Kanal

Jawaban Ustaz Abdul Somad Soal Tudingan Ketum GP Ansor Pakai Strategi Marketing & Punya Manajemen

Gus Yaqut dan Ustadz Abdul Somad -

Sementara itu terkait menggunakan manajemen, Ustaz Abdul Somad dengan tegas membantah. 

Ustaz Abdul Somad mengatakan bahwa dia tak pernah mematok harga, apalagi mengambil DP, serta tak pernah pula meminta kelas tertentu di pesawat. 

"Kita tidak punya tim. Sampai sekarang saya tidak punya kartu nama. nih baju dikasih orang. semua dikasih orang. Ini pakai kaus kaki pun tidak. Mau marketing dari mana kaya begini, marketing apa. Tidak pernah. Semua merek dikasih orang cincin dikasih orang, sorban dikasih orang, tak ada tim-tim kita bahwa untuk eksis bertahan, maka mesti bangkitkan isu. Tak ada," tegas Ustaz Abdul Somad. 

Bahkan saat berbicara soal dirinya tak pernah memakai kaus kaki, Ustaz Abdul Somad sampai mengangkat salah satu kakinya, dan menunjukkan bahwa dirinya tak pernah memakai kaus kaki.

Pemilihan sampai Desember 2018 di beberapa lokasi, kata UAS, hal itu lantaran berdasarkan pengalamannya kegaduhan akan rampung dalam masa 3 bulan.

Berikutnya terkait kalimat Tauhid Laa Ilaaha Illallah yang dipakai sebagai atribut para jamaahnya, Ustaz Abdul Somad berpendapat dengan terdengar santai dan suara rendah.

"Umat itu kan sudah cerdas. Dari beberapa update status FB masyarakat itu kan kelihatan. Kalau semua kalimat Laa Ilaaha Illallah kalian identikkan dengan HIzbut Tahrir (HTI), lalu bagaimana dengan peti jenazah, bagaimana dengan kaligrafi, bagaimana dengan orang yang mobilnya ditulis dengan Laa Ilaaha Illallah. Kan orang itu bersalah karena mau mendirikan negara dalam negara. Anti konstitusi, inkonstitusional. Ini kan tidak ada terjadi," ujar Ustaz Abdul Somad.

Terkait kaligrafi yang serupa dengan HTI,Ustaz Abdul Somad berpendapat bahwa itu bisa disiasati dengan menuliskannya menggunakan kaligrafi yang lain.

"Kaligrafi kan banyak, pakai kaligrafi yang lain," kata Ustaz Abdul Somad.

Terlalu Merepotkan

Halaman
1234
Editor: Ilham Arsyam

Anjing Milik Korban Pembunuhan di Bekasi Tak Mau Makan dan Menangis, Pakar: Bisa jadi Saksi

Berita Populer