Bahas Pilgub Sulsel, Forum Dosen Harap Akademisi Tak Jadi Tim Sukses

Laporan wartawan Tribun-Timur, Saldy

 TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Siapakah Gubernur Sulawesi Selatan tahun 2018 ini ?

Gedung Tribun Timur kembali menjadi saksi perdebatan seru para akademisi yang terbentuk dalam satu forum diskusi yang mereka namai sebagai forum dosen Makassar.

Dalam forum ini hampir seluruh dosen dari perguruan tinggi di Makassar ini tercatat sebagai anggota forum.

Kali ini para akademisi dibuat penasaran oleh siapa pemenang Pilgub Sulsel 2018 mendatang.

Saat ini, mereka mengenal empat sosok, di antaranya Prof Nurdin Abdullah, Nurdin Halid, Ichsan Yasin Limpo, dan Agus Arifin Nu'mang.

Terkait dengan diskusi ini, para akademisi mengharapkan untuk para pemilik kepentingan tidak memperalat jajaran civitas akademik atau dikalangan kampus.

Dalam kesempatan itu, Prof Marwan Mas mengatakan dalam pemilihan kepala daerah, besar harapannya agar pemilik kepentingan tidak mengait-ngaitkan politik dengan akademisi atau para profesor.

"Jangan libatkan Profesor karena ini kode etik. Ini jangan dijadikan mainan," katanya.

Akademisi menurut Marwan bertugas sebagai pelaksana tri dharma perguruan tinggi yang artinya pengabdian ke masyarakat.

Sementara itu, Naidah Naing mengaku bahwa masih awam dengan politik.

Namun karena untuk perubahan ia pun ingin mengetahui lebih dalam lagi apa itu politik, dan siapa tokohnya.

Terkait dengan politik kata akademisi UMI ini, itu ia akui serasa ada panggilan hati untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang pilgub Sulsel 2018.

Naidah mengatakan satu kandidat menjadi perhatiannya, dia tak lain adalah Prof Nurdin Abdullah.

"Prof Nurdin. Sudah benarkah, apakah beliau serius? Terkait dengan itu apakah SDM kita kekurangan kualitas sehingga akademisi harus turun tangan. Ada apa di Sulsel?, " katanya dalam forum.

Namun karena ia besar di dunia kampus, pastinya Naidah mengaku bahwa dirinya tidak memihak kepada Prof Nurdin.

Hanya saja harapannya bagaimana kedepan Gubernur terpilih bisa melibatkan akademisi untuk membagun Sulsel.

"Jika akademisi turun gunung akan mencerahkan semua," katanya.

Selain itu, Ridwan M Thaha menyebutkan politik itu adalah sebuah arena yang akan memainkan kepentingan seseorang.

Namun berbeda dengan situasi sekarang, pemilu yang di konsep serentak ini akan membuat para kandidat harus bekerja ekstra.

"Tidk selamanya harus uang, di birokrasi itu datang untuk meberikan perubahan. Jadi kalau tidak punya misi yang jelas kiranya legowolah melihat kekalahan," paparnya

Berbeda dengan Arkam Azikin, akademisi Unismuh ini ogah mengomentari lebih dalam tentang Pilgub .

Dalam forum itu, Arqam banyak mengeritik soal sistem politik yang gaduh khususnya pendaftaran balon kandidat yang diawali dengan pendaftaran jalur Independen.

Menurutnya ini sangat kacau dan mengucilkan partai politik. Pasalnya, di saat para calon telah mendaftar jalur Independent, para kandidat tak lagi melirik partai.

"Dahulukan pendaftaran partai, supaya mereka (kandidat) yang tidak dapat partai itu bisa daftar melalui jalur Independent," katanya.

Yang menjadi perhatian Arqam saat ini karena balon kandidat nasibnya ditentukan oleh DPP.

"Mereka tidak tahu kondisi di daerah, ini sama halnya melukai otonomi politik lokal," katanya.

Hal yang sama di ungkapkan oleh Aswar Hasan, menurutnya tidak level jika DPP ikut mencampuri pilkada daerah apalagi level Bupati.

"Biarkanlah DPD yang urus di daerah. Saya rasa yang selevel DPP itu adalah Presiden," katanya.

"Kalau begitu bagusnya harus di perjelas maharnya. Berapa pendaftaran untuk bupati berapa untuk Gubernur. Ini menjadi perhatian publik loh," katanya.

Qasim Mathar pun demikian. Dalam Pilgub nanti, ia menginginkan keterlibatan akademisi.

Keterlibatan yang ia maksud itu, yakni membantu kandidat untuk membangun misi dan visi dal program kerja.

"Boleh terlibat dalam penyusunan misi, tapi jadi jadi tim sukses. Pergi kampanye yang bukan marwah seorang akademisi," katanya.

Sementara itu, Prof Amran Razak mengatakan keterlibatan akademisi turun untuk merubah kehidupan masyarakat.

Menurutnya semua warga negara memiliki kepentingan politik. Begitupun dengan akademisi.

"Ya saya pun begitu, saya punya sahabat. Pastinya saya yakin kandidat semuanya punya misi yang terbaik. Olehnya akademisi diharapkan jangan saling mencurigai," kata Amran sembari tersenyum.

Ia menyebutkan saat ini ada guru besar sebagai calon, namun tidak menutup dia mendapatkan dukungan dari rejan sesamanya akademisi.

Selain itu, Prof Arsunan Arsin mengatakan, dalam Pilkada ini mungkin saja ada kepentingan politik kita.

"Politik sulit dilawan, mana yang lebih jekkong dia pasti bisa menang," ujarnya disambut senyum.

Ia pun menyebutkan bahwa Pilkada ini ada skenario pusat. Olehnya itu, ada kemungkinan ini akan dipaketkan dengan pemilihan presiden.

Sedangkan Ishak Ngeljeratan singkat mengatakan bahwa Pilgub ini layaknya sistem adu ayam.

Ini juga di ungkapkan oleh Muhammad Yahya. "Siapa yang berduit dan berpengaruh akan menang," katanya.

Sementara itu, Jamal bijaang mengatakan demokrasi ini tidak mensejahterahkan baik secara nasional dan lokal.

"Kita berharap bagaimana kedepan ini calo mengarah kesejahteraan. Macam macam anggaran baru tidak jelas ji," katanya

Sedangkan Amir Muhiddin mengusulkan bahwa dalam Pilkada nanti kiranya tidak ada calon memamerkan titel pendidikannya.

"Jangan mi pakai titel. Ini kode etik," katanya.