Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pentas Kesenian

Nostalgia di 41 Tahun Dewan Kesenian Makassar

Nostalgia di 41 Tahun Dewan Kesenian Makassar

Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Muh. Irham
TRIBUN-TIMUR.COM - JAS HUJAN merah jambu dikebas Dumba (Soeprapto Budisantoso). "Siapa ko, seperti saya mengenalmu," tanya dengan suara datar ke lelaki bersongkok usang, oblong putih, dengan sarung yang disalempang.

Lelaki itu,  Borra (Irwanto Danumulyo), menjawab sekenanya dengan logat Makassar kental, seraya menyeruput kopinya.

Tak lama kemudian, muncul lelaki besar. Rambutnya lusuh. Berjaket jins agak kumal. "Saya kedinginan, korek saya tercecer," kata Palingge (Rudhy Farooc).

Terjadi dialog. Banyak cerita nostalgia di pertemuan di kampung punggung bukit, Dusun Bangkeng Bulu itu.

Ceritanya khas lelaki Makassar. Nama-nama yang mereka bicarakan, hanyalah kenangan.
"Manami itu, Lanturegge, dulu selalu sama Sampara Nillong," kata Dumba.

"Iyo, dia dulu istrinya Daeng Ngai, " jawab Borra.

Potongan cerita di atas adalah skrip lepas tiga teaterawan senior Makassar.

Mereka pentas dengan bendera Theater Makassar Dewan Kesenian Makassar (DKM). Judul pementasan itu Cincong-cincong dalam Geremis. Sutradaranya, Yacob Marala, mengadaptasi cerita pendek  karya budayawan Rahman Arge, berjudul  Langkah-langkah dalam Gerimis.

"Itu dimuat di edisi perdana Majalah Essensi, 1972," kata Fahmi Syarief, seniman cum akademisi usai pementasan di panggung terbuka Gedung Kesenian Societiet de Harmonie, Makassar, Senin (25/7/2011) malam.

Pementasan itu bertepatan dengan 41 tahun dideklarasiknnya Dewan Kesenian Makassar (DKM), Juli 1969.

Acara itu dikemas dalam silaturahim DKM. Dari 11 Deklarator DKM kini sisa dua, Rahman Arge dan Aspar Paturusi. "Ayah tak sempat datang, hanya kirim pesan spontan lewat faceebook," kata Armayani Aspar Paturusi, sebelum membacakan puisi karyanya.

Selain Dumba yang juga Kepala Dinas Pengairan Sulsel ini, pementasan ini menghadirkan 3 seniman muda dari UIT. Rukmayanti (adik kandung, palingge), Kamariah (putri pak tulang), dan Dena Ekaprasetya (adik ipar)

Drama itu ditutup dengan pesan sarat makna; menjinakkan malapetaka menjadikan kemenangan". (*/tribun-timur.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved