Kanal

Media Hong Kong Beberkan Dugaan Konspirasi Kejahatan Keuangan di Era SBY Berkuasa

Susilo Bambang Yudhoyono - KOMPAS.COM/SABRINA ASRIL

Artikel menyebutkan konspirasi ini dirancang oleh Kartika Wirjoatmodjo, bankir terkemuka di Indonesia, dan pihak lainnya, "dengan maksud menjarah kekayaan LPS dan cadangan asuransi dalam jumlah yang melebihi USD 1,05 miliar selama 10 tahun".

Pencurian ini bertujuan untuk memperkaya penguasa yang memnggunakan kekuasaan untuk mencuri sumber daya Indonesia dan juga menipu kreditur prioritas, yaitu para penggugat.

Weston, yang menugaskan laporan itu, telah melancarkan kampanye hukum lima tahun di pengadilan di seluruh dunia untuk mengklaim kembali 620 juta dolar AS yang dicuri darinya dari 2008 hingga 2015.

Weston merasa dicurangi melalui penjualan Bank Mutiara oleh LPS yang tak transparan, disertai penggelapan dan pencucian uang yang dipimpin oleh Bank Deposit Insurance Corporation Indonesia dan mantan CEOnya, Kartika (yang kini CEO PT Bank Mandiri).

Total jumlah gugatan Weston dan anak perusahaannya telah mencapai hingga lebih dari USD 1,24 miliar atau Rp 18,3 triliun.

Serangkaian konspirasi dan tindak kriminal di atas telah diselidiki Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga kini.

Kasus itu telah membuat mantan Deputi Gubernur BI Budi Mulya menjadi tersangka.

Sumber Asia Sentinel mengungkap adanya penyelidikan KPK terhadap LPS dan Kartika.

Namun, artikel itu meragukan keberanian KPK untuk menyelidiki SBY.

Namun, Boediono, wakil presiden pendamping SBY pada kurun waktu 2009-2014 itu merupakan Gubernur Bank Indonesia saat kasus Century mengemuka.

Dalam kasus yang saat ini diajukan oleh Weston di Port-Louis, pihak berwenang Indonesia bersikeras bahwa pengadilan-pengadilan Mauritius tidak memiliki yurisdiksi atas masalah ini.

Weston telah mengajukan keberatan yang menyatakan Mahkamah Agung Mauritius memiliki wewenang dan Pengadilan Tinggi Singapura dikatakan mendekati putusan hukum.

Sumber tersebut juga mengatakan pejabat AS sekarang mulai melihat transaksi Indonesia, terutama yang melewati Standard Chartered Bank (Singapura), Wells Fargo (NY), United Overseas Bank (Singapore) dan cabang Siprus FBME, bank Tanzania terkenal yang ditutup oleh Financial Crimes Enforcement Network, atau FinCEN, unit Departemen Keuangan pada tahun 2014.

Bahkan, 488 halaman dalam laporan bukti yang dibeberkan Asia Sentinel menjabarkan penipuan berkali-kali lebih besar daripada yang pernah dijelaskan sebelumnya.

Menurut laporan itu, rekayasa itu sudah dimulai sejak awal pemerintahan SBY pada 2004 dengan pembentukan Bank Century sebagai merger Bank Pikko, Bank Danpac dan Bank CIC.

Selanjutnya, Bank Century menjadi gudang penyimpanan jutaan dolar uang yang dikendalikan SBY dan Partai Demokrat.

Sebagaimana pemberitaan Asia Sentinel, sebuah kelompok gabungan 30 pejabat di pemerintah Indonesia telah bekerja sama selama 15 tahun untuk mencuri, melakukan pencucian uang dan menyembunyikannya hingga mencapai lebih dari USD 6 miliar.

Kejahatan itu dilakukan atas dasar perintah Presiden SBY dan Boediono.

Pada 2008 atau saat krisis finansial melanda berbagai negara, Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) yang kala itu beranggotakan Boediono selaku Gubernur BI menetapkan Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Selanjutnya ada suntikan dana untuk fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) BI sebesar Rp 689 miliar untuk Bank Century.

Tapi angkanya membengkak hingga total mencapai Rp 6,7 triliun.

Kucuran dana selanjutnya melalui skema penyertaan modal sementara (PMS) dari LPS.

Artikel menyebutkan Bank Indonesia dan LPS diduga bertindak sebagai “penyamar dan rekan konspirator” sejak tahun 2003 yang beroperasi sebagai kelompok penjahat terorganisasi sempurna.(*) 

Artikel ini telah tayang pada TribunJakarta.com dengan judul Media Asing Sebut Konspirasi Kejahatan Keuangan di Era SBY, Andi Arief Colek Sri Mulyani, http://jakarta.tribunnews.com/2018/09/12/media-asing-sebut-konspirasi-kejahatan-keuangan-di-era-sby-andi-arief-colek-sri-mulyani

Penulis: Rr Dewi Kartika H

Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya

Editor: Edi Sumardi
Sumber: Tribunnews.com

Anjing Milik Korban Pembunuhan di Bekasi Tak Mau Makan dan Menangis, Pakar: Bisa jadi Saksi

Berita Populer