Inovasi
e-cycle, Sepeda yang Meniru Jam Weker Pegas
e-cycle, Sepeda yang Meniru Jam Weker Pegas
"Sebentar lagi masyarakat membutuhkan alat transportasi baru tanpa bahan bakar, karena bahan bakar sangat terbatas. Kami ingin ikut menyelamatkan lingkungan," kata Yusman, Sabtu (28/5/2011) siang, di Jakarta. Yusman menambahkan, "artinya begini, orang kerja itu banyaknya menggunakan kendaraan bermotor, selain menimbulkan polusi, bahan bakarnya pun semakin menipis. Kami ingin mengantisipasi itu semua, untuk bisa membuat kendaraan ramah lingkungan dan tidak membuat orang capek," katanya.
Sepeda yang oleh Yusman dan Annisa diberi nama e-cycle (environment cycle) ini menjadi unik karena menggunakan prinsip dalam jam weker pegas. Pegas spiral tersebut berfungsi sebagai penyimpan tenaga yang memungkinkan penggunanya menempuh jarak yang sama dengan jumlah kayuhan yang jauh berbeda dengan sepeda kebanyakan.
"Sepeda biasa satu Kilometernya membutuhkan 160 kayuhan, tapi sepeda kami cukup 23 kayuhan. Jadi tidak terlalu capek. Karena sepeda ini keuntungannya 680 persen atau sama dengan tujuh kali lipat lebih ringan. Jadi orang tetap bisa bekerja maksimal sambil berolahraga," ujarnya.
"Prinsip sepeda kami sama seperti jam weker pegas. Tenaganya disimpan di pegas spiralnya, setelah kita kayuh beberapa kali, sepeda bisa jalan sendiri. Jika tenaganya habis, kita tambah lagi menggunakan kayuhan. Jadi tidak terlalu berat, karena kami mempunyai dua sistem gear, dan menggunakan pegas spiral," kata Yusman lagi.
Meski telah menjuarai beberapa lomba desain teknologi sains pelajar tingkat internasional, namun sampai saat ini e-cycle belum diberi hak paten. Untuk itu, kedepannya akan dilakukan terus berbagai pengembangan sebagai upaya penyempurnaan sepeda tersebut. (*)