Kanal

Tekan Inflasi, Bank Indonesia Hanya Bisa Kendalikan Bandeng, Mujair, dan Layang

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso bersama sejumlah kepala devisi BI Sulsel mengadakan press releas di kantor perwakilan Bank Indonesia di menara Bosowa, Selasa (8/8). Dalam kesempatan itu, pihak BI melaporkan realisasi inflasi selama bulan juli. tribun timur/muhammad abdiwan - TRIBUN TIMUR/ MUH ABDIWAN

Laporan Wartawan Tribun Timur, Muhammad Fadhly Ali

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Berdasarkan kelompok pengeluaran, Inflasi tahunan Sulsel tertinggi dicatat kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 6,07 persen (yoy), diikuti kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 4,85 persen (yoy) dan kelompok sandang 4,66 persen (yoy).

Kepala Kantor Wilayah Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso di sela jumpa pers di kantornya lantai 11 Menara Bososwa, Jl Sudirman Makassar menuturkan, selama 2017, inflasi terutama berasal dari administered prices atau harga barang/jasa diatur pemerintah 10,96 persen (yoy).

"Sementara core inflation atau inflasi penawaran yang disebabkan oleh kenaikan biaya produksi 3,42 persen (yoy) dan inflasi volatile food atau komponen bergejolak 2,49 persen (yoy) cenderung rendah dan stabil," katanya.

Realisasi inflasi volatile food tersebut jauh lebih rendah dibandingkan 2016 yang tercatat 6,41persen (yoy).

Komoditas volatile foods seperti bawang merah, layang, teri, beras, dan cakalang yang pada tahun sebelumnya menjadi penyumbang inflasi utama, tekanan harga komoditas tersebut relatif stabil di tahun 2017.

"Namun dari 15 komoditas yang memiliki andil besar Inflasi, hanya Bandeng, Mujair dan Layang yang bisa kita kontrol. Sisanya kita hanya memberi petimbangan kepada pemerintah," katanya. (*)

Penulis: Muhammad Fadly Ali
Editor: Anita Kusuma Wardana

Video Penampakan 2 Wanita Digerebek Walikota Bogor Bima Arya, Prostitusi di Apartemen Bogor Valley

Berita Populer