Mengapa Donor Darah Gratis Tapi yang Butuh Harus Beli? Ini Kata Deng Ical

Selain itu, hal yang menurut Deng Ical patut diapresiasi dikarenakan tidak semua perusahaaan menunjukkan selebrasinya dengan menggelar kegiatan-kegiat

Mengapa Donor Darah Gratis Tapi yang Butuh Harus Beli? Ini Kata Deng Ical
Humas Pemkot Makassar
Wakil Wali Kota Makassar menyaksikan donor darah yang digelar PT Pegadaian (Persero) dalam rangka memperingati HUT ke-118, di Aula Kanwil VI Makassar, Jl Pelita Raya, Kamis (4/4/2019). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Dalam rangka memperingati HUT ke-118, PT Pegadaian (Persero) menggelar donor darah di Aula Kanwil VI Makassar, Jl Pelita Raya, Kamis (4/4/2019).

Kegiatan sosial ink mengusung tema "Everyone Could Be a Hero Be a donor".

Wakil Wali Kota Makassar, Syamsu Rizal MI, yang juga ketua PMI Kota Makassar, dalam sambutannya mengapresiasi PT Pegadaian yang telah memberikan support kepada PMI Kota Makassar dan juga kepada Pemerintah Kota Makassar.

"Untuk PT Pegadaian, telah kami daftarkan sebagai BUMN dengan program-program inovasi, karena kemitraan Pemerintah Kota Makassar menggandeng BUMN, salah satunya PT pegadaian, yang telah memberikan support yang luar biasa," ujarnya.

Selain itu, hal yang menurut Deng Ical patut diapresiasi dikarenakan tidak semua perusahaaan menunjukkan selebrasinya dengan menggelar kegiatan-kegiatan kemanusiaan.

Di kesempatan yang sama pula, Deng Ical menyempatkan berbagi kisah seputar kegiatan PMI Kota Makassar terkait donor darah, khususnya terkait adanya biaya yang dibebankan bagi pasien saat membutuhkan darah.

“Banyak yang bertanya, mengapa kalau kita donor darah, gratis, tapi saat membutuhkan harus bayar? Hal ini dikarenakan darah yang telah didonorkan oleh para pendonor, tidak serta merta diberikan kepada pasien yang membutuhkan," lanjut Deng Ical.

Darah yang telah didonorkan harus dikelola terlebih dahulu untuk memastikan darah yang akan ditransfusi aman dan terbebas dari bibit penyakit khususnya hepatitis A, hepatitis B, Hepatitis C, virus AIDS, dan malaria.

"Proses inilah yang membutuhkan dana yang tidak sedikit, satu kantong darah membutuhkan biaya antara 450 ribu hingga 3 juta rupiah perkantong, namun PMI hanya membebankan kepada pasien sekitar 335 ribu per kantong darah," tutur Deng Ical.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, PMI kota Makassar membutuhkan anggaran sekitar Rp28 miliar pertahunnya, dengan proyeksi pendapatan hanya 12 miliar.

"Menjadi tugas pengurus, untuk mencarikan sumber dana sekitar 16 miliar rupiah untuk memenuhi kebutuhan tersebut," lanjut Deng Ical.

Deng Ical juga memberikan penghargaan kepada para pendonor yang telah mendonor lebih dari 10 kali dan 25 kali.(tribun-timur.com)

Laporan Wartawan tribun-timur.com @Fahrizal_syam

Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved