Hari Kedua Pekan Literasi Wajo, Ada Diskusi Publik Tentang Pendiri Ponpes As'adiyah Sengkang

Hari kedua Pekan Literasi Wajo berlangsung di Institut Agama Islam (IAI) As'adiyah Sengkang, Selasa (26/03/2019).

Hari Kedua Pekan Literasi Wajo, Ada Diskusi Publik Tentang Pendiri Ponpes As'adiyah Sengkang
TRIBUN TIMUR/HARDIANSYAH ABDI GUNAWAN
Diskusi Publik dengan tema 'Relevansi Corak Pemikiran AG Kh Muhammad As'ad dalam Konteks Demokrasi Masa Kini' di IAI As'adiyah Sengkang dalam rangkaian Pekan Literasi Wajo, Selasa (26/03/2019). 

TRIBUN-WAJO.COM, SENGKANG - Hari kedua Pekan Literasi Wajo berlangsung di Institut Agama Islam (IAI) As'adiyah Sengkang, Selasa (26/03/2019).

Mengusung kegiatan Diskusi Publik, dua pembicara yang dihadirkan, Abdul Waris Ahmad dan Abdul Malik membahas terkait relevansi corak pemikiran AG KH Muhammad As'ad dalam konteks demokrasi masa kini.

Abdul Waris Ahmad, yang juga merupakan imam besar Masjid Agung Ummul Qura Sengkang banyak menceritakan perjalanan keilmuan pendiri Pondok Pesantren As'adiyah tersebut.

Baca: Terasi, Oleh-Oleh Wajib Jika ke Selayar

Baca: Polres Jeneponto Amankan Motor Curian Hariadi di Sulawesi Tenggara

Baca: Pelaku Curanmor Asal Luwu Utara Diamankan Polres Tana Toraja di Rantepao

"KH As'ad atau Puang Haji Sade mempelajari semua kitab, makanya itu kita harus punya prinsip kalau orang suka menyalahkan orang, kita cuma memberikan pandagan," katanya.

Lebih lanjut, AG KH Muhammad As'ad yang diceritakan Abdul Waris Ahmad, beliau yang lahir dan besar di Mekkah, Arab Saudi memilih ke tanah Wajo lantaran bisikan kawannya.

"Cerita yang saya dapat, itu Puang Haji Ambo Emme bisiki Puang Haji Sade untuk pulang ke Wajo, katanya, kalau tidak pulang, bakalan rusak tanah Wajo," sambungnya.

Sedang, Abdul Malik lebih banyak menceritakan sikap demokratis AG KH Muhammad As'ad yang mestinya dicontoh saat ini.

"Kita tahu, Anregurutta membaca semua kitab Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i, tapi kita punya prinsip mengikuti Anregurutta," kata Ketua Bawaslu Wajo tersebut.

Prinsip yang dimaksud tersebut adalah tidak sekadar mengikuti tren yang berkembang dan melupakan prinsip yang dianut AG KH Muhammad As'ad.

"Anregurutta itukan mazhabnya Imam Syafi'i," katanya.

Olehnya, dirinya menekankan agar banyak membaca dan memiliki filter sebagai penyaring ideologi-ideologinyang menyimpang dari ajaran Islam. (TribunWajo.com)

Laporan wartawan Tribun Timur @dari_senja

Jangan Lupa Subscribe Channel Youtube Tribun Timur :

Jangan Lupa Follow akun Instagram Tribun Timur:

Penulis: Hardiansyah Abdi Gunawan
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved