Kanal

Tugu Pahlawan Indonesia di Pantai Losari Terus Tergusur

Tahun ini, usia tugu itu, sudah 67 tahun. Tugu itu dibangun dimasa Kolonel Inf Gatot Subroto, menjabat Panglima Teritorium Indonesia Timur.

Penjabat Gubernur Sulsel Soni Sumarsono dan mantan Asisten 1 Sulsel Andi Herry Iskandar prihatin dengan kondisi tugu Pahlawan Indonesia yang terletak di Jl Ujung Pandang, Makassar. (Saldi/tribuntimur.com)

Hadir kala itu para pejuang dari Tanah Bugis, Sampara Daeng Lili, Wali Kota Makassar yang masih dibawah Negara Indonesia Timut (NIT).

Sekitar 15 tahun lalu, tepatnya, tanggal 12 September 2003, atau di masa Amiruddin Maula menjabat walikota Makassar, tugu itu sempat direnovasi dan direvitalisasi.

Salah satu tentara pejuang yang ikut pertempuran itu, Mayjen TNI Purn H Andi Mattalatta, mengabadikan catatan mengapa tugu itu harus dipelihara.

Almarhum Mayjen Andi Mattalatta, kala itu, membubuhkan tanda-tangan di prasasti, yang lima tahun terakhir tak bisa terbaca lagi.

Dalam catatan, Tribun, setelah masa Amiruddin Maula, monumen Pahlawan Indonesia itu, kian tak terurus.

Direktur Jenderal (Dirjen) Otonomi Daerah (OTDA) Kemendagri, Soni Sumarsono menyambangi Redaksi Tribun Timur, Sabtu (8/9/2018). (HASIM)

“Sebelum tujuh belas Agustus, ada pegawai yang datang bersihkan, baru dicet pakai air pakleo (kapur),” kata seorang Daeng, yang setahun terakhir menetap dan hidup di sisi timur monumen, Minggu (9/9) kemarin.

Dari pantauan Tribun, kawasan itu kini jadi areal penumpukan kardus pemulung.
Ada beberapa botol minuman keras di tangga undakannya.

Monumen setinggi 10 meter itu, nyaris tertutupi kedai “liar” permanen, di sisi timurnya. Warung tenda sea food, yang saban hari dikenakan “pajak” oleh instansi pemerintah kota, juga kian memperburuk posisi monumen.

Penjabat Gubernur Sulsel Soni Sumarsono dan mantan Asisten 1 Sulsel Andi Herry Iskandar prihatin dengan kondisi tugu Pahlawan Indonesia yang terletak di Jl Ujung Pandang, Makassar. (Saldi/tribuntimur.com)

Baca: Sumarsono Kecewa, Tugu Pahlawan Tak Terurus di Makassar

Di sisi utara, ada tembok tingi kafe Ombak. Konon ini milik anggota DPRD Kota. Area monumen jadi lahan parkir kafe, dan kedai liar.

Di selatan ada markas Polisi Perairan (Polair) Polda Sulsel. Di sebelah barat, yang berhadapan langsung dengan pantai, sudah 5 tahun terakhir jadi “Pelabuhan rakyat ke Pulau Samalona”.

Semoga sebelum Hari Pahlawan, 10 November 2018 nanti, monumen itu “dibebaskan” dan terus dipelihara. (nov/dar)

Penulis: Sanovra Jr
Editor: Thamzil Thahir
Sumber: Tribun Timur

Dijual untuk 'Nikah Bayaran' ke Cina, 11 Wanita Indonesia Disiksa Bak Hewan, Hukum Hambat Kepulangan

Berita Populer