Kanal

OPINI - Ekonomi Umat Poros Baru Menguatkan Rupiah

Pri Menix Dey -

Oleh Pri Menix Dey,
Peneliti Pusat Studi Bencana IPB/Koordinator Nasional Indonesian Food Watch

PADA tanggal 6 September 2017, tepatnya di gedung Graha Widya Wisuda Institut Pertanian Bogor (IPB), Presiden Jokowi telah menggarisbawahi akan posisi strategis pangan terhadap eksistensi NKRI dari berbagai distorsi.

Tidak hanya disebabkan karena ketidakharmonisan ekonomi dan politik di dalam negara saja, akan tetapi yang lebih menakutkan lagi akibat kekacauan ekonomi dan politik dunia.

“Pangan bisa menjadi panglima. Siapa yang memiliki pangan, ia yang mengendalikan. Saya tak ragu, bahwa di masa mendatang politik dan hukum tak lagi menjadi panglima dan satu-satunya yang mengendalikan negara. Ketersediaan pangan dinilai bakal menjadi kekuatan suatu Negara,” demikian ditegaskan Jokowi.

Kebenaran pernyataan orang nomor wahid di NKRI ini, membuktikanya tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama. Lihat saja, In

donesia saat ini tengah mengalami goncangan ekonomi akibat nilai tukar rupiah yang merosot.

Data kurs tengah Bank Indonesia, Rabu (5/92018) menyebutkan rupiah hampir mendekat 15.000 yakni di kisaran 14-927 per dolar AS (USD). Untuk meredam ini, pemerintah lagi-lagi diminta untuk memperkuat sektor ekspor.

Terhadap kenyataan buruk ini, opini dan analisis berseliweran. Publik turut angkat bicara baik memberikan kritik kinerja pemerintah di bidang ekonomi maupun terobosan agar rupiah tidak makin terpuruk atau kembali menguat.

Kunci menguatkan rupiah misalnya dengan mengurangi konsumsi produk impor sekaligus meningkatkan volume ekspor sehingga neraca perdagangan kembali suprlus alias tidak defisit.

Cara ini diyakini sangat mujarab membalikan keadaan karena ketergantungan terhadap dollar atau mata uang lainnya dapat berkurang tajam.

Halaman
1234
Editor: Jumadi Mappanganro

Video Sel Asli Setya Novanto Diunggah Najwa Shihab, Nazaruddin Ikut Tepergok di Dalamnya

Berita Populer