Pengembangan Kopi Kahayya Menjadi KKN Tematik Mahasiswa Unhas
Sebanyak 360 mahasiswa tiba di Kabupaten Bulukumba pada tanggal 24 Juni 2019 lalu dan akan mengabdi selama satu bulan.
TRIBUN BULUKUMBA.COM- Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kabupaten Bulukumba.
Sebanyak 360 mahasiswa tiba di Kabupaten Bulukumba pada tanggal 24 Juni 2019 lalu dan akan mengabdi selama satu bulan.
TERUNGKAP Jumlah Gaji Pebulutangkis Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon, Berikut Sumber Keuangannya
Ditinggal Sang Pemilik, Begini Nasib 17 Kuda Ustaz Arifin Ilham yang Jadi Pendapatan Keluarga
Pengelola Pusat Pengembangan KKN (P2KK) Unhas Andi Naharuddin Andi Naharuddin menyebutkan, KKN gelombang 102 ini dilaksanakan di empat kabupaten, yaitu Bulukumba, Bantaeng, Sinjai dan Bone.
Untuk di Bulukumba peserta KKN terdiri dari dua jenis yaitu KKN Reguler dan KKN Tematik. Mahasiswa KKN Reguler akan ditempatkan di Kecamatan Ujungloe dan Bulukumpa dengan jumlah peserta 280 orang.
Sedang KKN Tematik akan ditempatkan di Kecamatan Kindang dengan jumlah 80 orang sehingga totalnya 360 mahasiswa.
“ Khusus untuk KKN Tematik, mahasiswa akan konsen pada pengembangan dan pengolahan kopi Kahayya, makanya kita tempatkan di Kecamatan Kindang. Kita berharap mahasiswa akan memberikan konstribusi terhadap kopi Kahayya,” ungkapnya dalam rilis Humas Pemkab Bulukumba yang diterima Tribun, Selasa (28/5/2019).
Supervisor KKN Tematik Muh Iqbal menambahkan, pada KKN Tematik ini pihaknya mengusung tema agroforestry conservation mengingat di Kecamatan Kindang, khususnya di Desa Kahayya masih memiliki hutan lindung. Menurutnya isu ini penting agar sistem pengelolaan tanaman hutan dikombinasikan dengan pertanian secara baik.
“Hal lainnya yang menjadi perhatian adalah pengolahan pasca panen. Limbah dari kopi ini bisa kita dijadikan pakan ternak,” beber Iqbal yang merupakan dosen Fakultas Pertanian Unhas.

Terkait kedatangan mahasiswa KKN, Wakil Bupati Bulukumba Tomy berharap dapat memberikan konstribusi positif bagi desa, khususnya dalam pengembangan UMKM yang berbasis pertanian dan perkebunan.
“Sekarang ini, program KKN sebaiknya sudah fokus membantu pada hilirisasi hasil pertanian perkebunan dalam bentuk kemasan produk. Tidak lagi sekedar mengecat pembatas desa atau membuat tugu,” pinta Tomy.
Kemasan dan pemasaran dari produk di desa, lanjut Tomy penting diperkuat dan dikembangkan oleh mahasiswa KKN agar produk tersebut dapat dikenalkan dan dipasarkan secara lebih luas. (*)
Diduga Warga Palopo Tewas Dirampok, Polisi Olah TKP
Bandara Sultan hasanuddin kelak mirip Kupu-kupu