Tribunnews.com
home / news / nasional

Ke KPK, Ketua DPR RI Dinilai Sok Bersih

Senin, 6 Februari 2012 15:08 WITA
TRIBUN-TIMUR.COM, JAKARTA - Pengamat Hukum dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Nurkholis mengatakan kedatangan para politisi ke KPK yang mengaku-aku tulus tidak usah dipercaya begitu saja.

Sebagai contoh, menurut Nurkholis kedatangan Ketua DPR Marzuki Alie dan Sekjen DPR Nining Indra Saleh ke KPK adalah bagian dari permainan psikologis pembuktian diri seakan-akan bersih.

Bagi Nurkholis, strategi demikian adalah permainan 'orang kotor yang sok bersih dan terganggu' yang merasa perlu datang ke KPK untuk membersihkan diri. 

"Kalau orangnya benar-benar bersih, pasti dia tak merasa perlu ke KPK," ujar Nurkholis ketika dihubungi wartawan, Senin(6/2/2012).

Saat ini, kata Nurkholis banyak sekali politisi yang mencoba menunjukkan ke publik soal dukungan ke KPK untuk menuntaskan kasus-kasus korupsi besar. Padahal di sisi lain, dukungan tersebut ternyata main-main saja dan di belakang menghambat serta memperlemah kinerja KPK melalui tekanan-tekanan politiknya.

"Faktanya, mulai dari kasus Bibit-Chandra, revisi UU Tipikor yang memperlemah KPK. Publik lebih tahu lagi apa yang sebenarnya terjadi,"pungkasnya.

Seperti diketahui, kedatangan banyak politisi ke kantor Komisi Pemberantasan Korupsi(KPK) belakangan ini menuai kritikan. Pasalnya, dengan tujuan tidak jelas mereka kemudian melakukan pertemuan dengan para pimpinan KPK.

Menurut anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Hanura, Syarifuddin Sudding, sah-sah saja bagi warga negara untuk datang ke KPK untuk melaporkan kasus tertentu. Hanya saja, dia merasa agak aneh dengan kedatangan sejumlah politisi ke gedung KPK belakangan ini.

Salah satu contohnya, kedatangan Ketua DPR Marzuki Alie ke gedung KPK, Jakarta Selatan, pada 20 januari 2012 lalu, bersama dengan Sekjen DPR Nining Indra Saleh. Kedatangan itu bertepatan dengan memanasnya isu dugaan mark up dan korupsi pada proyek pembangunan ruang Badan Anggaran (Banggar) DPR.

Tidak hanya itu yang lain adalah kedatangan politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Permadi, ke KPK, 2 Februari 2012 lalu. Permadi beralasan kedatangannya demi menanyakan isu bahwa KPK sedang 'pecah' dalam penanganan kasus Wisma Atlit.

Namun, kaitan antara Permadi dengan Pius Lustrilanang, kader Partai Gerindra yang duduk sebagai Wakil Ketua Badan urusan Rumah Tangga (BURT) DPR, juga tak bisa dinafikkan.

"Kita berharap kedatangan pihak tersebut tidak ada agenda untuk intervensi terhadap KPK dalam penanganan kasus korupsi," kata Sudding di Gedung DPR, Jakarta, Senin (6/2/2012).

Berdasarkan catatan, sejumlah anggota Komisi III juga mendatangi KPK pada Jumat (3/2/2012) lalu. Mereka adalah Bambang Soesatyo dari Fraksi Partai Golkar, Trimedya Panjaitan dari PDI Perjuangan, Nasir Djamil dari PKS, dan Ahmad Yani dari PPP.

Partai-partai itu sendiri sedang resah karena sejumlah kadernya sedang diincar KPK. Kader Golkar dan PDI Perjuangan terkait kasus suap travel cek dalam pemilihan deputi gubernur BI, dan kader PKS diincar dalam kasus suap dana PPID. Para anggota DPR itu mengaku datang untuk mendorong KPK menyelesaikan kasus Bank Century.(*)


Editor : redo
Source : Tribunnews.com
Share on Facebook
Terkait
TRIBUNnews.com Network

Kembali ke Home
Full Site