Gus Dur, Imlek, dan Misteri Hidup
Jumat, 27 Januari 2012 23:59 WITA
DALAM suasana hingar-bingar perayaan Imlek, sosok almarhum KH Abdurrahman Wahid atau yang populer dipanggil Gus Dur menjadi bahan pembicaraan warga Tionghoa dan bahkan beberapa media.
Sudah menjadi hal yang wajar ketika namanya di sebut-sebut dalam perayaan Imlek, bahkan meriahnya perayaan Imlek di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran Gus Dur.
Masih segar dalam ingatan kita, lewat Keppres RI No. 6/2000, Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, mencabut inpres yang memarginalkan etnis Tionghoa di segala bidang dan hanya menjadikan etnis Tionghoa sebagai pelaku ekonomi.
Lewat Keppres itulah Gus Dur memberikan kebebasan bagi etnis Tionghoa untuk merayakan Imlek di bumi khatulistiwa ini. Gus Dur telah menebarkan angin segar bagi etnis Tionghoa untuk mengekspresikan spirit religiusitasnya dengan penuh kebebasan dan kedamaian. Maka tak heran bila Gus Dur dianugerahi gelar Bapak Tionghoa.
Warisan
Sudah dua tahun kita kehilangan Gus Dur, seorang tokoh yang berkarakter berani mengambil risiko sebagai pemimpin, sang primadona nasional dan internasional itu pergi meninggalkan warisan berharga yang harus dijaga oleh bangsa ini.
Pasca Gus Dur wafat, berbagai pemikirannya tak pernah surut diperbincangkan. Bahkan momen kedukaan itu menjadikan daya magnetik terbesar guna mengenang gagasan pemikirannya. Dalam rangka mengenang beliau, tak hanya yasinan dan tahlilan saja yang dikumandangkan. Tetapi, banyak mereka yang mengkaji pemikiran-pemikirannya.
Memperbincangkan Gus Dur seolah memang tak ada matinya.Tengoklah beberapa buku-buku yang muncul pasca wafatnya beliau, mulai dari "41 Warisan Kebesaran Gus Dur" sampai ke "Ngobrol dengan Gus Dur dari Alam Kubur" menurut hemat penulis sudah sepantasnya Gus dur masih dikenang di bangsa ini terutama gagasan-gagasan beliau mengenai pluralisme dan humanisme.
Seorang yang jiwa besar seperti beliau itu takkan pernah mati. Dia akan abadi `hidup' sebagai sumber inspirasi dan semangat bagi orang-orang setelahnya. Walau jasadnya telah tiada. Itulah karakteristik seorang yang berjiwa besar.
Gus Dur juga mengajari bangsa ini, bagaimana mencari jalan tengah (jembatan) untuk menyelasaikan masalah dunia, dalam konteks ini Gus Dur memberikan contoh bagaimana menyambungkan antara Barat dan Timur, antara kaum religius dan kaum sekuleritas, antara negara berkembang dan negara maju, hingga tak dipungkiri beliau telah menyatukan semua golongan dalam satu bingkai kemanusiaan
Gus Dur memandang kemajemukan sebagai fakta kehidupan. Ia memahaminya sebagai sebuah anugerah. Baginya keragaman adalah rahmat yang telah digariskan Allah.
Menolak kemajemukan sama saja mengingkari pemberian Illahi. Perbedaan menurut Gus Dur adalah perspektif wajar yang merupakan kodrat manusia di tengah-tengah kehidupan sosial. Oleh sebab itu Gus Dur berani untuk berkata "tidak" untuk diskriminasi, hingga beliaupun mewarisi kebebasan untuk merayakan imlek di bumi Nusantara ini.
Dari warisan-warisan seperti inilah, Gus Dur akan selalu dikenang bangsa ini sebab warisan pemikiran beliau selalu ada dan menjadi inspirasi bagi semua golongan terutama mereka yang percaya akan rasa kemanusiaan.
Misteri Hidup
Berkembang andekdot kecil di kalangan masyarakat bawah tentang revisi terhadap "tiga misteri hidup yang hanya diketahui oleh Tuhan, yaitu kelahiran, jodoh, dan kematian. "Itu dulu" sekarang misteri itu menjadi empat, tambahan yang satunya lagi adalah Gus Dur.
Anekdot ini ternyata menjadi sebuah batu tapal untuk lebih mengenal Gus Dur sebab pandangan dan manuver politik Gus Dur sulit ditangkap oleh kalangan "kandang"-nya sendiri, yaitu NU dan pesantren.
Memang benar adanya Gus Dur adalah misteri dalam hidup apalagi bagi orang-orang yang hanya mampu mengkritik tetapi tidak mampu memahami. Oleh sebab itu tengoklah berbagai kisah tentang beliau.
Penulis teringat akan peristiwa lengsernya beliau dari kursi kepresidenan. Gus Dur keluar memakai celana pendek dan memakai kaos oblong. Beliau melambaikan tangan ke pada para wartawan, bukankah ini sebuah misteri.
Istana Negara yang dulunya tertutup dan hanya bisa dimasuki orang yang berpakaian jas, Gus Dur hadir dan mengubah formalisasi di dalam istana tersebut. Gus Dur mengembalikkan Istana Negara kepada rakyat.
Siapapun bisa memasukinya, bahkan hanya dengan memakai sandal jepit dan bajo kaos oblong. Bukankah hal ini juga menjadi misteri bagi bangsa ini sebab pasca lengsernya Gus Dur, Istana Negara kembali menjadi menjadi milik kaum elite.
Gus Dur juga penggagas pertama pengadilan Soeharto. Menurut beliau hartanya disita lalu dimaafkan. Beliau juga dikenal sebagai kiyai yang humoris yang kadang membuat pidato persiden menjadi pidato yang jenaka.
Beliau membuat negara Indonesia yang mayoritas beragama Islam dapat menerima demokrasi di balik kegagalan sestem ini di negara-negara Islam di dunia. Indonesia menjadi negara Muslim terbesar yang mengamalkan demokrasi.
Di sisi lain sebagian orang menilai Gus Dur adalah sosok kontroversial, gagasan yang mengubah salam dari assalamulaikum menjadi selamat pagi dan juga pernah melempar wacana pembubaran Majelis Ulama Indonesia. Serta beliau mengatakan DPR sebagai taman kanak-kanak (TK). Ini membuat sebagian orang mengatakan Gus Dur adalah orang gila .
Hal ini dikarenakan tidak banyak yang meninjau Gus Dur dari dimensi esoterik, sufistik, bahkan perenialistik. Padahal untuk memandang Gus Dur, ucapan tindakan dan manuvernya, harus pula melihat sisi fundamental yang menjadi pijakan spiritualistis beliau.
Penulis teringat kata salah satu pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Arie Sudjito, Arie menilai kontraversi yang dibuat Gus Dur menggugah orang berpikir kritis dan mencerahkan masyarakat.
Dalam konteks kegilaan benar apa yang dikatakan Khalil Gibran, "Di tengah masyarakat yang terdiri dari orang-orang gila, orang yang paling waras disebut sebagai orang yang paling gila. Dan di tengah masyarakat yang terdiri orang-orang yang waras, orang yang paling gila disebut orang waras".
Gus Dur dikatakan "gila" oleh masyarakat gila yang merasa waras. Ia disebut sebagai paling waras di tengah-tengah orang-orang "gila" yang tidak ingin waras. Kebudayaan "gila" dewasa ini harus diatur oleh orang paling waras, walaupun orang paling waras itu harus mendapatkan slogan sebagai orang paling gila.
"Kegilaan" Gus Dur adalah tipikal paling relevan untuk memimpin masyarakat yang tergila-gila kegilaan sebab Gus Dur adalah terali, tembok, pilar, atap, dan ornamen-ornamen bagi rumah Ilahi, yang terus mengalami "keterasingan" di tengah-tengah rumah besarnya sendiri, di tengah- tengah bangsanya sendiri, juga di sudut-sudut lapuk warga Nahdhiyin-nya.
Meski menjadi Sosok yang kontroversial bagi sebagian orang, bagi penulis Gus Dur yang merakyat, Gus Dur yang sederhana, Gus Dur yang demokratis. Justru lebih kharismatik.(*)
Oleh;
Abdul Rasyid Tunny
Ketua PMII Universitas Muslim Indonesia, Makassar.
Penulis : aldyvancool
Editor : aldyvancool
Source : Tribun Timur
Share on Facebook