Rakyat Arab Saudi Demo Raja

Aksi demo di wilayah Timur Tengah akhirnya menyentuh Arab Saudi, negara dengan sistem monarki yang sangat kuat

Rakyat Arab Saudi  Demo Raja
Al Jazeerah
King Abdullah
Riyadh, Tribun - Aksi demo di wilayah Timur Tengah akhirnya menyentuh Arab Saudi, negara dengan sistem monarki yang sangat kuat.
Informasi yang dihimpun, Sabtu (5/3), ratusan demonstran, sebagian besar anak muda, turun ke jalan-jalan di Kota Riyadh, Ibu Kota Arab Saudi.
Mereka menyerukan pembebasan para tahanan politik di Saudi dan mengecam sistem pemerintahan serta aparatur pemerintah yang korup.
Ajakan demo diserukan melalui situs jejaring sosial facebook. Meski jumlah pengunjuk rasa tidak terlalu banyak namun aksi tersebut sangat mengejutkan di negara dengan sistem kerajaan pemerintahan Islam.
Para demonstran berkumpul di depan Masjid Al-Rajhi di sebelah timur Riyadh, Jumat (4/3) siang waktu setempat atau Jumat malam wita. Selisih waktu Makassar denganArab Saudi adalah lim jam, waktu di Makassar lebih cepat.
Para demonstran disebutkan meneriakkan yel-yel antipemerintah dan antikorupsi. Di saat demo berlangsung, helikopter polisi terbang rendah dan berputar-putar di atas para demonstran.
Informasi terakhir menyebutkan, petugas keamanan Saudi menahan sekitar empat sampat lima demonstran. Mereka  ditahan setelah berulang-ulang meneriakkan slogan-slogan menentang Raja Arab Saudi yang kini dipegang Raja Abdullah.
Menyebar
Pada hari yang sama, para demonstran juga menggelar aksi di kota lain seperti Al-Hufuf, Al-Ahsa, dan Al-Qatif. Para demostras menuntut pembebasan para tahanan politik termasuk seorang ulama senior Syiah, Sheikh Tawfiq al-Amer. Aksi tersebut berlangsung damai.
Sheikh Tawfiq al-Amer ditangkap, pekan lalu. Ulama Syiah tersebut sebelumnya telah beberapa kali ditangkap atas seruannya untuk memberikan kebebasan lebih bagi warga Syiah dalam menjalankan hak-hak beragama mereka. Warga Syiah merupakan minoritas di Saudi.
Aksi demo tersebut terjadi di tengah maraknya seruan melalui facebook, untuk menggelar aksi protes besar-besaran pada 11 Maret mendatang. Anak muda Saudi menyebut rencana demo 11 Maret tersebut sebagai demo "Hari Kemarahan".
Dua pemerintahan di Timur Tengah, Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Al dan Presiden Mesir Hosni Mubarak, sudah tumbang di tangan rakyatnya sendiri.

Kirim Pasukan
Pemerintah Saudi menyiapkan sekitar 10 ribu pasukan keamanan untuk mencegah meluasnya demonstrasi di negara yang memiliki dua kota suci bagi umat Muslim, Mekah dan Medinah.
Pasukan itu dipersiapkan menghadapi demonstrasi di timur laut Arab di provinsi-provinsi yang berpenduduk mayoritas Syiah agar tidak menyebar ke Dammam dan kota lainnya. Pasukan mulai diangkut dengan bus menuju lokasi untuk mencegah aksi demo yang dinamai "Revolusi Hunayn".
Arabi Saudi sangat khawatir dengan kebangkitan dunia Arab baru yang diiringi dengan aksi pemberontakan dan huru-hara yang bisa menimbulkan korban dan meruntuhkan pemerintahan monarki di negara kaya minyak ini.
Saudi khawatir kekacauan di negara tetangganya Bahrain memprovokasi kondisi keamanan negerinya. Raja Abdullah meminta Bahrain segera menghentikan pemberontakan di negerinya, jika tidak ia sendiri yang akan turun tangan.
Kelompok oposisi di Arab Saudi memperkirakan 20 ribu pendemo yang akan berkumpul di Riyadh dan di provinsi-provinsi berpenduduk mayoritas Syiah dalam enam hari ini. Mereka akan menuntut dihentikannya korupsi, dan kalau perlu penggulingan pemerintah.
Mereka sudah mengambil ancang-ancang, Rencananya mereka memposisikan para wanita di baris terdepan untuk menciutkan nyali aparat keamanan agar tidak menembaki mereka.
Untuk menghentikan aksi itu, pasukan keamanan telah dikerahkan di Qatif, di mana mayoritas muslim Syiah tinggal. Sejumlah kendaraan keamanan juga terlihat di kota pelabuhan Dammam.

Tekanan AS
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel KH Alwi Uddin menilai, tidak Ada Model Kepemimpinan dalam Islam. Munculnya unjuk rasa di negara-negara Islam bisa karena kebijakan pemerintahan dan juga karena raja terlalu mempertahankan posisinya.
"Saya melihat Amerika Serikat (AS) juga terlalu menekan Arab Saudi agar bisa mengubah sistem pemerintahan dari monarki ke demokrasi. Kiblat demokrasi dunia Arab Saudi. Dari demokrasi itulah AS menanamkan pengaruhnya," katanya.
Dia juga menduga rakyat sudah bosan dengan sistem pemerintahan yang monarki karena dari dulu hingga saat ini yang memimpin negara tersebut hanya dari satu garis keturunan.
Namun dia mengingatkan Islam tidak menekankan model pemerintahan. Yang digambarkan dalam Islam itu bagaimana pemimpin itu berbuat baik kepada yang dipimpinannya sehingga negara bisa sejahtera.  Sebaliknya juga yang dipimpin harus patuh terhadap pemimpinnya. Dalam Islam tidak monarki dan demokrasi.
"Barangkali Raja Abdullah ingin mempertahankan kekuasaannya karena ingin mempertahankan kekayaannya. Dia kan terkenal dengan pemimpin negara yang kaya raya," ujar Alwi
Dihubungi terpisah, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Forum Umat Islam (FUI) Sulsel KH Sirajuddin menilai
pengaruh Amerika sangat terlihat jelas dalam berbagai aksi demo di Timur Tangah.
 "Bagaimana Arab Saudi dijadikan negara yang berdemokrasi? Pada satu sisi Islam tidak mengenal demokrasi. Yang sangat penting bagi Amerika adalah meredam perjuangan umat Islam," tegasnya.
Menurutnya, selama ini Arab Saudi juga turut berjuang dalam perjuangan rakyat Palestina dan menampakkan kekuatan Islam.
Inilah yang aka dimatikan AS yang Anti-Islam.
"Saya melihat pengaruh AS di Arab Saudi juga dalam pertahanan negara. Arab Saudi telah mengalirkan dana ke AS untuk dibantu dalam pertahanan negara," tambahnya.
(cr1/apr)

Sebelum aksi demo pecah, Raja Abdullah sudah menjanjikan paket tunjangan senilai 36 miliar dolar AS bagi rakyatnya. Hal itu diumumkan Abdullah usai dari Amerika Serikat untuk menjalani pengobatan
Raja Abdullah juga memberikan pengampunan bagi sejumlah tahanan yang divonis atas kejahatan keuangan. Dia juga memerintahkan kenaikan gaji sebesar 15 persen bagi para pegawai negeri setempat.
Menurut para analis, keputusan Raja Saudi dimaksudkan untuk mencegah pergolakan rakyat di negeri itu.

Editor: syakin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved