Kesehatan Kulit

Penyebab Gatal Kronik Masih Misteri

Penyebab Gatal Kronik Masih Misteri

Penyebab Gatal Kronik Masih Misteri
shutterstock

TRIBUN-TIMUR.COM - Sekitar 8 tahun lalu, Daniel Palawasta mulai mengalami rasa gatal yang amat sangat di tubuhnya. Meski sudah digaruk, gatal itu tak jua sirna. Ia terus menggaruk hingga kulitnya infeksi, mulai dari punggung, pinggang, hingga kulit kepala.

Palaswata (38) sudah mendatangi berbagai dokter untuk mencari tahu penyebab gatal di tubuhnya, tetapi semua berakhir tanpa jawaban. Beberapa dokter mendiagnosanya pruritus kronik, rasa gatal yang terjadi selama 6 minggu atau lebih. Pruritus adalah istilah kedokteran untuk rasa gatal.

"Sangat sulit hidup dengan rasa gatal seperti ini. Terkadang gatalnya tak tertahankan dan saya merasa seperti selalu sakit," kata Palawasta seperti dikutip MyHealthNewsDaily.com. Selain mengganggu tidur, ia juga mengaku pekerjaannya sebagai manajer restoran terganggu.

Rasa gatal yang kronik, menurut Dr.Suephy Chen, ahli dermatologi dari Emory University School of Medicine, memang kurang mendapat perhatian dibanding dengan penyakit kronik lainnya.

Ia menjelaskan, gatal kronik bisa disebabkan karena kondisi kulit seperti eksim, atau bisa juga timbul karena adanya kelainan sistemik seperti penyakit ginjal atau hati dan beberapa kelainan darah. Terkadang juga, seperti pada kasus Palawasta, dokter tidak bisa mengetahui penyebabnya.

Belum diketahui berapa jumlah pasien gatal kronik di dunia. Namun sebuah studi di Perancis menyebutkan gatal di kulit diderita oleh 20 - 30 persen populasi, walau jarang ditemukan kasus gatal seperti pada Palawasta.

Chen, dokter kulit yang kini merawat Palawasta, mengungkapkan hingga saat ini para ilmuwan terus memelajari area otak yang menyebabkan rasa gatal dan nyeri. Selama ini para ahli mengira mekanisme pemicunya di otak sama.

"Karena dasar biologi dari rasa gatal ini belum diketahui, masih sulit untuk mengembangkan obat-obatan untuk gatal kronik," kata Chen.

Saat ini, obat-obatan steroid yang diberikan dokter memang cukup membantu mengurangi rasa gatal Palawasta, namun Chen mengungkapkan jika dipakai dalam jangka panjang steroid bisa memberi efek samping yang serius, termasuk glaukoma, gangguan pada mata.(*)

Editor: Muh. Irham
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved