sosok dewasa sekaligus tanggap soal manajerial.
Kala itu dia menghadapi konflik dengan pelanggan. Di Aceh, Zulkifli pernah menempati posisi audit internal sebelum diangkat menjadi GM PLN wilayah Aceh.
Salah satu pengalaman di Aceh yang waktu itu masih dihantui konflik separatis bersenjata (GAM), adalah ketika ia berani memutus 500 sambungan ilegal serta meminimalisir tunggakan listrik dari 118 hari menjadi 40 hari.
Sebagian besar milik anggota GAM. "Sebelumnya tak ada yang berani mengelola PLN Aceh karena mereka takut sama orang-orang GAM," katanya.
Karena prestasinya itu Zulkifli dianugrahi penghargaan dari presiden Susilo Bambang Yudoyono sebagai GM PLN terbaik.
Selengkapnya silakan baca melalui Tribun Timur edisi cetak, Rabu (7/11/2012).